Ada satu kalimat yang terdengar masuk akal sekaligus bikin orang dewasa mendadak batuk kecil: kualitas anak tergantung kualitas orang tua. Pendek, padat, dan kalau dipikir-pikir, agak menampar.

Soalnya, selama ini kita lebih rajin mengomentari anak. Anak sekarang dibilang kurang sopan, kurang tangguh, kurang mandiri, kurang tahan banting. Pokoknya kurang ini-itu. Jarang sekali kita berhenti sebentar dan bertanya: orang tuanya sedang dalam kondisi apa?

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kata “kualitas” sendiri sebenarnya ambigu. Apakah maksudnya pintar? Sopan? Tahan emosi? Atau sekadar tidak tantrum di tempat umum? Karena kalau ukuran kualitas itu stabil emosi, sejujurnya banyak orang dewasa juga belum lulus ujian dasar.

Lucunya, kita menuntut anak sabar, tapi orang tuanya gampang meledak. Kita berharap anak jujur, tapi orang dewasa di sekitarnya terbiasa berdalih. Kita ingin anak tumbuh tenang, sementara rumah sering jadi tempat pelampiasan lelah yang tidak sempat diselesaikan.

Anak memang peniru ulung. Bukan peniru nasihat, tapi peniru kebiasaan. Mereka menyerap cara bicara, cara marah, cara merespons masalah—bahkan cara orang tua diam-diam mengeluh tentang hidup.

Maka ketika ada anak yang tumbuh “tidak sesuai harapan”, mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya metode mendidik, tapi juga kondisi orang tua itu sendiri. Apakah sedang sehat secara mental? Apakah punya ruang untuk istirahat? Atau sekadar bertahan hidup sambil berharap semuanya baik-baik saja?

Kualitas anak memang berkaitan dengan kualitas orang tua. Tapi kualitas orang tua juga dipengaruhi banyak hal: tekanan hidup, ekonomi, relasi, dan luka yang belum selesai. Ini bukan soal menyalahkan, tapi soal menyadari.

Barangkali yang lebih realistis bukan mengejar anak berkualitas tinggi, melainkan orang tua yang mau terus memperbaiki diri—meski pelan, meski sering salah, dan meski tidak pernah benar-benar siap.

Karena anak tidak butuh orang tua sempurna. Mereka hanya butuh orang dewasa yang mau belajar jadi manusia yang lebih waras dari hari ke hari.

Dan itu, meskipun tidak terdengar keren, mungkin sudah cukup berkualitas.

Oleh: Aulia Azhara