Oleh: Muhammad Adib

Persoalan tambang yang terjadi di Raja Ampat kemarin menimbulkan polemik dan kontroversi ekologi di tanah air. Andai tidak dicegah, keindahan bentangan alam laut Raja Ampat berpotensi berubah menjadi gundukan lubang terowongan. Hijaunya pepohonan Pulau Raja Ampat bisa bernasib serupa dengan kondisi di Papua Tengah yang sudah berubah menjadi jurang ‘Grasberg’ yang mengerikan. Semuanya hanya demi meraup bijih-bijih nikel yang tak seberapa bila dibandingkan multiplier effect yang dihasilkan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Hanya demi nafsu syahwat ekonomi, Raja Ampat yang menjadi salah satu ikon destinasi wisata dunia siap ‘ditumbalkan’ demi oligarki kekuasaan. Mereka rela menukar maslahat alam demi mafsadat rekening gendut mereka. Kerusakan yang diakibatkan tangan kotor manusia benar-benar sudah melampaui kerusakan alami yang diperbuat oleh alam itu sendiri. Fenomena alam inilah yang disebut dengan antroposen.

Salah satu Ketua PBNU Ulil Absar Abdalla dalam wawancaranya di salah satu stasiun TV memancing diskursus publik dengan istilah baru yang disebut ‘Wahabi Lingkungan’. Suatu istilah yang merujuk pada pemahaman seseorang yang pragmatis dan tekstualis terhadap isu-isu lingkungan. Segala aktifitas ekstraktif yang merusak alam dilarang, kompromi pemanfaatan tambang untuk meningkatkan pemasukan bagi negara haram hukumnya, dan lain sebagainya. Hal ini yang dimaksud Gus Ulil dengan Wahabi lingkungan, dan aktivis lingkungan dari Greenpeace Iqbal Damanik menjadi sasaran Gus Ulil.

Perbedaan pandangan yang kontras ini membuat kubu terbelah, akan tapi yang anehnya mayoritas masyarakat lebih mendukung ‘Sang Wahabi Lingkungan’ daripada ‘Si Paling Aswaja Tambang’. Aswaja merupakan akronim dari Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah yang merupakan golongan mayoritas islam tidak hanya di Indonesia melainkan di seluruh dunia.

Gus Ulil jadi sasaran kritik karena sebagai tokoh agama yang mewakili organisasi islam terbesar di negeri ini malah lebih pro terhadap industri ekstraktif yang sudah jelas-jelas lebih banyak menyebabkan kerusakan daripada kebermanfaatan.

Gus Ulil bahkan tak mampu menjawab pertanyaan Iqbal bahwa belum ada satu pun lokasi tambang yang setelah dikeruk habis dikembalikan ke ekosistem awal saat sebelum diekstraksi. Tokoh Intelektual NU ini hanya bisa memberikan analogi yang tidak apple to apple yaitu dengan menggambarkan kondisi saat ia masih kecil yang masih banyak ditumbuhi pepohonan dan setelah dewasa berubah menjadi perumahan dan bangunan. Jawaban tesebut menurut keyakinan saya melenceng dari esesnsi pertanyaan Iqbal. Malah celetukan paling wow yang dilontarkan Gus Ulil “Kenapa anda begitu peduli untuk mengembalikan alam kepada ekosistem awal?”

Bertentangan dengan Prinsip Maqashid Syari’ah

Islam sudah merumuskan prinsip maqashid syari’ah (tujuan utama syari’at islam) sebagai benteng yang berfungsi untuk menjamin kelangsungan hidup seluruh makhluk dari berbagai jenis ancaman dan bencana. Menjaga agama (hifdz ad-diin), menjaga jiwa (hifdz an-nafs), menjaga akal (hifdz al-‘aql), menjaga keturunan (hifdz an-nasl), menjaga harta (hifdz al-maal).

Sebagian ulama kontemporer seperti Syekh Yusuf Al-Qardhawi berpendapat bahwa menjaga lingkungan (hifz al-bi’ah) merupakan bagian dari maqashid syari’ah yang lima. Mantan Rais Aam PBNU sekaligus Mantan Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin malah berpendapat bahwa hifz al-bi’ah merupakan maqashid syari’ah yang ke-6. Artinya menjaga lingkungan sama pentingnya dengan menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.

