Quote Ning Umi Laila tentang Lisan dan Hati

Quote Ning Umi Laila
sumber : Lare Santri
“Lisan itu menggambarkan hati seseorang, Lisan memang biasa mema’afkan, tapi tidak dengan hati.”
Ning Umi Laila Rahmah

Lisan dan Hati: Harmoni antara Kata dan Rasa

Di era digital yang serba cepat ini, komunikasi menjadi salah satu aspek paling penting dalam kehidupan sehari-hari. Kita berbicara, mengirim pesan teks, menulis di media sosial, dan melakukan panggilan video. Semua aktivitas ini melibatkan lisan kita. Namun, Ning Umi Laila Rahmah mengingatkan kita bahwa “Lisan itu menggambarkan hati seseorang. Lisan memang biasa memaafkan, tapi tidak dengan hati.” Kata-kata ini mengandung makna yang dalam tentang hubungan antara apa yang kita katakan dan apa yang kita rasakan.

Lisan, atau kata-kata yang kita ucapkan, sering kali menjadi cerminan langsung dari pikiran dan perasaan kita. Ketika kita bahagia, kata-kata kita cenderung positif dan penuh semangat. Sebaliknya, ketika kita marah atau kecewa, kata-kata kita bisa menjadi tajam dan menyakitkan. Namun, lisan tidak selalu sepenuhnya mencerminkan hati. Ada kalanya kita mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak sepenuhnya kita rasakan. Misalnya, kita mungkin berkata “tidak apa-apa” ketika sebenarnya kita merasa terluka atau “saya maafkan” ketika hati kita masih penuh dengan kemarahan dan kepahitan.

Milenial dan Gen-Z yang tumbuh di dunia digital sering kali menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara lisan dan hati. Di media sosial, kita diajarkan untuk selalu tampil bahagia dan positif. Kita memberikan ucapan selamat, kata-kata penyemangat, dan tanda cinta dalam bentuk “likes” dan komentar. Namun, seberapa sering kata-kata tersebut benar-benar mencerminkan apa yang kita rasakan? Seberapa sering kita menutupi perasaan sebenarnya demi menjaga citra atau menghindari konflik?

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak dari kita yang terbiasa memaafkan secara lisan. Kita mengatakan “maafkan saya” atau “tidak apa-apa” untuk meredakan situasi dan menjaga hubungan tetap harmonis. Namun, memaafkan dengan hati adalah proses yang lebih dalam dan rumit. Memaafkan dengan lisan adalah tindakan yang terlihat, sedangkan memaafkan dengan hati adalah proses yang tidak terlihat namun sangat penting untuk kesejahteraan emosional kita.

Baca Juga  Dawuh Gus Iqdam Muhammad : Ketika Kesalahan Terjadi, Maafkanlah

Ketika kita menyimpan dendam atau rasa sakit dalam hati, itu bisa mempengaruhi kesehatan mental dan emosional kita. Rasa sakit yang tidak diungkapkan dan diselesaikan bisa berubah menjadi kebencian yang menggerogoti kebahagiaan kita. Oleh karena itu, penting untuk menyelaraskan antara lisan dan hati kita. Ketika kita mengatakan “saya maafkan,” kita harus benar-benar bekerja untuk melepaskan rasa sakit dan dendam yang kita rasakan.

Pentingnya komunikasi yang jujur dan autentik tidak bisa diabaikan. Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, kejujuran adalah kunci untuk membangun hubungan yang sehat dan kuat. Milenial dan Gen-Z, yang sering kali berkomunikasi melalui layar, perlu menyadari bahwa kejujuran dalam komunikasi tidak hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi juga tentang bagaimana kita merasakannya. Jika ada sesuatu yang mengganggu kita, kita harus berani untuk mengungkapkannya dengan cara yang baik dan konstruktif.

Dalam hubungan persahabatan, percintaan, dan keluarga, ketidakselarasan antara lisan dan hati bisa menjadi sumber konflik. Ketika seseorang merasa terluka tapi tidak mengungkapkannya, perasaan tersebut bisa menumpuk dan menyebabkan masalah yang lebih besar di kemudian hari. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan lingkungan di mana kita bisa berkomunikasi secara terbuka dan jujur. Kita harus belajar untuk mendengarkan dengan empati dan merespons dengan kasih sayang.

Memaafkan adalah salah satu tindakan paling mulia yang bisa kita lakukan. Namun, memaafkan tidak berarti melupakan atau mengabaikan perasaan kita sendiri. Memaafkan dengan hati berarti kita melepaskan rasa sakit dan memberikan ruang bagi diri kita untuk sembuh. Ini adalah proses yang membutuhkan waktu dan kesabaran. Ketika kita benar-benar memaafkan dengan hati, kita membebaskan diri kita dari beban emosional yang bisa menghambat kebahagiaan kita.

Baca Juga  Quotes Gus Dur tentang Kepemimpinan Sederhana

Dalam dunia kerja, ketidakselarasan antara lisan dan hati juga bisa menjadi tantangan. Ketika kita bekerja dalam tim, komunikasi yang jujur dan terbuka sangat penting untuk keberhasilan bersama. Jika ada masalah atau ketidakpuasan, penting untuk mengungkapkannya dengan cara yang konstruktif. Menyembunyikan perasaan kita hanya akan memperburuk situasi dan mengganggu dinamika tim. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan budaya kerja di mana setiap orang merasa nyaman untuk berbicara dan berbagi perasaan mereka.

Teknologi dan media sosial telah mengubah cara kita berkomunikasi, tetapi esensi dari komunikasi yang jujur dan autentik tetap sama. Kita harus belajar untuk tidak hanya mengatakan apa yang ingin didengar orang lain, tetapi juga untuk mengungkapkan apa yang benar-benar kita rasakan. Ketika kita mampu menyelaraskan antara lisan dan hati kita, kita akan memiliki hubungan yang lebih sehat dan lebih bahagia.

Penting juga untuk mengingat bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan untuk langsung memaafkan dengan hati. Setiap orang memiliki proses penyembuhan yang berbeda-beda. Kita harus belajar untuk menghargai dan memahami proses ini, baik dalam diri kita sendiri maupun dalam orang lain. Ketika kita memahami bahwa memaafkan dengan hati adalah proses yang memerlukan waktu, kita akan lebih sabar dan pengertian terhadap diri kita sendiri dan orang lain.

Pada akhirnya, harmoni antara lisan dan hati adalah kunci untuk hidup yang damai dan penuh kasih. Kita harus belajar untuk tidak hanya memaafkan dengan kata-kata, tetapi juga dengan hati. Dengan demikian, kita akan membebaskan diri dari beban emosional dan menciptakan ruang untuk kebahagiaan dan kedamaian sejati. Mari kita jadikan setiap komunikasi sebagai kesempatan untuk menyelaraskan antara apa yang kita katakan dan apa yang kita rasakan, sehingga kita bisa menjalani hidup dengan integritas dan kebahagiaan yang sejati.