Sikap dan pandangan hidup orang tua di dalam keluarga sering kali menjadi cerminan serta teladan utama bagi anak-anak mereka sehari-hari. Segala tindakan, kebiasaan, hingga cara pandang terhadap suatu nilai kebaikan akan diserap oleh anak dengan sangat cepat. Hal tersebut mencakup pula bagaimana cara orang tua memandang dan memperlakukan para ulama serta orang-orang berilmu di tengah kehidupan bermasyarakat.
Sebuah nasihat penting pernah disampaikan oleh KH Hannan Maksum berkaitan dengan harapan besar para orang tua terhadap masa depan buah hati mereka. Pesan tersebut menggarisbawahi pentingnya kecintaan orang tua kepada ilmu pengetahuan dan para pembawanya. Nasihat ini memberikan arah bahwa pendidikan anak tidak hanya dimulai dari bangku sekolah, melainkan dari ketulusan hati orang tua itu sendiri.
KH Hannan Maksum menyatakan bahwa siapa saja yang memiliki keinginan kuat agar anaknya kelak menjadi orang yang alim, maka orang tuanya harus memiliki kecintaan kepada orang alim. Kecintaan ini bukan sekadar ucapan lisan, melainkan diwujudkan melalui sikap suka mengagungkan orang alim. Penghormatan yang tulus kepada para ulama menjadi salah satu indikator kecintaan seseorang terhadap ilmu itu sendiri.
Selain menunjukkan rasa hormat, bentuk kecintaan tersebut juga dapat diekspresikan melalui pemberian sesuatu meskipun dalam jumlah yang sedikit. Pemberian ini mencerminkan kelapangan hati dan penghargaan kepada para pembawa ilmu agama. Dalam pandangan ini, ketulusan jauh lebih diutamakan daripada besar kecilnya materi yang diberikan kepada orang alim.
Namun demikian, proses pendidikan dan penanaman nilai ini tentu membutuhkan waktu serta kesabaran yang tidak sedikit bagi setiap keluarga. KH Hannan Maksum mengingatkan bahwa terkadang usaha yang dilakukan oleh orang tua masih belum langsung menampakkan hasil yang nyata pada diri anak mereka. Ketika situasi tersebut terjadi, orang tua diminta untuk tetap berlapang dada dan tidak lekas merasa putus asa dalam mendidik.
Ada kalanya buah dari ketulusan dan kebaikan yang ditanam oleh orang tua pada masa kini belum bisa langsung dinikmati dalam waktu dekat. Berdasarkan pesan tersebut, jika usaha yang dijalankan dirasa masih belum berhasil, tersimpan harapan besar untuk generasi selanjutnya. Bisa jadi, anak cucu kita kelak yang justru akan menjadi orang yang alim berkat ketulusan orang tuanya.
Pesan ini mengajarkan kepada kita bahwa ikhtiar spiritual dan pendidikan dalam keluarga memerlukan orientasi jangka panjang yang sangat sabar. Orang tua diingatkan agar tidak mudah berhenti dalam menanamkan kecintaan kepada ilmu serta para ulama di dalam rumah tangga. Konsistensi dalam memuliakan orang berilmu akan membentuk atmosfer religius yang lambat laun meresap ke dalam jiwa anak cucu.
Menghormati, mencintai, dan memuliakan orang alim pada dasarnya bukan sekadar tentang memberikan sesuatu kepada mereka secara fisik. Lebih dari itu, sikap tersebut merupakan cara nyata untuk menanamkan kecintaan yang mendalam kepada ilmu dan para ulama di dalam keluarga. Nilai-nilai luhur ini akan terus hidup apabila senantiasa dijaga oleh para orang tua melalui tindakan nyata.
Sikap orang tua terhadap para ulama pada akhirnya akan membentuk cara pandang anak-anak dalam menghargai ilmu pengetahuan sepanjang hidup mereka. Ketika anak melihat orang tua mereka memuliakan ulama, memori dan kesan mendalam akan tertanam kuat di dalam benak mereka. Hal ini membuktikan bahwa keteladanan langsung jauh lebih membekas daripada sekadar nasihat verbal semata.
Refleksi dari dawuh tersebut juga mengajak setiap keluarga untuk senantiasa mengevaluasi sejauh mana kedekatan mereka dengan majelis ilmu dan para ulama. Kedekatan ini bukan hanya soal fisik, tetapi juga keselarasan hati untuk senantiasa menghormati para pewaris para nabi. Dengan cara itulah, keberkahan ilmu diharapkan dapat menaungi kehidupan keluarga secara turun-temurun.
Proses menanamkan kecintaan kepada ilmu memang menuntut kesabaran ekstra serta ketulusan niat dari setiap orang tua di rumah. Apa yang dikerjakan hari ini, sekecil apapun bentuknya dalam memuliakan orang alim, memiliki nilai kebaikan tersendiri di sisi Allah SWT. Keyakinan inilah yang membuat para orang tua muslim senantiasa optimis dalam mendidik generasi penerus mereka.
Pada akhirnya, pesan KH Hannan Maksum ini menjadi pengingat yang sangat berharga bagi siapa saja yang merindukan keberkahan ilmu bagi keturunannya. Menghormati ulama, mencintai ilmu, serta terus berbuat baik kepada orang alim adalah jalan panjang yang mulia. Semoga setiap usaha dan doa yang dipanjatkan oleh para orang tua hari ini dapat berbuah manis bagi anak cucu di masa depan.
Foto: Instagram · Sumber gambar
Sumber: Instagram











