Konsep I’jaz dalam Perspektif Ilmu Qur’an

Konsep I’jaz dalam Perspektif Ilmu Qur’an - dawuh guru
Gambar: Gramedia

Oleh: Uswatun Khasanah

Nabi Muhammad tidak bisa membaca atau menulis. Al-Qur’an sebagai mukjizat yang diturunkan berada di balik keagungan ini. Jika seorang nabi yang pandai membaca menurunkan Al-Qur’an, orang yang mendengarkan wahyu akan kagum “benar mereka pintar membaca”. Tidak ada yang unik. Karena penerima tidak mengetahuinya, mukjizat diberikan keistimewaan oleh Allah sebagai pembenaran utusannya.

Meskipun Nabi Muhammad adalah seorang ummi, masyarakat umum sudah tahu dan mahir menulis puisi dan prosa. Ini sesuai dengan apa yang dikatakan al-Walid bin al-Mughiroh ketika dia berbicara dengan Abu Jahal, “tidak ada yang paling mengetahui tentang syair dan syair jin kecuali aku.” Oleh karena itu, al-Qur’an dianggap sebagai mukjizat dalam bentuk puisi dan prosa dalam arti “lebih”, yang dalam bidang ilmu dikenal sebagai kebalanghan. Hal ini sesuai dengan tantangan yang diberikan Al-Qur’an kepada jin dan manusia untuk membuatnya seperti itu, kemudian sepuluh surah, dan akhirnya satu huruf. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang menolaknya.

Dengan demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa seseorang yang ingin melakukan sesuatu di zaman sekarang harus mengikuti apa yang telah dijelaskan Al-Qur’an. Tulisan ini mencoba menjelaskan I’jaz al-Qur’an serta menyentuh keajaiban Al-Qur’an dalam hal ilmu pengetahuan.

Mukjizat Al-Qur’an

Setelah mendefinisikan Al-Qur’an dan I’jaz al-Qur’an, kita harus menentukan apa itu mukjizat. Mukjizat didefinisikan sebagai “kejadian ajaib yang sulit dijangkau oleh kemampuan akal manusia” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menurut Quraish Shihab, definisi ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. “Peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang mengaku sebagai nabi, sehingga bukti kenabiannya yang ditantang kepadanya yang ragu-ragu untuk melakukan hal serupa, tetapi mereka tidak mampu untuk melakukannya” adalah definisi mukjizat menurut ulama Islam. Untuk menyelesaikan masalah definisi ini, ada empat komponen yang membentuk keajaiban.

  1. Hal atau kejadian yang luar biasa.
  2. Terjadi atau digambarkan oleh seseorang yang mengakui nabi.
  3. Berisi tantangan bagi mereka yang meragukan kanabian.
  4. Tantangan-tantangan ini tidak dapat atau gagal untuk dilayani.

Keajaiban dapat diperoleh melalui dua cara: panca indra dan akal. Sebagian besar mukjizat yang dilakukan para nabi anak-anak Israel disaksikan melalui panca indra, seperti yang dilakukan musa dengan tongkatnya. Namun, mukjizat Nabi Muhammad adalah bagian dari aspek “aqliyah” karena tingginya pengetahuan umat-umatnya. Al-Qur’an adalah sumber keajaiban.

Baca Juga  UKT Mahal: Ancaman Terhadap Pendidikan Inklusif di Indonesia

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa I’jaz al-Qur’an adalah ilmu yang menempatkan Al-Qur’an sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW yang melemahkan orang yang menentangnya sehingga mereka dapat mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Baik agama yang dianut oleh Tuhan maupun agama yang dia anut adalah yang benar, dan ini menguatkan iman umat-Nya.

