Opini  

Budaya Persia dalam Samudra Pasai


Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/dawuhgur/domains/dawuhguru.co.id/public_html/wp-content/themes/wpberita/template-parts/content-single.php on line 98

Oleh: Irham Maulana T.C

Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia yang terletak di Aceh. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu atau dikenal Al-Malik Ash-Shalih pada tahun 1267 M. Malik  Ash- Shalih merupakan nama baru dari Meurah Silu Ketika beliau telah memasuki Islam dan merupakan sultan pertama di Indonesia. Sultan Malik Ash-Shalih merupakan raja pertama dari kerajaan Samudra Pasai. Dalam beberapa dokumen berasal dari abad ke-14 M dan ke-16 M, wilayah ini disebut dengan Sumuthrah, Syummathrah dan Syummuthrah.

Kota Syummuthrah yang mungkin sudah muncul sebelum pemerintahan Dinasti AshShalihiyyah ini sebenarnya berada dalam kawasan yang sering disebut oleh para ahli geografi Muslim Arab-Persia dengan Jawah atau Jabah (Javah). Ibnu Baththuthah ketika akan sampai ke kota yang disebutnya dengan Sumuthrah mengatakan bahwa ia telah dapat melihat “Pulau Jawah” (Jaziratul Jawah) dari jarak setengah hari perjalanan dan pulau itu terlihat hijau segar.

Sekalipun ahli-ahli georgrafi Arab-Persia sebelum Ibnu Baththuthah tidak pernah menyebutkan Sumuthrah, dan hanya menyebutkan Jawah, tapi nama ini tampaknya sudah tidak popular lagi pada masamasa setelah zaman Samudra Pasai. Hal ini kemudian memburamkan keberasalan bahasa Jawiy, bahkan kebudayaan Jawiy, yang berkembang dan mencapai titik kematangannya pertama sekali di kota pemerintahan dinasti Ash-Shalihiyyah atau kerajaan Samudra Pasai, yang dibuktikan dengan terdapatnya inskripsi penanggalan dengan bahasa Jawiy beraksara Arab pada beberapa batu nisan makam tinggalan sejarah Samudra Pasai abad ke-9 H/ke-15 M.

Modalitas Kebudayaan Persia ke Sumatera

Apa yang dimiliki Persia sehingga kebudayaannya dapat menyebar sampai ke Samudra Pasai di Sumatera? Intinya, barangkali, ialah karena Persia memiliki tiga wilayah geografis dengan muatan kultural yang amat penting:

Baca Juga  Gus Miftah: Terinspirasi dari Sunan Drajat

Pertama, kawasan kuno Persia (Faris) yang namanya kemudian diangkat untuk meliputi seluruh dataran tinggi Iran. Demikian yang dipahami dari penggunaan kata Faris (Persia) pada masa-masa awal Islam sebagaimana hadits yang dinukil Yaqut Al-Himawiyd dalam Buldan-nya: “Faris (Persia) dan Rum (Romawi) adalah Quraisy-nya bangsa ‘ajam (selain Arab).” Dalam hadits lain: “Orang-orang yang paling jauh dari Islam adalah Rum (orang-orang yang menghuni Romawi), dan andaikan Islam ini tersangkut di bintang soraya, sungguh akan dapat dicapai oleh Faris (orangorang yang menghuni Persia).[1]

Kawasan kuno ini adalah tempat lahirnya dinasti-dinasti yang memerintah Persia seperti Achamenia dan Sassania. Persia dalam masa pemerintahan dinasti-dinasti tersebut telah mewarisi khazanah kebudayaan dan peradaban yang bernilai, yang kemudian memberi pengaruh besar bagi kebudayaan Arab/Islam.

