Perkembangan teknologi komunikasi di era modern telah membawa perubahan besar dalam pola interaksi manusia. Di satu sisi, gawai pintar atau handphone memberikan kemudahan akses informasi tanpa batas dan mendekatkan jarak yang jauh. Namun di sisi lain, kehadiran layar kecil ini sering kali menyedot perhatian kita secara berlebihan, bahkan hingga mengorbankan kualitas hubungan interpersonal yang sedang berlangsung di depan mata.
Sering kita jumpai dalam interaksi sehari-hari, seseorang berbicara sementara lawan bicaranya sibuk menunduk menatap layar gawai mereka. Fenomena ini tidak hanya mengurangi esensi dari komunikasi itu sendiri, melainkan juga mengikis nilai-nilai kesopanan dan penghargaan terhadap sesama manusia yang sedang berusaha menyampaikan pesan atau mencurahkan isi hatinya.
Pentingnya menjaga etika komunikasi langsung ini ditegaskan kembali melalui sebuah untaian nasihat bijak. Habib Muhammad bin Anies Shahab menyampaikan bahwa, “Diantara adab yang mulia adalah tidak mengoperasikan handphone ketika diajak berbicara dengan orang lain.” Pesan sederhana namun mendalam ini menjadi tamparan sekaligus refleksi penting bagi masyarakat modern yang sering kali mengalami ketergantungan akut pada gawai.
Secara mendasar, adab ketika diajak berbicara adalah tentang bagaimana kita memberikan kehadiran yang utuh (presence) kepada lawan bicara kita. Kehadiran utuh tersebut tidak hanya dinilai dari keberadaan fisik kita di tempat yang sama, melainkan dari fokus pikiran, arah pandangan mata, serta kesungguhan mendengarkan yang kita tunjukkan sepanjang percakapan berlangsung.
Ketika seseorang memilih untuk tetap mengoperasikan handphone saat diajak berbicara, tindakan tersebut secara tidak langsung mengirimkan sinyal bahwa pesan atau aktivitas di dalam layar handphone jauh lebih penting daripada sosok manusia yang nyata di hadapannya. Hal ini dapat menimbulkan rasa diabaikan, tidak dihargai, dan bahkan merusak keharmonisan hubungan sosial, baik dalam lingkup keluarga, persahabatan, maupun profesional.
Dalam tinjauan moral dan akhlak, mendengarkan orang lain dengan saksama merupakan bentuk penghormatan tertinggi. Menyimak dengan tulus menunjukkan kebesaran jiwa dan kematangan emosional seseorang. Sebaliknya, membagi perhatian dengan terus-menerus menyentuh layar gawai mencerminkan ketidakmampuan mengendalikan diri dari distraksi digital yang sebenarnya bisa ditunda sejenak.
Untuk menerapkan adab mulia ini, kita memerlukan kesadaran dan latihan disiplin diri yang konsisten. Salah satu langkah konkret yang bisa diambil adalah dengan membiasakan diri meletakkan handphone di dalam saku, tas, atau setidaknya membalikkan layarnya ke arah bawah di atas meja saat kita sedang memulai atau menerima obrolan dari orang lain.
Pada akhirnya, teknologi diciptakan sebagai alat bantu untuk mempermudah kehidupan manusia, bukan untuk menguasai atau merusak etika kemanusiaan kita. Menjaga adab ketika diajak berbicara dengan tidak menyentuh handphone adalah langkah nyata untuk memanusiakan manusia dan merawat kehangatan komunikasi tatap muka yang kian langka di zaman sekarang.
Foto: Unknown authorUnknown author, published by Rabithah Alawiyah · Public domain · Sumber gambar
Kutipan: “Diantara adab yang mulia adalah tidak mengoperasikan handphone ketika diajak berbicara dengan orang lain.” — Habib Muhammad bin Anies Shahab





