Oleh: Fiki Ni’matul Jannah

Isra Mikraj merupakan suatu perjalanan agung yang dialami oleh baginda Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat terbesar kedua setelah Al-Quran. Peristiwa Isra Mikraj menjadi peristiwa bersejarah yang akan selalu dikenang oleh masyakat Islam dan sebagai pemicu dalam meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Banyak pesan cinta yang terkandung dalam peristiwa Isra Mikraj tidak hanya tentang perintah sholat lima waktu tetapi juga ada pesan cinta lainnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Esensi dari peristiwa Isra Mikraj adalah tentang cinta. Arti cinta di sini bukan tentang seseorang yang mencintai lawan jenis, tetapi arti cinta di sini adalah tentang kerinduan yang amat besar dan mendalam dalam diri Nabi Muhammad SAW terhadap Allah SWT. Rasulullah sungguh sangat merindukan perjumpaannya dengan Allah SWT.

Pada saat itu dakwah Rasulullah sedang sangat sulit dan tidak kondusif karena mendapatkan banyak tekanan dan intimidasi dari kaum musyrik, selain itu juga dua orang yang amat dicintai Rasulullah meninggal dunia yaitu paman baliau Abu Tholib dan istri beliau Siti Khodijah sehingga menambah rasa sedih dalam diri Rasulullah.

Demi menghibur kekasihnya Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk menjemput dan menemani Rasulullah melakukan rihlah semesta yaitu peristiwa Isra Mikraj. Isra Mikraj merupakan sebuah perjalanan agung melintasi semesta, menembus lapisan-lapisan langit, menjelajahi keindahan alam semesta yang tak pernah dinikmati dan dialami oleh satu pun makhluk di alam dunia, sebelum kemudian menghadap, bersimpuh dan bermunajat secara langsung memandang ke-Mahaagungan-wajah-Nya.

Proses terjadinya peristiwa Isra Mikraj dimulai dengan kedatangan Malaikat Jibril, Mikail dan Isrofil untuk menjemput baginda Nabi Muhammad SAW. Sebelum Rasulullah melakukan rihlah semesta, Rasulullah terlebih dahulu dibersihkan hatinya oleh ketiga malaikat tersebut dengan cara dibelah dadanya lalu dibasuh hatinya dengan menggunakan air zam-zam.

Tujuan dari adanya prosesi ini adalah untuk membersihkan dan menjernihkan hati Rasulullah dari kotoran-kotoran, karat-karat dan segumpal darah hitam yang melekat, selain itu dalam prosesi ini Malaikat Jibril juga menuangkan iman dan hikmah ke hati Rasulullah sehingga ilmu hikmah, ilmu yaqin dan Islam telah mengkristal dengan hati mulia Rasulullah.

Rasulullah menunggangi Buraq untuk melakukan peristiwa Isra yang dimulai dari Masjidil Haram hingga sampai di Masjidil Aqsa. Pada saat perjalanan tersebut ketika di tempat-tempat tertentu yang memiliki nilai historis seperti Bukit Tursina, Negeri Taibah, Desa Madyan dan lain sebagainya Malaikat Jibril mempersilahkan Rasulullah untuk singgah dan melaksanakan sholat dua rakaat.

Selain itu dalam perjalanan Isra Rasulullah juga diperlihatkan berbagai macam kejadian aneh yang pada intinya menggambarkan bagaimana umatnya nanti ketika melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat. Penampakan-penampakan makhluk aneh dan mengerikan serta berbagai macam rintangan berat dan godaan menggiurkan yang berusaha menjebak dan mencelakai beliau beserta umatnya juga dilihat oleh Rasulullah.

Ketika telah sampai di Bumi Palestina tepatnya di depan pintu Masjid Al-Aqsa Rasulullah menambatkan Buraq tepat di sebuah tempat di mana Nabi-Nabi terdahulu biasa menambatkan kendaraannya. Namun oleh Jibril Buraq tersebut dibawa masuk ke dalam masjid dan menambatkannya pada sebuah batu besar di dalam masjid.