Kedua, Syiraz, kota terbesar di kawasan Persia. Al-Ishtakhriy menyebutkan, “Syiraz adalah kota Islam. Bukan kota lama, dan baru dibangun pada masa Islam. Dibangun oleh Muhammad bin Al-Qasim bin Abi ‘Aqil, keponakan Al-Hajjaj bin Yusuf. Dinamai dengan Syiraz karena diibaratkan seperti rongga singa. Itu dikarenakan sebagian besar hasil bumi dari wilayah-wilayah sekitarnya dibawa ke Syiraz, dan tidak lagi dibawa ke luarnya. Kota ini juga merupakan kamp tentara Islam sewaktu penaklukan Ishthakhar. Setelah pembebasan Ishthakhar, tentara Islam itu kembali ke tempat itu dan mendirikan barak tentara Faris (Persia) dan membangunnya menjadi sebuah kota. Luasnya sekitar satu mil, tidak berbenteng, bangunannya rapat dan banyak penduduk. Di situ selalu terdapat markas komando tentara Persia, di situ pula terdapat diwan-diwan Persia berikut para penguasa wilayah serta panglima-panglimanya.”[2]

Syiraz yang merupakan ibukota kawasan Persia adalah salah satu pusat kebudayaan Islam terkenal pada masa pemerintahan dinasti Buwaih di samping Baghdad dan Ray. Namun demikian, suatu hal yang berbeda dari lainnya ialah karena Syiraz sebagai pusat kegiatan budaya di kawasan Persia masih menyimpan warisan kebudayaan Sassania yang kuno. Meski bahasa Arab telah menjadi bahasa agama, pemerintahan dan pengetahuan, tapi ia tidak dapat menggantikan secara sempurna bahasa Pahlevi (Persia Pertengahan), dan selain itu, bahasa Persia modern adalah bahasa percakapan yang digunakan oleh penduduk Persia secara umum.

Baca Juga  KETIKA TEKNOLOGI MENGUBAH TRADISI

Ketiga, Teluk Persia. Sejak sejarah awalnya, Persia menduduki posisi perdagangan yang penting lantaran pelabuhan-pelabuhannya yang berada di Teluk Persia, sebuah teluk laut di Samudera India yang mengambil nama Persia karena merupakan kerajaan terpanjang dan tertua yang berada di teluk.

Di sepanjang pesisir Teluk Persia sebelah timur terdapat kota-kota antara lain Bushehr dan Siraf dan juga pulau-pulau seperti Khark dan Kish. Kawasan ini beriklim sangat panas dan sukar dilalui di musim gugur. Satu-satunya penyangga kehidupannya adalah perdagangan yang sudah mulai pesat semenjak Dinasti Sassania berhasil menarik jalur perdagangan yang menuju Constantinopel ke Teluk Persia.

Dari semua ini dapat dipahami bahwa keberadaan orang-orang Persia di jalur perdagangan bahari antara Teluk Persia dan Cina sangat besar dan penting. Banyak istilah kelautan yang kemudian popular di berbagai negeri-negeri dalam jalur perdagangan tersebut berasal dari bahasa Persia semisal bandar (dermaga), nakhudza (nakhoda), daftar (petunjuk pelayaran).[3]

 Daftar Pustaka

Hasan Maimanah, Tarikh A-Daulah Al-Buwaihiyyah, Beirut: Ad-Dar Al-Jami’iyyah, 1987, hlm. 18.

Al-Ishtahkhriy, Al-Masalik wa Al-Mamalik, Kairo: Al-Hai’ah Al-‘Ammah li Qushur Ats-Tsaqafah, 2004, hlm. 76-77

Anwar ‘Abdul ‘Alim, Al-Mallahah wa ‘Ulumul Bihar ‘indal ‘Arab, Kuwait: ‘Alam Al-Ma’rifah, 1979, hlm. 28.

[1] Hasan Maimanah, Tarikh A-Daulah Al-Buwaihiyyah, Beirut: Ad-Dar Al-Jami’iyyah, 1987, hlm. 18.

[2] Al-Ishtahkhriy, Al-Masalik wa Al-Mamalik, Kairo: Al-Hai’ah Al-‘Ammah li Qushur Ats-Tsaqafah, 2004, hlm. 76-77

[3] Anwar ‘Abdul ‘Alim, Al-Mallahah wa ‘Ulumul Bihar ‘indal ‘Arab, Kuwait: ‘Alam Al-Ma’rifah, 1979, hlm. 28.

Penulis: Irham Maulana T.CEditor: Tim Dawuh Guru

Tinggalkan Balasan