Sering kali kita merasa bangga karena memiliki banyak teman, dikagumi, atau dihormati oleh lingkungan sekitar. Kita kerap mengira bahwa apresiasi tersebut murni datang karena kebaikan, kecerdasan, atau kehebatan karakter kita di hadapan sesama manusia.
Namun, ulama ahli tafsir Al-Qur’an asal Rembang, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha, memberikan sebuah teguran penting. Nasihat tersebut seolah seketika meruntuhkan kesombongan batin yang kerap bersemayam di dalam diri manusia.
Beliau berpesan dengan kalimat yang sangat menampar batin setiap orang yang mendengarnya. Selama ini, orang-orang yang bersamamu menjaga pertemanan karena aibmu tidak diketahuinya secara nyata.
Hanya Allah Yang Maha Mengetahui segala aib-aibmu dan tetap mengakui bahwa kamu adalah hamba-Nya. Pesan ini secara mendalam menyingkap hakikat pujian serta kehormatan yang kerap kita terima di mata manusia.
Sejatinya, orang-orang masih mau duduk bersama, berteman, dan memuji kita semata-mata karena Allah. Sifat Al-Sattar, yakni Yang Maha Menutupi, sedang bekerja menyembunyikan keburukan, dosa masa lalu, serta pikiran-pikiran kotor kita dari pandangan mereka.
Andai saja Allah menampakkan wujud asli dari dosa-dosa yang pernah kita perbuat, niscaya orang yang paling dekat sekalipun akan bergegas menjauh. Tidak seorang pun dari mereka sanggup bertahan di dekat kita jika wujud asli dosa itu tampak.
Luar biasanya, di saat manusia akan meninggalkan kita jika tahu aib kita, Allah justru bersikap sebaliknya. Tuhan yang mengetahui setiap detail kebusukan dan dosa rahasia kita sama sekali tidak pernah membuang kita begitu saja.
Dia tetap menurunkan rezeki-Nya setiap hari, memberikan napas setiap pagi tanpa pernah putus, serta membuka pintu taubat lebar-lebar. Allah senantiasa menanti kita kembali sebagai hamba-Nya yang taat.
Kesadaran yang mendalam ini seharusnya mutlak mematikan rasa sombong ketika kita sedang dipuji oleh manusia. Tidak ada alasan sedikit pun bagi seorang hamba untuk merasa tinggi hati atas pencapaian sosialnya.
Sebab, apa yang tampak di mata masyarakat hanyalah sebuah citra baik yang terjaga berkat pertolongan Tuhan. Di balik pujian itu, terdapat tirai rahasia ilahi yang menutupi segala noda hitam kemanusiaan kita.
Oleh karena itu, refleksi ini mengajak setiap individu untuk senantiasa mengevaluasi diri agar tidak mudah melayang atau terbuai. Pujian manusia tidak lain adalah ujian keimanan dalam menyikapi kerendahan hati.
Dengan memahami hakikat penutupan aib ini, kita diharapkan mampu menjaga batin dari sifat takabur. Kesadaran bahwa diri kita terlihat baik hanya karena tutupan Allah akan melahirkan ketulusan dalam beribadah dan berinteraksi sosial.
Foto: Najwa Shihab · CC BY 3.0 · Sumber gambar
Sumber: Instagram





