Oleh: Ali Adhim

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Angka perceraian di kota besar itu naik lagi. Enam ribu lebih perkara — seolah-olah pengadilan agama telah berubah menjadi loket keluhan rumah tangga yang tak kunjung menemukan jalan pulang. Di balik tumpukan berkas, ada wajah-wajah yang tadinya berdoa di pelaminan, kini berdoa agar perkara cepat selesai.

Alasan yang paling sering muncul: ekonomi. Uang yang datang seperti tamu malas; sebentar nongol, lalu pergi tanpa pamit. Di dapur, minyak goreng ikut naik harga; di hati, naik pula tekanan. Cinta yang dulu berkilau seperti kembang api, kini tinggal asap yang memedihkan mata.

Di sisi lain, ada ayat yang sering kita dengar: menikahlah — jika miskin, Allah akan lapangkan rezeki. Ayat ini dikutip dengan semangat promosi, seolah-olah akad itu mesin ATM. Tinggal ucapkan ijab kabul, lalu dompet tiba-tiba bugar, usaha tiba-tiba berjaya, dan cicilan seketika lunas.

Padahal, kalimat langit itu tidak sedang menawarkan keajaiban jalan pintas. Ia mengajarkan tata krama: bahwa rezeki datang bersama tanggung jawab, bersama ikhtiar, bersama disiplin menata hidup. Rezeki tidak selalu berarti tambang emas — kadang hanya berarti dapur yang tetap mengepul dan hati yang tetap tenang.

Masalahnya, banyak rumah tangga berjalan seperti proyek yang dibangun tanpa gambar kerja. Menikah karena ingin cepat “naik kelas”, lalu terkejut ketika menemukan bahwa kelasnya ternyata penuh tugas. Tidak ada buku manual selain kesabaran, diskusi, dan keberanian menghemat.

Di sinilah statistik perceraian berbicara. Bukan karena janji Tuhan tidak ditepati, melainkan karena manusia sering menandatangani kontrak yang tak pernah ia baca: menikah itu ibadah, bukan investasi yang dijanjikan imbal hasil bulanan. Di dalamnya ada hari-hari panjang, ada cucian menumpuk, ada rasa letih, tetapi juga ada kesempatan saling mendoakan — inilah bagian dari rezeki yang kerap diabaikan.

Maka, ketika angka perceraian naik, mungkin kita perlu berhenti sebentar. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk mengatur ulang logika kita. Rezeki bukanlah hadiah untuk kemalasan; keberkahan bukanlah payung untuk menghindari kerja. Menikah adalah sekolah: yang lulus bukan mereka yang paling romantis, tetapi yang paling tekun belajar.

Dan jika suatu hari rezeki terasa seret, jangan buru-buru menyalahkan ayat. Mungkin yang perlu dibetulkan bukan langit — melainkan cara kita menjejak bumi.