Opini  

Qasidah Hati Imam Bushiri


Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/dawuhgur/domains/dawuhguru.co.id/public_html/wp-content/themes/wpberita/template-parts/content-single.php on line 98
Perihal Nafsu dalam Qasidah Burdah
فَإِنّ أَمّارَتِ بِالسّـوءِ مَا اتّعَظَتْ        ۞     مِنْ جَهْلِهَا بِنَذِيرِ الشّيْبِ وَالَهَرَمِ
Sungguh, nafsu dan amarahku tak melulu menerima nasihat
Sedangkan uban di kepala serta ketidakberdayaan tubuh karena telah renta sudah memberikan tanda
Jika dipreteli lagi terjemahannya seperti ini :
فإن أمارتي بالسوءِ ما اتعظت
من جهلها بنذير الشيب والهـرم
Sesungguhnya nafsu amarohku (yang mengajak) pada keburukan tidak (mampu/mau) menerima nasihat # karena (sebab) ketidaktahuannya (jahil/bodoh) akan peringatan (dari) uban dan pikun (renta).
Bait di atas adalah salah satu bait dari Qasidah Burdah Imam Bushiri yang berisikan 160 bait. Qasidah kesukaan Bunyai saya, Ibu Muhassonah Iskandar yang selalu dibaca mana kala beliau memiliki hajat tertentu. Memuji Rasulullah,. melantunkan qasidah indah ini bersama-sama santri dan mengharapkan syafaat kanjeng Nabi.
Qasidah Burdah ini juga kesukaan Bapak saya, yang terbiasa mendengar Mbah Kyai Bishri membacanya menumbuhkan rasa yang dalam di hati beliau. Inilah namanya suri tauladan yang tidak diceramahkan, dengan tindakan, tentu saja.
Ketika membuat qasidah ini, Imam Bushiri dikabarkan tidak lepas dari wudlu.
Dahsyatnya, Qasidah Burdah dibuat dengan kesucian hati pengarangnya, mengambil petuah dan teladan ajaran Rasulullah lalu dituliskannya dalam Qasidah yang indah.
Imam al-Bushiri memiliki nama lengkap Muhammad bin Sa’id bin Himad bin Abdullah ash-Shanhaji al-Bushiri al-Mishri. Lahir di desa Dalas, yang berada di dataran tinggi Mesir pada 609 H. Imam Bushiri menjadi salah satu ulama’ yang disegani ketika dewasa. Sebutan al-Bushiri menunjuk pada desa Bushir di Mesir, tempat Imam Bushiri tinggal.
Imam Al-Bushiri wafat pada tahun 696 H, ketika berumur 87 tahun dan dimakamkan di dekat makam Syaikh Abil ‘Abbas al-Mursi di kota Iskandaria, Mesir.
Imam Bushiri memiliki banyak guru yang alim dan mumpuni dalam keilmuan serta agama, gurunya adalah Syekh Abul ‘Abbas al-Mursi,  yang dikenal sebagai murid kesayangan Imam Abu Hasan as-Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyah.
Kembali kepada pembahasan moral di atas yang sesuai dengan bait dalam Qasidah Burdah-nya, ada beberapa pengajaran yang bisa diambil.
Bait di atas ditulis Imam Bushiri manakala beliau teringat bahwa manusia mendapatkan ujian yang sebenarnya bukan dari pihak luar diri mereka, melainkan dari hawa nafsu sendiri yang akan membawa kesesatan di dalam hati.
Masih dalam bait yang sama, nafsu digambarkan oleh Syekh Imam Bushiri tidak lekang usia, tidak memandang umur. Bahkan nafsu itu seringkali tidak berhenti meminta pemuasan meskipun tubuh telah renta, uban memenuhi kepala dan tenaga muda sirna, tetapi nafsu tetap ada.
Nafsu dan amarah dalam diri manusia seringkali egois dan tidak menerima sanggahan. Mereka melenakan manusia dengan prasangka bahwa setelah nafsu itu dipenuhi maka akan selesai sebuah tuntutan dalam jiwa. Padahal, mereka bebal, tidak mau menerima nasihat dari mata hati.
Selain nafsu amarah (امارة) ada juga nafsu lawwamah dan nafsu muthmainnah. Namun dalam bait diatas hanya dibahas nafsul amarah. Sebagaimana dalam qaul امارتي itu mengandung pengertian اتحاد الآمر والمأمور melaksanakan perintah tanpa bisa mengelak atau menolak.
Sungguh, dengan Qasidahnya, Imam Bushiri meminta kita untuk senantiasa mengontrol nafsu, melembutkan hati kita dengan salawat, memuji Rasulullah, karena hanya dengan bersalawat kepada Rasulullah, meminta dengan tulus kepada Allah, nafsu bebal manusia akan berhenti menggerogoti jiwa yang dapat membawa kepada kedengkian.
Na’uzubillah min dzalik dari nafsu yang menggerogoti hati.
Mambaul Athiyah
Penulis, Penyuka Sastra, Alumnus Sastra Arab.
Baca Juga  Perlunya Berpikir Menggunakan Logika dalam Kehidupan Sehari-hari

Tinggalkan Balasan