Engkau merawat ibumu sambil menunggu kematiannya, sementara ibumu merawatmu sambil mengharap kehidupanmu dan kebahagiaanmu." Umar bin Khattab Seringkali kita merasa sudah sangat berbakti ketika mengorbankan waktu dan tenaga untuk merawat orang tua yang mulai menua atau jatuh sakit.
Kalimat yang dinisbatkan kepada Sayyidina Umar bin Khattab tersebut membawa sebuah pesan reflektif yang sangat tajam bagi siapa pun yang membacanya. Nasihat ini seolah menampar relung hati terdalam kita yang sering kali merasa telah berbuat banyak dalam mendampingi orang tua di masa senja mereka. Ada kalanya, ketika lelah mendera fisik dan pikiran, muncul perasaan seolah tugas merawat orang tua hanyalah sebuah kewajiban menunggu waktu perpisahan itu tiba.
Padahal, jika ditarik garis perbandingan yang jujur, ketulusan antara bakti seorang anak dan kasih sayang ibu sungguh tak akan pernah seimbang. Perjuangan seorang ibu dimulai jauh sebelum kita memahami dunia, saat ia mengandung, melahirkan, hingga membesarkan kita dari bayi hingga dewasa. Dalam setiap detik proses membersamai masa kecil kita, seorang ibu mempertaruhkan segenap tenaga, pikiran, bahkan nyawanya sendiri.
Harapan yang ditaruh oleh seorang ibu kepada anaknya tidak pernah setengah-setengah. Ia selalu menaruh asa yang tak terbatas agar buah hatinya dapat tumbuh sehat, menjalani hidup dengan baik, meraih kesuksesan, serta menemukan kebahagiaan sejati. Seluruh hidupnya dicurahkan semata-mata demi melihat anaknya tersenyum dan melangkah tegap di atas jalan kehidupan.
Sebaliknya, realitas yang terjadi di kemudian hari sering kali berbanding terbalik ketika peran tersebut harus berganti posisi. Saat kita merawat ibu yang mulai jatuh sakit atau memasuki usia renta, waktu yang kita habiskan kerap dibayangi oleh situasi yang berbeda. Tanpa sadar, ragawi kita yang mendampinginya di hari tua sering kali sedang merawat bayang-bayang kepergiannya.
Kesadaran inilah yang kemudian menggetarkan jiwa setiap anak yang merenungkannya secara mendalam. Sebesar apa pun materi yang kita kumpulkan, sebanyak apa pun keringat yang kita cucurkan, dan selama apa pun waktu yang kita korbankan hari ini, semua itu tetap tidak akan pernah mampu melunasi ketulusan tanpa batas dari seorang ibu.
Pesan ini sekaligus menjadi pengingat yang sangat kuat agar kita tidak mudah merasa cukup atau sombong dengan apa yang telah diberikan kepada orang tua. Apa yang kita lakukan hari ini tidak sebanding dengan air susu, doa, dan kesabaran yang telah mereka curahkan sepanjang usia kita. Rasa lelah yang kadang muncul dalam merawat mereka seharusnya lebur oleh ingatan akan pengorbanan masa lalu.
Oleh karena itu, momentum membersamai orang tua yang masih ada di sisi kita harus dijalani dengan kesadaran penuh dan keikhlasan hati. Jangan sampai penyesalan datang terlambat ketika raga mereka sudah tidak lagi berada di dunia ini. Setiap detik kebersamaan adalah kesempatan untuk terus menanam kebaikan dan melayani mereka dengan sisa tenaga yang kita miliki.
Sebagai sesama manusia yang diingatkan oleh petuah bijak ini, penting bagi kita untuk selalu mengevaluasi diri. Sudahkah hari ini kita mendoakan kesehatan dan keselamatan mereka? Sudahkah kita memeluk tubuh yang kini kian renta itu, atau setidaknya meluangkan waktu menghubungi dan menanyakan kabar mereka?
Mari jadikan nasihat berharga ini sebagai pelecut semangat untuk terus memuliakan orang tua selagi mereka masih ada di dekat kita. Berbakti bukanlah tentang seberapa besar pengorbanan yang kita rasakan, melainkan tentang seberapa tulus kita membalas kasih sayang yang tak pernah putus. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk berbakti dengan ketulusan yang sebenar-benarnya.
Foto: Instagram · Sumber gambar
Sumber: Instagram







