Prof Dr KH Abdul Ghofur menyampaikan sebuah pesan penting mengenai pentingnya menjaga lisan dan sikap terhadap sesama manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali tergoda untuk menilai rendah orang lain berdasarkan penampilan luar atau masa lalu mereka. Padahal, ukuran kemuliaan seseorang di sisi Sang Pencipta bukanlah sesuatu yang bisa diukur dengan kasat mata oleh sesama makhluk.
Pesan utama yang disampaikan oleh Prof Dr KH Abdul Ghofur adalah ajakan agar setiap individu tidak suka menghina orang lain. Sikap merendahkan sesama sering kali timbul dari rasa bangga diri atau merasa lebih baik daripada orang lain. Padahal, sifat sombong dan suka mencela adalah akhlak tercela yang sangat dibenci dalam ajaran Islam.
Lebih lanjut, beliau mengingatkan bahwa semua orang memiliki potensi yang sama di hadapan Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti bagaimana akhir kehidupan seseorang atau khusnul khatimah miliknya. Oleh karena itu, menghina seseorang sama saja dengan meremehkan potensi hamba tersebut di masa depan.
Dalam pandangan tasawuf dan akhlak, seseorang yang tampak biasa saja atau bahkan dipandang sebelah mata oleh masyarakat bisa jadi memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Kedekatan seseorang kepada Allah sering kali disembunyikan dari penglihatan publik. Hal inilah yang mendasari pentingnya menjaga prasangka baik kepada siapa pun.
Pernyataan dari Prof Dr KH Abdul Ghofur ini sekaligus menjadi cerminan bagi kita semua untuk senantiasa instrospeksi diri. Alih-alih menghabiskan energi untuk mencari-cari keburukan atau mencela orang lain, waktu akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk memperbaiki kualitas ibadah pribadi. Setiap manusia memiliki lembaran perjalanan hidupnya masing-masing.
Potensi untuk menjadi kekasih Allah atau Wali Allah terbuka bagi siapa saja yang mau bertaubat dan mendekatkan diri kepada-Nya. Hidayah adalah hak prerogatif Allah SWT yang dapat diberikan kepada hamba-kehendak-Nya tanpa memandang latar belakang masa lalu. Orang yang hari ini dianggap jauh dari agama, esok hari bisa jadi adalah seorang hamba yang sangat taat.
Sikap bijak yang diajarkan oleh Prof Dr KH Abdul Ghofur mengajarkan kita untuk senantiasa merendahkan hati. Kesadaran bahwa diri kita sendiri penuh dengan kekurangan akan menghindarkan lidah dari perkataan yang menyakiti hati orang lain. Menjaga lisan adalah bagian dari kesempurnaan iman seseorang.
Ajaran ini sangat relevan dengan realitas sosial saat ini di mana media sosial sering menjadi arena bebas untuk saling menghujat. Banyak orang dengan mudahnya memberikan komentar negatif tanpa memikirkan dampak psikologis maupun spiritual dari kata-kata yang mereka ketik. Padahal, setiap ucapan dan tulisan akan dimintai pertanggungjawaban.
Melalui nasihat yang disampaikan oleh Prof Dr KH Abdul Ghofur, masyarakat diingatkan kembali untuk menebar kedamaian dan kasih sayang. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kehormatan kemanusiaan. Mencela, menghina, dan merendahkan sesama manusia adalah perbuatan yang merusak tatanan persaudaraan.
Mari kita renungkan kembali makna mendalam dari setiap patah kata yang disampaikan oleh Prof Dr KH Abdul Ghofur dalam pesan kebijaksanaannya. Semoga kita semua tergolong sebagai hamba-hamba yang mampu menjaga lisan, menghormati sesama, dan senantiasa berada dalam ridha Allah SWT hingga akhir hayat.
Foto: Instagram · Sumber gambar
Sumber: Instagram





