Oleh: Aulia Azhara
Di zaman ini, agama terdengar di mana-mana. Di mimbar, di layar gawai, di kolom komentar. Ayat dan hadits dikutip cepat, lantang, dan sering kali penuh emosi. Semakin ramai agama dibicarakan, semakin jarang terasa dalam sikap dan perilaku, tindak-tanduk, totokromo manusianya.
Kita hidup di masa ketika seseorang bisa terlihat sangat religius dalam tutur kata, tetapi sangat melukai dalam perbuatan. Lisannya fasih menyebut dalil, tetapi tangannya ringan menyakiti. Statusnya penuh nasihat, tetapi hidupnya miskin empati.
Rasulullah Muhammad SAW. telah mengingatkan fenomena semacam ini jauh sebelum zaman media sosial. Dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim, Kanjeng Rasul bertanya kepada para sahabat:
أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ,قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ
“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut (muflis)? Mereka menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah yang tidak memiliki dirham dan harta.”
فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ (رواه مسلم)
Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia pernah mencaci orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Maka kebaikannya diambil dan diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya. Jika kebaikannya habis sebelum selesai membayar kezalimannya, maka dosa-dosa mereka diambil dan ditimpakan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim no. 2581)
Ibadah yang ramai tidak otomatis menyelamatkan jika akhlak kita sunyi. Agama bukan sekadar hafalan dalil, tetapi jejak sikap. Bukan hanya soal seberapa sering kita berbicara tentang kebenaran, tetapi seberapa jujur kita hidup bersamanya.
Imam Hasan al-Bashri, seorang tabi’in besar yang dikenal ketajaman hatinya dawuh,
“Iman itu bukan dengan angan-angan dan bukan pula dengan hiasan kata-kata. Tetapi iman adalah apa yang menetap di dalam hati dan dibuktikan oleh amal perbuatan.”[1]
Mungkin kita sering sibuk menghias iman di kata-kata. Naifnya, lupa merawatnya dalam laku hidup sehari-hari. Kita mudah marah atas nama agama, tetapi sulit bersabar demi menjaga perasaan sesama. Kita keras dalam perdebatan, tetapi lunak terhadap kezaliman yang kita lakukan sendiri. Kita cepat menilai sesat, tetapi lambat mengoreksi akhlak.
Padahal Kanjeng Nabi SAW. tidak pernah mengajarkan agama dengan kebencian. Disebutkan dalam hadits,
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا، مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ، وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ، فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ بِهَا.
Ummul Mukminin, Sayyidah Aisyah berkata, “Tidaklah Rasulullah ﷺ diberi dua pilihan kecuali beliau pasti memilih yang paling mudah, selama tidak merupakan dosa. Jika yang mudah itu dosa, beliau pasti orang yang paling jauh darinya. Rasulullah ﷺ tidak pernah melakukan pembalasan untuk dirinya kecuali kalau sesuatu yang diharamkan oleh Allah dilanggar, maka beliau membalasnya karena Allah Ta’ala.”[2]
Agama itu memudahkan manusia menjadi manusia. Bukan membuatnya merasa paling benar, lalu merendahkan yang lain. Jika hari ini agama terdengar bising di ruang publik, barangkali karena ia kurang dipraktikkan di ruang batin. Jika agama sering menjadi alasan bertengkar, mungkin karena ia tidak cukup hadir dalam kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang.
Kita tidak kekurangan penceramah. Yang kita rindukan adalah keteladanan. Bukan orang yang pandai berbicara tentang surga, tetapi orang yang kehadirannya membuat orang lain merasa aman dari neraka sikap.
Sebab pada akhirnya, agama tidak akan ditanya seberapa sering ia kita ucapkan, tetapi seberapa dalam ia membentuk cara kita memperlakukan sesama. Dan barangkali, di situlah ujian iman paling sunyi saat tidak ada kamera, tidak ada panggung, hanya kita, Tuhan, dan akhlak yang tak bisa berdusta.
Persoalannya bukan semata-mata orang tidak tahu. Banyak dari kita sangat tahu, bahkan terlalu tahu. Kita tahu ayat tentang kejujuran, tapi masih berdamai dengan kebohongan kecil. Kita tahu hadits tentang adab, tapi merasa pengecualian berlaku saat emosi mengambil alih.
Ironis. Agama sering dijadikan alat bicara, bukan jalan berbenah. Kanjeng Nabi SAW. bersabda,
حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِيْ إِيَاسٍ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي السَّفَرِ وَ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ أَبِيْ خَالِدٍ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ وَ الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ
Telah menceritakan kepada kami Ādam bin Abū Iyās berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu‘bah, dari ‘Abdullāh bin Abus-Safar dan Ismā‘īl bin Abū Khālid, dari asy-Sya‘bī, dari ‘Abdullāh bin ‘Amru dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”[3]
Hadits ini tidak berbicara tentang panjangnya ceramah, tidak pula tentang kerasnya perdebatan, tetapi tentang keselamatan orang lain dari diri kita.
Apakah kehadiran kita menenangkan, atau justru melelahkan? Apakah agama pada diri kita membuat orang merasa aman, atau terancam? Sebab bisa jadi, seseorang rajin ibadah, namun gagal menjadi manusia yang layak dipercaya.
Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah dawuh, “Agama seluruhnya adalah akhlak. Maka siapa yang lebih baik akhlaknya, dialah yang lebih baik agamanya.” (Madarij as-Salikin, 2/294)
Kalimat ini singkat, tapi berat. Memindahkan ukuran kesalehan dari panggung ke kehidupan nyata. Bukan lagi soal siapa yang paling lantang, tetapi siapa yang paling jujur ketika tidak diawasi. Bukan siapa yang paling keras membela kebenaran, tetapi siapa yang paling lembut menjaga perasaan sesama.
Hari ini agama sering tampak garang, barangkali karena kehilangan wajah akhlaknya. Jika agama mudah dijadikan alasan untuk membenci, mungkin karena ia belum benar-benar menetap di hati. Agama yang hidup seharusnya membuat seseorang lebih rendah hati, bukan merasa paling suci. Lebih sibuk memperbaiki diri daripada mengoreksi iman orang lain.
Sebab kesalehan sejati tidak ribut mencari pengakuan, tetapi dalam kesabaran, dalam kejujuran, dalam cara kita memperlakukan manusia bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Dan mungkin, agama tidak sedang krisis dalil. melainkan krisis keteladanan. Jika suatu hari agama kembali terasa menyejukkan, itu bukan karena semakin sering dibicarakan, melainkan karena kembali dijalani.
Pelan-pelan. Diam-diam. Dan sungguh-sungguh.
17 Rajab 1447
[1] Diriwayatkan oleh Ibn Abi Dunya dalam al-Ikhlash dan dinukil oleh banyak ulama.
[2] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Kitab beliau, no. 3560 dan Muslim no. 2327
[3] Shohih Bukhori, hadits no 9.

