Dilansir dari CNN Indonesia Cerita berbahagia masyarakat Wadung, Jenu, Tuban sebagai miliarder kejutan selesai beramai-ramai jual tanahnya untuk pembangunan PT Pertamina Rosneft Pemrosesan dan Petrokimia (PRPP) kilang Grass Root Refinery (GRR) rupanya tidak berjalan lama.
Sesudah dua tahun berakhir, kondisi masyarakat di daerah miliarder itu sekarang kebalikannya.
Beberapa masyarakat akui risau karena tempat kebun dan sawah yang sejauh ini menjaga mereka sekarang sudah tidak ada. Sementara mereka juga telah ganti karier. Tetapi tugas baru yang mereka tekuni tidak gampang sampai cukup banyak masyarakat yang tidak bekerja.
“Ada narasi ini, tetapi minta maaf namanya lupa, orangnya memang tulen petani. Tanah yang dihuni dan tempat tinggalnya turut dipasarkan. Uangnya digunakan membeli tanah kembali di Wadung sini dan buat rumah, itu uangnya justru habis. Dan mau tak mau rumah yang dibuat ini dipasarkan kembali dan pilih membeli tanah sama ukuran rumah diperkecil,” papar Ketua Paguyuban Karang Taruna Ring 1 Project GRR, Ghoni mencuplik detikcom, Selasa (26/1).
“Jika Wadung disebutkan daerah miliarder itu untuk saya kok kurang cocok. Ya karena dahulunya orang punyai rumah dipasarkan dibelikan rumah kembali ya cuman cocok karena itu,” kata Ghoni.
Dusun Wadung yang terdiri dari 4 desa itu, yang terkena pembebasan tanahnya di saat itu sedikit. Mereka umumnya masyarakat desa Tadahan, Wadung, dan Boro Wadung.
Tempo hari, kata Ghoni, masyarakat turut berunjuk rasa meminta janji dari faksi pertamina yang disebutkan janjikan masyarakat yang sudah jual tanahnya akan mendapatkan tugas di project.
Tapi, kata Ghoni, yang terjadi justru banyak pemuda dusun yang telah memberikan arsip lamaran justru seolah dipersulit dengan ketentuan yang ada.
“Ya ada yang telah kerja saat dahulu awalnya perlu security, tetapi juga tidak lebih dari 30 orang. Bahkan juga sekarang ini ada masyarakat ring 1 yang telah nyerahkan arsip lamaran tetapi banyak yang dipersulit dengan ketentuan,” kata Ghoni.
“Beberapa masyarakat yang nganggur ini dahulu menjadi petani, pekerja tani ke masyarakat yang punyai tempat luas. Tetapi sekarang ini jangankan menjadi petani, jadi buruhnya petani sudah tidak dapat, karena lahannya telah dipasarkan,” sambungnya.
Bahkan juga menurut Ghoni, ada salah satunya masyarakat di dusunnya yang dahulu tanah dan tempat tinggalnya dipasarkan ke project kilang minyak dan mengharap dapat untung. Tetapi yang terjadi justru kebalikannya.
Awalnya, masyarakat Tuban yang tiba-tiba jadi ‘miliarder’ dan beli mobil eksklusif sekarang akui mulai kekurangan uang. Salah satunya pasangan yang mendapatkan ‘uang terkejut’ sejumlah Rp17 miliar, Ali Sutrisno dan Siti Nurul sekarang tinggal mempunyai uang sekitaran Rp50 juta.
“Karena yang bisa banyak itu Pak Ali, itu sepertinya bisa Rp17 miliar jika tidak salah, tempo hari diinterviu kembali tersisa Rp50 juta,” kata kontribusi Insert, diambil dari InsertLive, Selasa (6/4).
Tetapi, kontribusi Insert tidak dapat mengeruk banyak info pasalnya pasangan itu telah malas diwawancara.
“Jika yang istrinya itu tidak ingin diinterviu. Awalannya itu istrinya yang diinterviu, kemudian baru Pak Ali yang kita interviui,” katanya.
Sebagian besar petani di Tuban awalnya melepaskan tanahnya sekitaran Rp600 ribu-Rp800 ribu per mtr. atas pembebasan tempat dari Pertamina untuk project New Grass Root Refinery (NGRR).
Kepala Dusun Sumurgeneng, Gianto saat itu menjelaskan ada 225 masyarakat yang terima pembayaran atas pembebasan tempat itu. Waktu itu, transaksi bisnis pemasaran tanah paling tinggi capai Rp25 miliar. Keceriaan masyarakat itu lalu dilukiskan dengan beli mobil eksklusif bersama.
Mobil yang dibeli datang dari beragam merk dan kelas mulai Sport Utility Vehicle (SUV) sampai kendaraan niaga berbentuk pikap kecil. Video tindakan boyong mobil itu saat itu juga trending dan jadi pembicaraan netizen di Media Sosial pada tengah Februari kemarin.

