Belakangan ini media sosial ramai dengan keluhan sebagian guru honorer yang membandingkan kesejahteraan mereka dengan pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ada yang merasa beban tugas guru jauh lebih besar, masa pengabdian lebih panjang, tetapi penghasilan yang diterima belum sesuai harapan.

Perdebatan itu memunculkan banyak pendapat. Sebagian membela guru honorer. Sebagian lagi menjelaskan bahwa pegawai MBG memiliki sistem, tugas, dan sumber anggaran yang berbeda. Namun di tengah ramainya perdebatan tersebut, ada sebuah kisah menarik dari dunia pendidikan yang mungkin layak menjadi bahan renungan bersama.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur, terdapat program penghargaan yang tidak biasa. Setiap bulan, dua guru atau tenaga kependidikan terbaik mendapatkan hadiah umroh ke Tanah Suci. Program ini bukan berlangsung sekali atau dua kali, melainkan menjadi bagian dari budaya penghargaan terhadap guru yang telah menunjukkan dedikasi dan kinerja terbaik.

Kisah ini menarik bukan karena hadiah umrohnya semata. Yang lebih penting adalah bagaimana penghargaan itu bisa diwujudkan. Pesantren Sunan Drajat dikenal sebagai salah satu pesantren yang memiliki kemandirian ekonomi melalui berbagai unit usaha yang berkembang selama puluhan tahun. Dari hasil usaha itulah lahir kemampuan untuk membiayai pendidikan, mengembangkan lembaga, dan memberikan penghargaan kepada para guru.

Hal ini menunjukkan bahwa kesejahteraan guru tidak selalu harus menunggu kebijakan dari luar. Ada lembaga yang memilih membangun kekuatannya sendiri, mengembangkan usaha, menciptakan sumber pendapatan, lalu mengembalikan manfaatnya kepada para pendidik.

Tentu tidak semua sekolah atau pesantren memiliki kemampuan seperti Sunan Drajat. Membangun kemandirian ekonomi membutuhkan waktu panjang, kerja keras, dan kepemimpinan yang visioner. Namun kisah ini membuktikan bahwa ketika sebuah lembaga pendidikan berhasil membangun fondasi ekonominya, guru dapat memperoleh penghargaan yang lebih layak.

Karena itu, mungkin yang perlu menjadi perhatian kita bukan sekadar membandingkan profesi yang satu dengan profesi yang lain. Bukan hanya memperdebatkan siapa yang lebih berhak mendapatkan kesejahteraan. Tetapi juga memikirkan bagaimana sekolah, madrasah, dan pesantren dapat menjadi lembaga yang kuat, mandiri, dan mampu memuliakan para gurunya.

Pada akhirnya, bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan guru yang hebat. Bangsa ini juga membutuhkan lembaga pendidikan yang mampu menghargai pengabdian mereka secara nyata. Dan di saat sebagian orang masih sibuk memperdebatkan perbedaan nasib antara guru honorer dan pegawai MBG, Pesantren Sunan Drajat memilih menunjukkan jawabannya melalui tindakan: memberangkatkan dua guru terbaiknya ke Baitullah setiap bulan.

Sebab memuliakan guru tidak selalu dimulai dari pidato. Kadang ia dimulai dari keberanian membangun kemandirian, lalu menjadikan guru sebagai pihak pertama yang menikmati hasilnya.

📝 Pendaftaran Santri Baru Masih Dibuka
🔗 Link Pendaftaran: https://daftar.ppsd.id
📄 Link Brosur Lembaga: https://drive.google.com/drive/folders/1jLtoG8X-38ujg8ONAb1JYqt8NaXjNCeV?usp=sharing
☎️ Call Center: 0851 2266 1977

🌐 Media Sosial Kami
Instagram: @ppsunandrajat
TikTok: @ppsunandrajat
Facebook: @ppsunandrajat
YouTube: @ppsunandrajat
Website: ppsd.id
Saluran WA: https://link.ppsd.id/@saluran