Nasihat Prof Quraish Shihab : Mengedepankan Keberagaman

Nasihat Prof Quraish Shihab
Sumber : Kalam Al Kibar
“Kita semua menganut kemanusiaan yang adil dan beradab, dan kemanusiaan itu mendahulukan keberagaman dalam pandangan Islam.”
Prof. Dr. M. Quraish Shihab
“Kita semua menganut kemanusiaan yang adil dan beradab, dan kemanusiaan itu mendahulukan keberagaman dalam pandangan Islam.” Kutipan ini mengandung esensi dari prinsip-prinsip kemanusiaan yang diakui oleh banyak ajaran dan tradisi di seluruh dunia, termasuk dalam Islam. Islam mengajarkan bahwa setiap manusia diciptakan dengan harkat dan martabat yang sama, tanpa memandang ras, warna kulit, atau kepercayaan. Konsep kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi fondasi bagi keberagaman yang diakui dan dihargai dalam ajaran Islam.

Sebagai sebuah agama yang mengutamakan kedamaian dan keadilan, Islam menempatkan nilai-nilai kemanusiaan di puncak ajarannya. Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah prinsip yang menuntun umat Islam untuk hidup harmonis dalam masyarakat yang beragam. Ini mencakup penghormatan terhadap hak-hak individu, keadilan sosial, dan penghargaan terhadap perbedaan. Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Gus Dur, seorang tokoh nasional yang sangat dihormati, “Agama seharusnya membawa rahmat bagi semua orang, tanpa membedakan suku, ras, dan golongan.” Gus Dur menekankan pentingnya keberagaman sebagai elemen penting dalam menjalani kehidupan beragama yang sebenarnya.

Dalam Islam, konsep keadilan sangat penting dan selalu dikaitkan dengan kebajikan sosial. Keadilan tidak hanya berarti memberikan apa yang menjadi hak seseorang, tetapi juga memastikan bahwa setiap orang diperlakukan dengan cara yang manusiawi dan bermartabat. Al-Qur’an sering kali menyebutkan pentingnya keadilan dan menyerukan kepada umatnya untuk menegakkan keadilan dalam segala aspek kehidupan. “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau kedua orang tua dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa: 135). Ayat ini menegaskan bahwa keadilan harus ditegakkan tanpa memandang hubungan pribadi atau kepentingan.

Keberagaman dalam Islam bukan hanya diterima, tetapi juga dirayakan. Islam mengakui bahwa perbedaan adalah bagian dari rencana Tuhan yang lebih besar. “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13). Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan antara manusia adalah sarana untuk saling mengenal dan belajar satu sama lain, bukan sebagai sumber konflik.

Baca Juga  Dawuh Gus Iqdam tentang Cinta yang Sebenarnya

Kemanusiaan yang adil dan beradab dalam Islam juga mencakup perlindungan terhadap hak-hak minoritas. Rasulullah Muhammad SAW mencontohkan ini dengan memberikan perlindungan kepada orang-orang Yahudi dan Kristen yang hidup di bawah pemerintahan Islam. Piagam Madinah adalah salah satu contoh awal dari konstitusi yang menjamin hak-hak minoritas dan menunjukkan bahwa masyarakat yang adil dan beradab harus menghormati dan melindungi semua anggotanya, terlepas dari keyakinan agama mereka. “Siapa yang menyakiti seorang dzimmi (non-Muslim yang hidup di bawah perlindungan negara Islam), maka ia telah menyakitiku,” demikian sabda Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan betapa pentingnya melindungi hak-hak minoritas dalam pandangan Islam.

Namun, mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab serta menghormati keberagaman bukanlah tugas yang mudah. Dalam konteks modern, masyarakat menghadapi berbagai tantangan seperti intoleransi, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam dan seluruh masyarakat untuk terus memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bisa dimulai dari pendidikan, di mana nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan diajarkan sejak dini.

Pendidikan memainkan peran penting dalam membentuk karakter dan pandangan anak-anak tentang keberagaman. Dengan mengajarkan nilai-nilai Islam yang sejati, yaitu cinta, kasih sayang, dan keadilan, kita dapat membentuk generasi yang menghargai perbedaan dan mampu hidup harmonis dalam masyarakat yang beragam. Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani,” yang berarti di depan memberikan contoh, di tengah memberikan semangat, di belakang memberikan dorongan. Prinsip ini relevan dalam konteks pendidikan untuk kemanusiaan yang adil dan beradab.

Di tingkat masyarakat, peran pemimpin sangat penting dalam menegakkan keadilan dan menghargai keberagaman. Pemimpin yang adil dan bijaksana akan memastikan bahwa kebijakan yang diambil mencerminkan prinsip-prinsip kemanusiaan dan menghargai keberagaman. Dalam Islam, kepemimpinan yang adil adalah cerminan dari iman yang sejati. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Umar bin Khattab, “Jika ada seekor keledai yang terperosok di Irak, aku takut Allah akan bertanya kepadaku pada Hari Kiamat, ‘Mengapa kamu tidak memperbaiki jalan untuknya, wahai Umar?’” Pernyataan ini menunjukkan betapa besar tanggung jawab seorang pemimpin terhadap kesejahteraan dan keadilan bagi semua makhluk.

Baca Juga  Nasihat Habib Umar Bin Hafidz : Kebenaran dalam Ketakutan

Selain itu, media dan teknologi juga memiliki peran penting dalam menyebarkan pesan kemanusiaan yang adil dan beradab. Media dapat digunakan sebagai alat untuk mendidik masyarakat tentang pentingnya menghargai perbedaan dan menegakkan keadilan. Namun, media juga dapat menjadi alat untuk menyebarkan kebencian dan intoleransi jika tidak digunakan dengan bijak. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menggunakan media dengan cara yang positif dan konstruktif, serta selalu menyebarkan pesan-pesan yang mendukung kemanusiaan dan keadilan.

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap individu memiliki peran dalam menciptakan masyarakat yang adil dan beradab. Setiap tindakan kecil, seperti berbicara dengan sopan, menghargai pendapat orang lain, dan membantu mereka yang membutuhkan, dapat berkontribusi pada terciptanya lingkungan yang harmonis. Seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” Tindakan sederhana seperti tersenyum dapat menciptakan suasana yang positif dan mengurangi ketegangan dalam interaksi sosial.

Kita juga perlu membangun empati dan memahami perspektif orang lain. Empati adalah kunci untuk menghargai perbedaan dan menciptakan hubungan yang harmonis. Dengan menempatkan diri kita dalam posisi orang lain, kita dapat lebih memahami perjuangan dan tantangan yang mereka hadapi, serta memberikan dukungan yang mereka butuhkan. Dalam Islam, empati dan kasih sayang adalah nilai-nilai yang sangat ditekankan. “Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri,” sabda Nabi Muhammad SAW.

Pada akhirnya, kemanusiaan yang adil dan beradab serta penghargaan terhadap keberagaman adalah prinsip-prinsip yang harus selalu kita pegang teguh. Dalam dunia yang semakin terhubung dan beragam, penting bagi kita untuk terus memperjuangkan nilai-nilai ini dan menciptakan masyarakat yang adil, damai, dan harmonis. Dengan mengambil inspirasi dari ajaran Islam dan tokoh-tokoh nasional seperti Gus Dur dan Ki Hajar Dewantara, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik untuk semua.