Signifikasi I’jaz Al-Qur’an

Sub-sub ini menghasilkan setidaknya sejumlah pertanyaan, salah satunya adalah “apa pentingnya I’jaz bagi Al-Qur’an, lalu bagaimana Ketika Al-Qur’an turun tidak ada I’jaz”. Misalnya, jika dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa orang Romawi dan Persia akan menang, seperti yang ditunjukkan dalam surah ar-Rum, tetapi orang Persia yang menang, maka Nabi Muhammad akan dianggap sebagai pembohong dan tukang sihir, seperti yang dikatakan oleh al-Walid bin al-Mughiroh dan Abu Jahal. Dan pengikut Nabi Muhammad SAW akan terguncang dan meninggalkannya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Penulis I’jaz al-Qur’an menggambarkan Al-Qur’an sebagai mukjizat terakhir Nabi Muhammad SAW.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa hanya ada tiga aspek keajaiban Al-Qur’an, seperti yang ditunjukkan oleh manna al-Qatthan, yang menguraikan tiga aspek pertama dari aspek Lughawi, al-ilmi, dan al-Syar’i. Al-Qurthubi membahas sepuluh jenis, sedangkan al-Zarqani membahas empat belas jenis. Harap diingat bahwa dalam hal mukjizat, itu hanya terbatas pada elemen-elemen yang disebutkan di atas. Secara khusus, Quraish Shihab menyatakan bahwa tiga mukjizat yang ia gambarkan merupakan sebagian dari mukjizat dan ciri-ciri Al-Qur’an. Dengan demikian, ia menyimpulkan:

  1. Susunan kalimat/Uslub

Menurut Musthafa ar-Rafi’I, seorang tokoh sastra arab, jika kita memperhatikan struktur Al-Qur’an, kita akan menemukan beberapa pola dan ekspresi yang sesuai dengan standar penulisan dan penulisan, dan sesuai dengan fungsi kelancaran huruf demi huruf. Yang menarik adalah bahwa Al-Qur’an memiliki susunan yang sempurna, tetapi hanya jika sebuah kata dalam susunan itu ditempatkan dengan cara yang teratur.

Itu tidak menyenangkan untuk diucapkan atau didengarkan. Di antara kata-kata tersebut adalah an-Nuzhur jamak dari nadzir, yang memiliki nilai dhmmah. Hal ini sangat berat karena padaa konsonan berurutan adalah “nun” dan “dzal”, terutama makhraj, yang merupakan huruf yang kaku dan sulit diucapkan. Namun, jika kata-kata tersebut digunakan dalam Al-Qur’an, seperti yang disebutkan Allah dalam surah al-Qomar ayat 1-55.

  1. Al I’jaz
Baca Juga  Ilmu Mantiq: Mengetahui Perbedaan antara Manusia dengan Makhluk Infrahuman

Imam zahrah dalam kitab al-Mu’jizatul Kubra al-Qur’an menjelaskan bahwa pembagian kalimat dari segi ringkas dan luas dapat menjadi empat bentuk, sebagai berikut:

  1. Bentuk al-I’jaz sedikit lafalnya, sedangkan isi yang dikandungnya banyak.
  2. Bentuk taqsir (terlalu pendek), pengucapannya tidak cukup untuk mengungkapkan makna yang dimaksudkan.
  3. Bentuk itnad (luas), jika maknanya besar dan diungkapkan dengan banyak lafal tetapi tidak berlebihan.
  4. Bentuk tathwil (panjang), jika pengucapannya terlalu banyak sehingga melalui artinya.

Menurut Ar-Rumany, benuk I’jaz dan itnabadalah yang termasuk balaghatu Al-Qur’an, sedangkan dua bentuk lainnya termasuk kehinaan, tidak termasuk balaghatu Al-Qur’an.

  1. Hukum yang Sempurna

Adanya hukum Ilahi yang sempurna adalah salah satu aspek keajaiban Al-Qur’an yang melebihi semua hukum buatan manusia. Al-Qur’an al-Karim menjelaskan pokok-pokok iman, hukum agama, standar keutamaan, budi pekerti, ekonomi, politik, dan hukum sosial. Al-Qur’an juga membangun dasar kemanusiaan yang mulia dan adil, yang disebut oleh para pembaharu pada abad ke-20. seperti demokrasi, musyawarah, dan sebagainya, yang merujuk pada persamaan kebebasan dan keadilan.

