Ada satu profesi yang kerjanya nyata, capek, dan kadang bikin kepala pening, tapi tetap saja dianggap tidak kerja apa-apa. Namanya: influencer. Atau lebih tepatnya, orang yang kalau pulang kampung sering ditanya, “sekarang kerjanya apa?” lalu dijawab dengan senyum ragu, “ngonten.”

Masalahnya, ngonten itu tidak terdengar seperti pekerjaan. Ia terdengar seperti hobi mahal yang kebetulan dibayar. Maka wajar jika di mata sebagian orang, influencer masuk kategori pengangguran versi estetik: tidak berangkat pagi, tidak pulang sore, tidak pakai seragam, tapi entah kenapa bisa beli kopi mahal.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Di masyarakat kita, kerja itu harus kelihatan capek. Idealnya, ada keringat, jam masuk jelas, dan wajah kusut sepulang kerja. Kalau tidak ada itu semua, sulit dipercaya sebagai usaha mencari nafkah yang sah.

Influencer bekerja di tempat yang tidak kasatmata: layar ponsel. Rapatnya lewat DM, kliennya tidak pakai map, dan target kerjanya diukur dari engagement, bukan absen fingerprint. Ini membuat profesi mereka sulit lolos verifikasi sosial, terutama di lingkungan yang masih menganggap kerja = duduk manis di kantor.

Ironisnya, ketika kontennya viral, orang-orang akan bilang, “enak ya hidupnya.” Tapi saat prosesnya tidak terlihat—mikir konsep, revisi berkali-kali, begadang edit video, menghadapi komentar nyinyir—semuanya dianggap tidak ada. Yang terlihat hanya hasil akhir: unggahan 30 detik yang tampak santai.

Padahal, influencer juga bekerja dengan tekanan. Bedanya, tekanan mereka tidak datang dari atasan, tapi dari algoritma. Kalau sepi, bukan cuma bos yang marah, tapi penghasilan ikut menghilang. Tidak ada gaji tetap, tidak ada THR, yang ada hanya harapan agar konten berikutnya tidak tenggelam.

Sayangnya, kerja yang tidak terlihat sering dianggap tidak ada. Influencer pun terjebak di dilema: terlalu santai dibilang malas, terlalu sibuk juga tidak dipercaya. Mau kerja keras, tapi hasilnya terlalu aesthetic untuk disebut usaha.

Akhirnya, banyak influencer yang bekerja sambil menjelaskan. Menjelaskan bahwa ini kerja. Menjelaskan bahwa ini bukan sekadar main HP. Menjelaskan bahwa pengangguran tidak biasanya bayar pajak dan klien.

Mungkin masalahnya bukan pada profesi influencer, tapi pada cara kita mendefinisikan kerja. Kita terlalu terbiasa mengukur usaha dari bentuknya, bukan dari proses dan tanggung jawabnya.

Karena di zaman sekarang, kerja tidak selalu kelihatan capek. Kadang capeknya disimpan, diedit, lalu diunggah dengan caption: “kerja dikit hari ini.”

Dan orang-orang pun tetap percaya: ah, paling juga nganggur.

Oleh: Aulia Azhara