TERBARU
Quote

Gus Baha: Mengapa Mencari Ketenangan Tanpa Masalah di Dunia Adalah Mustahil

Gus Baha mengingatkan bahwa mencari ketenangan mutlak tanpa masalah di dunia adalah hal yang mustahil, sebab dunia dirancang sebagai tempat ujian.
14 dibaca0 dibagikan5 menit baca
Ilustrasi kutipan dawuh ulama tentang kebahagiaan sederhana
Foto: Imam Nawawi; Hamzah Sahal · CC0

Kehidupan modern sering kali menuntut manusia untuk terus bergerak cepat, menyelesaikan berbagai persoalan, dan menghadapi tekanan yang tiada habisnya. Dalam kondisi lelah seperti itu, tidak jarang kita memimpikan sebuah kehidupan yang berjalan tanpa hambatan, tanpa masalah, tanpa ujian, dan tanpa beban sedikit pun. Kita terus-menerus mencari pelarian, mendambakan tempat yang steril dari hiruk-pikuk keduniawian demi meraih apa yang kita sebut sebagai ketenangan sejati. Namun, benarkah ketenangan mutlak semacam itu bisa kita temukan di dunia ini?

Sebuah nasihat mendalam dari ulama terkemuka, Gus Baha’, memberikan tamparan lembut sekaligus teguran yang sangat halus atas ekspektasi kita yang sering kali keliru. Beliau pernah menyampaikan sebuah pesan yang sangat menggugah kesadaran kita: “Ketenangan seperti apa yang kau cari, jika orang mati saja masih didoakan agar tenang.” Kalimat sederhana ini mengandung makna teologis dan filosofis yang sangat dalam tentang hakikat kehidupan manusia di dunia.

Melalui kutipan tersebut, kita diajak untuk merenungkan kembali standar ketenangan yang selama ini kita kejar secara membabi buta. Kita sering kali merasa menjadi orang yang paling menderita ketika ditimpa satu atau dua persoalan hidup, seolah-olah dunia harus selalu ramah dan sesuai dengan keinginan kita. Padahal, jika kita bersedia menoleh sejenak pada realitas spiritual, ketenangan mutlak yang sepenuhnya bersih dari dinamika dan ujian memang tidak pernah disediakan di alam semesta yang fana ini.

Pernyataan bahwa orang yang sudah wafat pun masih membutuhkan doa agar diberikan ketenangan merupakan poin refleksi yang sangat menarik. Mereka yang sudah meninggal dunia secara fisik telah terbebas dari segala bentuk kewajiban, rutinitas pekerjaan, tagihan bulanan, perselisihan sosial, dan seluruh hiruk-pikuk urusan duniawi yang melelahkan. Secara lahiriah, mereka sudah tidak lagi berinteraksi dengan masalah dunia, namun secara spiritual, mereka tetap membutuhkan kiriman doa dari kita yang masih hidup agar dilapangkan dan ditenangkan di alam sana.

Jika mereka yang sudah berpulang dan tidak lagi memikul beban dunia saja masih terus kita doakan agar memperoleh ketenangan, lalu bagaimana mungkin kita yang masih hidup mengharapkan kedamaian yang sepenuhnya bersih dari masalah? Kita yang masih bernapas, yang kakinya masih melangkah di atas bumi, dan yang setiap harinya harus berinteraksi dengan sesama manusia, tentu tidak akan pernah bisa lepas dari gesekan-gesekan kehidupan. Berharap hidup tanpa masalah di dunia adalah sebuah bentuk kesalahpahaman terhadap fungsi dasar dari penciptaan dunia itu sendiri.

Sejak awal mula diciptakan, Allah SWT memang mendesain dunia ini bukan sebagai tempat tinggal yang abadi tanpa cela, melainkan sebagai tempat ujian dan ajang perjuangan. Setiap jengkal tanah yang kita pijak dan setiap detik waktu yang kita lalui adalah panggung untuk menguji keimanan, kesabaran, dan keteguhan hati kita. Oleh karena itu, mengharapkan dunia yang sepenuhnya tenang dan damai tanpa adanya badai ujian sama saja dengan menuntut dunia keluar dari kodrat aslinya.