Rasulullah masuk ke dalam masjid bersama Malaikat Jibril kemudian melakukan sholat dua rakaat. Beberapa jenak kemudian terlihat puluhan ribu bahkan ratusan ribu manusia yang merupakan Para Nabi terdahulu berduyun duyun telah berkumpul. Jibril mengumandangkan adzan yang disusul dengan iqomat lalu Jibril meminta Rasululllah untuk mengimami sholat.

Setelah selesai melaksanakan sholat, Malaikat Jibril membawa tiga bejana kepada Rasulullah: bejana pertama berisi arak, bejana kedua berisi susu dan bejana ketiga berisi air. Rasulullah memilih meminum susu ketimbang minuman yang lain dan pilihan Rasulullah dibenarkan oleh Malaikat Jibril.

Peristiwa berikutnya adalah peristiwa Mikraj. Peristiwa Mikraj dimulai ketika sebuah tangga begitu panjang kemudian menjulur dari atas langit ke bumi, mendarat tepat di atas sebongkah batu besar. Tangga ini bersifat metafisik sehingga tak tampak dari dunia nyata. Tangga tersebutlah yang disebut dengan Mikraj.

Rasulullah bersama Malaikat Jibril menaiki tangga tersebut. Dengan kecepatan tak terkira tangga tersebut membawa Rasulullah bersama Malaikat Jibril terbang menembus awan, menembus ozon, menembus lapisan atmosfer, terbang tinggi ke angkasa dengan taburan bintang-bintang, melayang tanpa henti hingga sampa pada salah satu pintu dari beberapa pintu langit dunia. Pintu itu dikenal dengan sebutan “Bab al-Hafazah” (pintu para penjaga).

Rasulullah dan Malaikat Jibril masuk ke dalam langit pertama, di sana Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam. Pada langit kedua bertemu dengan Isa putra Maryam dan Nabi Yahya bin Zakariya. Pada langit ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf. Pada langit keempat bertemu dengan Nabi Idris. Pada langit kelima bertemu dengan Nabi Harun bin Imron. Pada langit keenam bertemu dengan Nabi Musa dan pada langit ketujuh Rasulullah bertemu dengan Nabi Ibrahim.

Pada langit ketujuh Rasulullah masuk ke dalam Baitul Makmur, ada yang berpendapat bahwa Baitul Makmur merupakan bangunan seperti Kabah yang biasa digunakan untuk Thawaf oleh para Malaikat. Rasulullah terus naik ke atas hingga mencapai puncak Sidratul Muntaha. Saat di Sidratul Muntaha Rasulullah berpisah dengan Malaikat Jibril. Malaikat Jibril tidak dapat menemani Rasulullah saat naik ke Rofrof untuk bertemu dengan Allah.

Rasulullah melesat secepat kilat seperti terisap oleh kekuatan tak terbatas di dalam mengarungi lautan cahaya illahi, ketika mengarungi cahaya illahi itulah segumpal cahaya berukuran besar dengan aneka warna (Sahabah) datang menghampiri Rasulullah lalu menyelimuti tubuh beliau dan membawanya tiba di Mikraj kesembilan menuju sebuah ruang sakral di atas Al-kursiy.

Setelah tiba di ruangan sakral itu Rasulullah tidak mendapati sesuatu yang lain kecuali menyaksikan dan mendengarkan suara goresan pena-pena takdir menjalin ketetapan-ketetapan Allah. Cahaya tadi kemudian membawa Rasulullah di Mikraj kesepuluh menuju ke sebuah tempat di atas Mustawa Sarif Al Aqlam yaitu Rofrof.

