Opini  

Santri: Penuh Filosofi, Mulai dari Merawat Tradisi Hingga Keanekaragaman


Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/dawuhgur/domains/dawuhguru.co.id/public_html/wp-content/themes/wpberita/template-parts/content-single.php on line 98

Oleh : Ahmad Nizar Zuhdi Al-H.

Mungkin dilintas pikiran seseorang jika terlintas kata santri adalah “ orang yang hanya mengaji di sebuah peantren. Namun Santri sendiri memiliki segudang Arti. Santri merupakan Adopsi dari kata sanskerta yaitu “Shastri “ dan Cantrik yakni “shastri” yang memiliki akar kata yang sama dengan kata sastra yang berarti kitab suci, agama dan pengetahuan. Ada pula yang mengatakan berasal dari kata cantrik yang berarti para pembantu begawan atau resi.

Menurut ulama dari Pandeglang, Banten, KH Abdullah Dimyathy, merujuk penggunaan huruf Arab atau huruf hijaiyah yakni sin, nun, ta, dan ra. Huruf sin merujuk pada satrul al ‘awroh atau “menutup aurat”; huruf nun berasal dari istilah na’ibul ulama yang berarti “wakil dari ulama”; huruf ta’ dari tarkul al ma’ashi atau “meninggalkan kemaksiatan”; serta huruf ‘ra dari ra’isul ummah alias “pemimpin umat”.
selain menurut gus muafiq santri sendiri secara islam merupakan orang yang belajar ilmu agama yang belajar kepada Kyai di pesantren. Namun gus dur jika mengartikan orang yang mempunyai akhlak tapi tidak mondok juga layak di sebut santri. Siapa sangka dibalik arti santri yang mengkaji ilmu spiritual dan mengkaji intelektualnya di pesantren punya filosofi sendiri yang sedikit perlu dikaji.

 

Mengaji Kitab Kuning

Santri di pesantren sendiri tak lepas dar kata mengaji hal ini yang membedakan santri dari kalangan lain nya tentunya pengunaan kitab kuning adalah hal yang sudah biasa bagi santri di kalangan pesantren salaf. hal yang membedakan kitab kuning ini adalah kitabnya sendiri berwarna kuning berupa lembaran lembaran kertas yang dikarangan oleh Ulama termasyhur baik dari kalangan dunia maupun nusantara. Mengaji kitab kuning ini sebagai sarana merawat tradisi yang sekarang sudah hampir jarang kita temukan lagi pengajian kitab kuning.

Baca Juga  Presscon Founder Religion 20 KH. Yahya Cholil Staquf

 

Songkok Hitam

Sebagai Santri Songkok Hitam Merupakan Icon Khas yang tak boleh lepas bagi santri. Istilah songkok juga memiliki filososfi tersendiri yaitu kosong mbongkok. Artinya kurang lebih adalah mengosongkan hati dari sifat sombong dan mbongkok atau menunduk di hadapan Tuhan ( Tawadhu). Bisa juga diartikan bahwa orang yang sering memakai songkok seharusnya menjadi orang yang rendah hati dan selalu tunduk pada Tuhan.

Songkok Hitam Sendiri merupakan ciri khas bangsa nasional dalam hal ini songkok hitam paling disorot dunia ketika dipakai Presiden pertama Republik indonesia Presiden soekarno ketika dipakai dipelbagai acara kepresidenan internasional hal ini perwujudan sebagai wujud nasionalis. Dan sebagai landasan hubbul wathon minal iman yakni Cinta tanah air sebagian dari Iman. Selain itu ada othak athik gathuk yakni seluruh songkok di indonesia bertagline Songkok Nasional eheh.

 

Baju Taqwa Putih

Selain Songkok ,sebagai pelengkap para santri Baju taqwa putri adalah atribut khas yang tidak boleh lepas bagi kalangan santri taqwa putih atau biasa disebut baju koko .Warna putih sendiri memiliki arti suci dan bersih hal ini dimaksudkan santri yang harus memiliki hatinurani yang bersih
Sebagai mana orang yang mereka katakan tergantung apa yang kita kenakan
Ajhining diri soko lathi,ajining rogo soko busono.

 

Sarung

Selain songkok dan baju taqwa putih, agar menambah ciri khas santri dan menambah kesan santri sendiri adalah mengunakan sarung. Santri ketika mengenakan Sarung pastinya tak akan sendiri tentunya grombolan atau bareng bareng. Sarung sendiri memiliki corak dan motif berbeda beda hal ini difilosofikan sebagai santri itu nriman dalam seluruh keaadan.

Kesan corak dan motif yang berbeda beda diartkan sebagi santri harus menghargai seluruh perbedaan dan mampu menerima suluruh keanekaragaman. Hal ini karena santri dalam pesantren dan berasal dari asal daerah yang berbeda ,setiap daerah memiliki bahasa ,budaya dan kebiasaan yang tidak sama oleh karena itu santri dituntut harus mampu memiliki rasa toleran dan bersikap moderat mengenai seluruh perbedaan dan keankaragaman.

Baca Juga  Tidak Ada Alasan Untuk Tidak Belajar Al-Qur'an

 

Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda beda tetapi tetap satu jua. Mungkin ini sedikit filosofi dari santri yang sedikit diketahui oleh masyarakat, Santri Segudang Artiii.

Waalahualam bi showab.

 

Profil Penulis :
Ahmad Nizar Zuhdi Al Hakimi, Santri jenjang Akhir SMAU Berbasis Pesantren Amanatul Ummah. Bisa disapa zihad bisa besar hati menerima kritik saran di akun @_hadzeee.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *