Banyak orang mengira perjuangan seorang penghafal Al-Qur’an selesai ketika berhasil menuntaskan hafalan 30 juz. Padahal, para penghafal Al-Qur’an tahu bahwa titik paling berat justru dimulai setelahnya. Sebab menghafal adalah satu perkara, sementara menjaga hafalan agar tetap kuat sepanjang waktu adalah perkara yang berbeda.
Kisah itu dapat kita lihat dari perjalanan Atmim Nurona, santri asal Bojonegoro yang tumbuh dalam keluarga sederhana yang mencintai Al-Qur’an. Ayah dan ibunya merupakan guru madrasah yang sejak kecil menanamkan kecintaan kepada ilmu dan kalam Allah. Dari lingkungan keluarga itulah tumbuh cita-cita untuk menjadi penjaga Al-Qur’an.
Pada tahun 2022, Atmim berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz. Bagi sebagian orang, itu adalah garis finis. Namun bagi seorang hafidz, khatam hafalan hanyalah awal dari perjalanan yang lebih panjang. Sebab Al-Qur’an yang sudah dihafal harus terus dijaga agar tidak perlahan hilang dari ingatan.
Di tengah kesibukan sebagai santri dan mahasiswa, ia terus berusaha menjaga hafalannya dengan muroja’ah. Tidak ada panggung, tidak ada sorotan, dan tidak ada tepuk tangan. Hanya rutinitas yang terus diulang setiap hari. Kadang sebelum tidur, kadang sambil menunggu pengajian dimulai, dan kadang di sela-sela aktivitas yang padat. Sedikit demi sedikit, hafalan itu terus dirawat.
Bertahun-tahun menjaga hafalan akhirnya menumbuhkan satu keinginan dalam dirinya. Ia ingin mempersembahkan hafalan tersebut dalam tasmi’ 30 juz. Dengan penuh harap, ia sowan kepada Ibu Nyai Nur Fadhilah untuk menyampaikan niat tersebut. Sebuah permintaan yang sederhana, tetapi lahir dari proses panjang yang tidak sederhana.
Hari yang ditunggu pun tiba. Dengan izin Allah, tasmi’ 30 juz berhasil diselesaikan dengan lancar dalam satu hari. Sebuah pencapaian yang menjadi bukti bahwa hafalan itu benar-benar dijaga dengan penuh kesungguhan.
Namun ada kejutan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Setelah tasmi’ selesai, Gus Anas memanggilnya ke depan. Di hadapan banyak orang, beliau mendapatkan hadiah umroh sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan menjaga hafalan Al-Qur’an.
Momen itu tentu membahagiakan. Tetapi sesungguhnya yang paling mengharukan bukanlah hadiah umrohnya. Yang paling mengharukan adalah perjalanan panjang yang mengantarkannya ke sana. Perjalanan yang dipenuhi kesabaran, kedisiplinan, dan istiqomah yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Kisah Atmim mengajarkan kepada kita bahwa menghafal Al-Qur’an mungkin bisa dilakukan oleh banyak orang, tetapi menjaga hafalan hingga tetap hidup dalam hati dan ingatan membutuhkan perjuangan yang luar biasa. Dibutuhkan cinta yang tulus kepada Al-Qur’an, kesabaran yang panjang, dan komitmen yang terus dijaga setiap hari.
Di Pesantren Sunan Drajat, para santri tidak hanya didorong untuk menghafal Al-Qur’an. Mereka juga dibimbing untuk mencintai, menjaga, dan membersamai Al-Qur’an sepanjang hidup mereka. Karena tujuan akhirnya bukan sekadar menjadi hafidz, melainkan menjadi pribadi yang hidup bersama Al-Qur’an dalam setiap langkah kehidupannya.
📝 Pendaftaran Santri Baru Masih Dibuka
🔗 Link Pendaftaran: https://daftar.ppsd.id
📄 Link Brosur Lembaga: https://drive.google.com/drive/folders/1jLtoG8X-38ujg8ONAb1JYqt8NaXjNCeV?usp=sharing
☎️ Call Center: 0851 2266 1977
🌐 Media Sosial Kami
Instagram: @ppsunandrajat
TikTok: @ppsunandrajat
Facebook: @ppsunandrajat
YouTube: @ppsunandrajat
Website: ppsd.id
Saluran WA: https://link.ppsd.id/@saluran