  1. Berita tentang Ghaib

Pemberitahuan Al-Qur’an tentang hal-hal ghaib menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukanlah karya manusia; itu adalah kata-kata dari zat yang maha mengetahui tentang hal-hal ghaib. Dalam surat Ar-Rum ayat 15, dijelaskan bahwa pertempuran yang terjadi antara Romawi, agama Kristen, dan negara Persia adalah sebab turunnya ayat tersebut. Saat itu datanglah berita yang menggembirakan bagi kaum muslimin: Romawi menang atas Persia dalam waktu singkat, tiga hingga sembilan tahun. Karena perang sengit yang menghancurkan tentara Romawi, bahkan mereka sendiri, kemenangan Romawi tidak pernah diantisipasi. Selain itu, Persia adalah negara yang kuat dan tangguh, dan kemenangan terakhir ini meningkatkan kekuatan dan ketahanan mereka. Ketika ayat itu diturunkan, kemenangan Sembilan tahun Romawi melawan seratus unta abu bakar.

  1. Sejalan dengan Ilmu Pengetahuan
Baca Juga  Mitos Pendidikan Murah

Al-Qur’an bukanlah kitab tentang ilmu pengetahuan; sebaliknya, itu adalah kitab yang berfungsi sebagai pedoman atau kitab hukum pembetulan. Ayat-ayat tersebut tidak terlepas dari petunjuk rinci dan kebenaran samar tentang masalah alam, medis, dan geografi yang hasilnya menunjukkan keajaiban Al-Qur’an dan statusnya sebagai wahyu tuhan. Karena Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis, Al-Qur’an tidak diciptakannya. Selain itu, ia lahir di lingkungan yang tidak budaya dan tidak menerima pendidikan formal karena bangsa dan keluarganya adalah orang ummi.

Memahami Keajaiban Al-Qur’an

Sebenarnya, sebelum tahun 1975, ilmuwan non-muslim terlibat dalam konferensi yang membahas keajaiban pengobatan Al-Qur’an. Rekomendasi konferensi ini menyatakan bahwa kondisi ilmu melakukan penelitian mendalam terhadap ide-ide Al-Qur’an. Pada tahun 1987, konferensi internasional pertama tentang keajaiban ilmiah Al-Qur’an diadakan. Karena Al-Qur’an adalah mukjizat dan hidayah dari Tuhan, penuturnya menganggap Al-Qur’an sebagai mukjizat dan pedoman hidup di dunia dan akhir zaman. Jika mereka menganggap Al-Qur’an sebagai mukjizat, karena Al-Qur’an adalah mukjizat aakhir zaman dan nabi terbesar sampai hari kiamat, setiap fenomena peradaban akan menguji keajaibannya.

Dapat disimpulkan bahwa penelitian tentang I’jaz Al-Qur’an adalah penelitian yang melihat keistimewaan Al-Qur’an dari berbagai sudut pandang, mulai dari bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an, masalah hukum yang harus dipahami dan diterapkan, dan ketentuan yang tidak dapat dilihat oleh manusia. Informasi yang diberikan oleh Allah SWT adalah benar dalam segala situasi. Penjelasan ini akan tetap relevan dengan masa dan kondisi saat ini karena waktu berubah.

Daftar Pustaka

Al-Banna, Gamal, (2004) Tafsir al-Qur’an al-Karim Baina al-Qudama wa al-Muhadditsin, (Evolusi Tafsir: Dari Jaman Klasik hingga Jaman Modern), terj. Noviantoni Kahar, Cet 1. Jakarta: Qisthi Press.

Bucaille, Maurice, (2005) Jelajah alam bersama Al-Qur’an, terj. Sujiati, Cet 1 Solo: Pustaka Arafah.

Djalal, Abdul, (2000) Ulumul Qur’an, Cet 2. Surabaya: Dunia Ilmu.

Al-Shabuni, Muhammad Ali, (1999) al-Tibyan Fi Ulum al-Qur’an, terj. H. aminuddin, Cet 1. Bandung: Pustaka Setia.

Al-Qathan, Manna’, (1997) Mabahits Fi Ulum al-Qur’an, Set 10, Kairo: Maktabah Wahbah, 1997/1417.

Tinggalkan Balasan