Pertambangan yang dilakukan di Raja Ampat terutama di Pulau Gag menjadi bahan refleksi dan introspeksi bagaimana prinsip etika lingkungan dibabat begitu saja. Pertama, berbagai jenis keanekaragaman hayati disana berpotensi lenyap akibat aktivitas penambangan. Hewan endemik, terumbu karang dan berbagai biodiversitas lainnya bisa saja mengalami kepunahan dini akibat penambangan secara brutal.

Kedua, bagaimana pula dengan dengan nasib nelayan yang telah lama melaut dan mata pencarian lainnya di daerah sekitar Pulau? Hal ini benar-benar kontradiktif dengan prinsip maqashid syari’ah yang menjunjung tinggi keberlanjutan kehidupan manusia termasuk alam didalamnya.

Ketiga, industri pertambangan nikel ini hakikatnya tidaklah bertahan lama, paling hanya sekitar 20-30 tahun. Setelah sumber daya alamnya habis? Pulau tersebut bisa saja menjadi pulau mati yang tak berpenghuni sebab tak ada lagi sumber penghidupan bagi masyarakatnya akibat penambangan yang destruktif.

Daya rusak yang dihasilkan dari industri ekstraktif jelas lebih besar dibandingkan dengan daya kemampuan merestorasi dan merehabilitasi ekosistemnya kelak. Sampai saat ini belum ada satupun bukti faktual yang melaporkan ekosistem hasil pertambangan kembali pulih total seperti semula saat sebelum aktivitas penambangan.

Tak ada pula bukti akurat yang menyebut  industri tambang berdampak positif secara ekonomi bagi penduduk sekitar. Jika memang benar, pastilah penduduk yang ada di Riau, Jambi, Maluku hingga Papua terbebas dari jerat kemiskinan. Buktinya rakyat Papua disekitar penambangan emas PT. Freeport saja tetap dalam keadaan miskin. Tak hanya itu bahkan pernah terjadi penembakan karyawan Freeport  di daerah penambangan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB).

Data WHO terbaru malah menyebut 60% atau lebih dari 150 juta masyarakat Indonesia berada dalam posisi miskin. Lantas, apanya yang berdampak? Dampak industri tambang hanya dirasakan segelintir elit yaitu para pengusaha, konglomerasi dan tentunya oknum pejabat yang berkepentingan.

Silahkan menambang, tapi kembalikan ekosistemnya persis seperti semula (jika mampu)

Sang Wahabi Lingkungan berpikir secara kritis, objektif dan predikif terkait masa depan lingkungan. Ia memiliki visi yang tegas demi menjaga keberlanjutan alam hingga ke anak cucu kelak. Penambangan yang ada saat ini seperti yang terjadi di Freeport tak memberikan dampak, apa iya kita akan percaya penambangan nikel di Pulau Gag dan sekitarnya akan berdampak signifikan? Tentu jangan sampai kita dibohongi hingga berkali-kali layaknya mobil esemka yang entah dimana rimbanya.

Cuaca Indonesia kini sudah semakin panas akibat berdirinya proyek mangkrak IKN. Hutan-hutan dibabat habis untuk memenuhi ambisi hasrat kuasa oligarki. Rakyat tak merasakan dampak yang signifikan terkait adanya Istana Garuda IKN, dampak ekonomi lebih-lebih dampak ekologis. Bagi oknum aswaja pendukung perusakan alam, silahkan saja menambang dan mengeruk nikel atau segala macam, asal oligarki dan konglomerasi sanggup untuk mengembalikan ekosistem alamnya setara dengan saat sebelum dilakukan penambangan. Anda sanggup? Saya yakin tak akan pernah.

Saya secara pribadi mendukung pemikiran ekstrim dan radikal dari ‘Sang Wahabi Lingkungan’ yang membentengi alam dari kepunahan, daripada mengiyakan oknum aswaja pendukung tambang dan perusak hutan. Terakhir, menurut keyakinan saya sunnah bahkan wajib hukumnya mendukung “Wahabi Lingkungan” dan bid’ah menjadi aswaja tambang pembabat alam. Save Raja Ampat demi maslahat umat, titik!!!