Oleh: Kiai Yuli Nur Kholid, Pengasuh PP. Dirasatul Qur’an, Kampar Riau
Bangun shubuh tetiba ada WA masuk dari admin media nasional “Dhawuh Guru”. Berikut isi WA-nya :
Mas Nabil: “assalamualaikum yai,”
Mas Nabil: “badhe nyuwun izin, posting dawuh panjenengan…” (dengan menyertakan screenshot proses editingnya).
Kemudian al faqir menjawab : “monggo mas mugi berkah.”
Waba’du,
Internet adalah suatu ruang baru yang hampir menjadi kebutuhan primer manusia abad 21. Semua hal dapat diakses oleh semua umur, mau diisi mulai dari hal paling negatif sampai hal paling positif bisa dan mudah. Belum lagi didukung dengan perkembangan gadget, artificial intelegent (kecerdasan buatan), ruang virtual metaverse, dan pengembangan software yang terus melompat cepat mengiringinya, semua ini tak terbendung adanya mengubah pola peradaban manusia maka dari itu butuh sikap yang tepat untuk menghadapinya, sebagaimana sering dahulu al fakir sering mendengar dawuh Sang Guru : “Urip kudu sing tepak cung !”.
Pada dasarnya internet ini adalah ruang netral namun bergantung pada apa dan siapa yang mengisinya. Nah disini titik pentingnya. Jika prosentase isi cloude google lebih banya konten negatif (hoax, pornografi, er*tisme, proganda, framing, hatespeech, hegemoni, dll) daripada konten positif (berita konstruktif, ngaji ngaji online, market place sehat, inovasi terapan, jurnal ilmiah, dll) dalam sajiannya, maka mau tidak mau itulah yang dikonsumsi manusia abad 21 ini. Sehingga sesuatu yang negatif akan menghasilkan hal-hal negatif lagi dalam kuantifas yang besar. Ini yang perlu dipenggalih kita bersama.
Dalam perkembangannya kini banyak santri-santri yang berpemikiran terbuka, ikhtiar mengambil sikap dengan langkah inovasi untuk mengimbangi perubahan yang ada. Mengisi sebanyak-banyaknya hal positif dalam ruang internet sehingga berbagai macam hal-hal positif semakin tumbuh, banyaknya konten positif yang terupload maka semakin banyak pilihan konsumsi positif dan harapannya menghasilkan nilai positif pula. Dasar pemikiran yang perlu diketengahkan dalam bersikap sebagaimana dalam kaidah ushul disebutkan :
اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحْ وَاْلاَخْذُ بِالْجَدِيْدِ اْلاَصْلَحِ
Artinya : Mempertahankan nilai-nilai terdahulu yang baik dan menginovasikan nilai-nilai baru yang lebih baik.
Kita sebagai user (pengguna) juga harus bersikap dengan tepat, diantaranya sikap disiplin diri menfilter sajian konten yang dikonsumsi, selain itu juga terus belajar ilmu-ilmu keagamaan pada para Guru untuk meningkatkan kapasitas ilmu pengetahuan sehingga memeroleh nilai-nilai atau pelajaran positif untuk membentengi diri dari fitnah internet.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ …. من فتنة الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari…. fitnahnya kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnahnya Al Masih Ad-Dajjal.
(HR. Muslim, No. 588)