Rofrof merupakan permadani agung yang membentang menuju kehadirat Allah yang terbuat dari cahaya hijau dan memadati seluruh penjuru semesta tepat di bawah al-Arsy. Perjumpaan Rasulullah dengan Allah membuat Rasulullah merasa sangat bahagia, bahkan beliau diberi kado istimewa yaitu perintah untuk melaksanakan sholat. Dalam perjumpaan tersebut Allah juga memberi tahu bahwa Rasulullah diberi tujuh ayat Al-Quran yang tak pernah diberikan kepada Nabi-Nabi sebelumnya yaitu pungkasan-pungkasan ayat dalam surat Al-Baqoroh dari khazanah sakral di bawah al-Arsy.

Setelah perjumpaannya dengan Allah, Rasulullah turun ke bumi, namun pada saat berada di langit keenam Rasulullah bertemu dengan Nabi Musa dan Nabi Musa bertanya kepada Rasulullah perihal pesan apa yang disampaikan Allah kepadanya. Lalu Rasululah menjawab yaitu perintah untuk mengerjakan sholat lima puluh waktu dalam sehari semalam.

Mendengar hal tersebut Nabi Musa memberikan saran kepada Rasulullah untuk meminta keringanan kepada Allah dengan alasan umatnya tak akan sanggup untuk melaksanakannya. Rasulullah bolak balik bernegosiasi dengan Allah hingga pada akhirnya perintah sholat hanya lima waktu dalam sehari semalam. Rasulullah telah pasrah dan rela dengan keputusan-Nya.

Rasulullah turun ke bumi dan kembali ke Mekkah dengan membawa kado istimewa dari Allah yaitu perintah sholat lima waktu. Sholat lima waktu merupakan amal ibadah yang istimewa karena Rasulullah mendapatkan perintah sholat lima waktu langsung dari Allah tanpa perantara Malaikat Jibril. Bahkan sholat lima waktu menjadi penentu bagi amal lainnya dapat diterima atau tidaknya di hadapan Allah.

Peistiwa Isra Mikraj merupakan suatu peristiwaa yang luar biasa yang Nabi-Nabi lain tidak mengalaminya. Adanya peristiwa Isra Mikraj menunjukkan bahwa Rasulullah memiliki kedudukan yang sangat istimewa di hadapan Allah.

Tingginya derajat Rasulullah dapat dilihat pada saat peristiwa Isra, Rasulullah menjadi imam sholat Para Nabi dan Malaikat di dalam Masjid Al-Aqsa. Selain itu Rasulullah juga meraih maqam Qaba Qausain aw Adna pada peristiwa Isra Mikraj tersebut. Maqom Qaba Qausain aw Adna adalah titik kulminasi dalam rihlah Isra Mikraj setelah sebelumnya Rasulullah melalui rangkaian pengalaman spiritual tak terpermanai, melintasi tujuh langit, melampaui sidratul muntaha, mustawa sarif al aqlam dan tiba di al-Arsy untuk berjumpa dengan Allah.

Pesan cinta yang terkandung dalam peristiwa Isra Mikraj ini tidak hanya perihal perintah sholat lima waktu, tetapi juga tentang keutamaan pungkasan ayat-ayat terakhir dalam surat Al-Baqoroh. Adanya peristiwa Isra Mikraj ini juga menunjukkan betapa istimewanya kedudukan Rasulullah di hadapan Allah dan Allah juga memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Rasulullah dalam perjalanan Isra Mikraj.

Daftar Pustaka

Atid, Muhammad dkk. 2017. Rihlah Semesta Bersama Jibril A.S Menguak Perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW dari Aspek: Hikmah, Nilai Filosofis, Pesan Simbolis, Sufistik dan Saintifik. Kediri: Lirboyo Press.

Biografi Penulis

Penulis bernama lengkap Fiki Ni’matul Jannah, lahir di Brebes, 18 Februari 2000. Ia merupakan salah satu santri di PPQ Al Amin Pabuaran, dan alumni Universitas Jenderal Soedirman program studi Teknologi Pangan. Penulis memiliki hobi membaca. Motto hidupnya adalah “Hidup ini hanya sebentar, hiduplah yang berarti, jadilah seorang pengembara ilmu dan memberi manfaat bagi sesama”