TERBARU

Ning Hj. Biyati Ahwarumi: Semakin Tinggi Ilmu, Rendah Hati

Pesan bijak Ning Hj. Biyati Ahwarumi mengingatkan kita bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati dalam bersikap.
10 dibaca0 dibagikan4 menit baca
Ilustrasi buku dan konten edukatif bernuansa islami
Foto: Instagram

Ilmu pengetahuan adalah salah satu anugerah terbesar yang diberikan kepada manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Melalui proses belajar dan menimba pengetahuan, seseorang dapat memperluas wawasan serta memahami berbagai hal dengan lebih baik. Namun demikian, proses pencarian ilmu ini tidak sekadar berfokus pada seberapa banyak informasi yang berhasil dikuasai oleh akal pikiran. Ada dimensi yang jauh lebih esensial dan mendalam yang harus menyertai setiap langkah perjalanan intelektual seseorang. Dimensi tersebut berkaitan erat dengan pembentukan akhlak, sikap mental, serta kepribadian luhur dalam keseharian.

Pandangan mengenai pentingnya keselarasan antara ketinggian ilmu dan kerendahan hati ini disampaikan oleh Ning Hj. Biyati Ahwarumi dalam berbagai kesempatan. Beliau mengingatkan bahwa hakikat dari proses belajar yang benar seharusnya mampu mengantarkan seseorang pada kepekaan batin yang lebih tinggi. Semakin luas wawasan dan semakin dalam ilmu yang dimiliki oleh seseorang, maka sikap lahiriah maupun batiniahnya semestinya menjadi semakin santun. Sikap rendah hati menjadi cerminan nyata dari seseorang yang benar-benar memahami luasnya samudra pengetahuan di dunia ini.

Keseharian manusia sering kali diuji ketika mereka mulai merasa memiliki kelebihan tertentu dibandingkan orang lain, termasuk dalam hal kepemilikan ilmu pengetahuan. Godaan untuk merasa lebih unggul, lebih benar, atau lebih pintar kerap kali muncul tanpa disadari seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman hidup. Padahal, jika direnungkan secara mendalam, apa yang diketahui oleh manusia hanyalah setetes air di lautan luas apabila dibandingkan dengan keluasan ilmu yang dimiliki oleh Sang Pencipta alam semesta. Kesadaran sem inilah yang ditekankan oleh Ning Hj. Biyati Ahwarumi agar setiap pencari ilmu senantiasa mawas diri.

Sifat rendah hati bukanlah sebuah kelemahan atau tanda kurangnya rasa percaya diri di hadapan orang lain. Sebaliknya, sikap tersebut merupakan wujud dari kematangan jiwa serta ketinggian martabat seseorang yang telah mampu menguasai egonya sendiri. Orang yang benar-benar berilmu tidak akan merasa perlu untuk menyombongkan apa yang telah dipelajarinya kepada khalayak ramai. Mereka justru akan lebih banyak mendengarkan, menghargai pandangan orang lain, serta menempatkan diri secara bijaksana di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat yang majemuk.

Pesan yang disampaikan oleh Ning Hj. Biyati Ahwarumi ini menjadi sebuah refleksi yang amat penting bagi siapa saja yang sedang berproses dalam menuntut ilmu. Baik bagi mereka yang sedang mengenyam pendidikan formal di lembaga-lembaga tertentu maupun mereka yang belajar secara mandiri dari pengalaman hidup sehari-hari. Ilmu yang bermanfaat tidak akan tumbuh subur di atas tanah kesombongan dan keakuan yang tinggi. Oleh karena itu, pembersihan hati dari sifat-sifat tercela harus berjalan seiring dengan upaya pengisian akal pikiran dengan berbagai pengetahuan yang berguna.

Banyak orang keliru mengartikan pencapaian akademis atau penguasaan suatu bidang sebagai ukuran mutlak kemuliaan seseorang di hadapan sesama. Padahal, kemuliaan yang sejati lahir dari bagaimana seseorang memperlakukan orang lain dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang. Ketika seseorang memiliki ilmu yang tinggi tetapi diiringi dengan kerendahan hati, maka keberadaan orang tersebut akan menjadi penyejuk bagi lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, ilmu yang tidak dibarengi dengan kerendahan hati justru berpotensi melahirkan perpecahan dan rasa sakit hati bagi orang-orang di sekitarnya.

Refleksi mendalam ini mengajak setiap individu untuk senantiasa mengevaluasi niat awal mereka ketika mulai mempelajari suatu disiplin ilmu tertentu. Apakah proses belajar tersebut diniatkan untuk mendekatkan diri kepada kebaikan dan memberikan manfaat bagi sesama, ataukah sekadar untuk mencari pengakuan semata. Dengan meluruskan niat dan merawat kerendahan hati, seseorang akan mampu menjaga integritas dirinya di tengah dinamika kehidupan yang terus berubah. Pesan dari Ning Hj. Biyati Ahwarumi ini menegaskan bahwa kebijaksanaan sejati selalu berjalan berdampingan dengan ketulusan jiwa.

Pentingnya menjaga sikap rendah hati juga relevan dalam membangun komunikasi yang harmonis antarsesama anggota masyarakat. Sering kali perdebatan yang tidak perlu terjadi di ruang publik hanya karena masing-masing pihak merasa paling benar dan enggan mengalah. Jika setiap orang menyadari bahwa ilmu yang mereka miliki sangatlah terbatas, maka suasana dialog yang sehat akan lebih mudah terwujud. Sikap saling menghargai akan tumbuh subur dan menciptakan kedamaian yang dirasakan oleh banyak pihak dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pengingat yang disampaikan oleh Ning Hj. Biyati Ahwarumi, masyarakat diajak untuk kembali merenungkan esensi dari sebuah proses pembelajaran yang utuh. Bahwa kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual harus senantiasa berjalan beriringan tanpa saling menafikan satu sama lain. Keduanya merupakan fondasi penting dalam membentuk manusia yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga luhur dalam budi pekerti serta bijaksana dalam mengambil setiap keputusan penting di dalam kehidupannya.

Pada akhirnya, perjalanan menuntut ilmu adalah sebuah proses seumur hidup yang tidak pernah benar-benar selesai dilakukan oleh manusia. Selama masih ada hari esok, selalu ada hal baru yang dapat dipelajari, direnungkan, dan diambil hikmahnya dari setiap peristiwa yang terjadi. Mari terus melangkah dalam proses belajar ini dengan senantiasa merawat ketulusan hati serta menjauhkan diri dari segala bentuk kesombongan. Semoga pesan bijak dari Ning Hj. Biyati Ahwarumi ini terus menginspirasi kita semua untuk menjadi pribadi yang senantiasa rendah hati di mana pun berada.

Foto: Instagram · Sumber gambar

Sumber: Instagram