Kesadaran akan hakikat dunia ini seharusnya mengubah cara pandang kita dalam mendefinisikan apa itu ketenangan. Ketenangan sejati di dunia ternyata bukanlah sebuah kondisi di mana hidup kita benar-benar bersih dari masalah atau steril dari kesulitan. Ketenangan yang sesungguhnya adalah ketika hati kita mampu merasa ridha dan tetap bersandar sepenuhnya kepada Allah dalam setiap keadaan yang datang silih berganti, baik dalam suka maupun duka.

Ketika seseorang memiliki hati yang selalu bersandar kepada Sang Pencipta, maka badai sebesar apa pun yang datang menghantam hidupnya tidak akan mampu meruntuhkan kedamaian batinnya. Masalah boleh saja datang bertubi-tubi, tantangan pekerjaan mungkin terasa sangat berat, dan ujian keluarga bisa saja menguras air mata. Namun, di dalam rongga dada orang yang ridha, terdapat sebuah ruang kedamaian yang kokoh karena ia tahu bahwa segala sesuatu berjalan di bawah kendali dan kasih sayang Allah.

Sebaliknya, jika kita terus mencari kesempurnaan dunia yang tidak akan pernah ada ujungnya, kita hanya akan berakhir dalam lingkaran kelelahan yang tidak berkesudahan. Kita akan terus merasa kecewa setiap kali realitas hidup tidak berjalan sesuai dengan rencana kita. Keinginan untuk mengontrol segala hal dan menyingkirkan semua kerikil tajam di jalan hidup adalah usaha yang sia-sia, karena dunia ini memang tidak dirancang untuk memuaskan seluruh keinginan ego manusia.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mulai belajar berhenti mengejar fatamorgana kesempurnaan duniawi. Kita perlu menurunkan ekspektasi kita terhadap dunia dan menaikkan tingkat kepasrahan kita kepada ketentuan Allah. Hal ini bukan berarti kita harus bersikap pasif, menyerah pada keadaan, atau bermalas-malasan tanpa melakukan apa-apa. Sebaliknya, kita tetap diwajibkan untuk terus berikhtiar dengan sebaik-baiknya kemampuan yang kita miliki.

Jalanilah hari-hari yang dianugerahkan kepada kita dengan penuh kesabaran dan keikhlasan yang tulus. Belajarlah untuk menikmati setiap proses perjuangan yang sedang kita lalui, lengkap dengan segala lelah dan letihnya. Kita harus menyadari dengan sepenuh hati bahwa dunia ini memang tempatnya untuk berlelah-lelah dalam berbuat kebaikan, beribadah, dan bekerja mencari nafkah yang halal, bukan tempat untuk beristirahat dengan tenang tanpa batas.

Istirahat yang sesungguhnya baru akan kita rasakan kelak ketika kita sudah menyelesaikan seluruh tugas kita di dunia ini dengan husnul khatimah. Sebelum saat itu tiba, setiap kelelahan yang kita rasakan dalam ketaatan dan kesabaran akan bernilai pahala yang sangat besar di sisi Allah. Dengan memahami prinsip dasar ini, setiap beban hidup yang kita pikul tidak akan lagi terasa sebagai siksaan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan pulang yang penuh makna.

Melalui pesan mendalam dari Gus Baha’ ini, kita diingatkan kembali untuk senantiasa melapangkan dada dan menguatkan tekad dalam menghadapi sisa perjalanan hidup. Jangan biarkan rasa lelah membuat kita putus asa atau mudah menyerah dalam berjuang. Ketika pikiran sedang penuh dan hati terasa sesak oleh urusan duniawi, kembalikanlah segalanya kepada Allah, carilah ketenangan dalam sujud-sujud kita, dan biarkan jiwa kita beristirahat dalam dekapan takdir-Nya yang selalu baik.

Foto: Imam Nawawi; Hamzah Sahal · CC0 · Sumber gambar

Sumber: Instagram