Akhir-akhir ini, hidup di desa sering diglorifikasi. Di media sosial, desa digambarkan sebagai tempat slow living—bangun pagi disambut kabut, minum kopi di teras, hidup tenang tanpa hiruk-pikuk kota, dan pulang sebelum magrib tanpa harus memikirkan cicilan. Pokoknya damai.
Sayangnya, semua itu hanya berlaku kalau kita hidup sendirian di hutan, tidak punya tetangga, dan kebal terhadap undangan hajatan.
Karena kenyataannya, hidup di desa itu bukan sekadar soal sawah hijau dan ayam berkokok. Hidup di desa adalah hidup dalam kalender sosial yang padat—bahkan lebih padat dari jadwal rapat orang kota. Bedanya, rapat di desa tidak bisa diwakilkan dan selalu berujung pada amplop.
Di kota, kita bisa slow living dengan memilih tidak datang ke acara kantor. Di desa, absen dari acara sosial bisa berujung pada status baru: “wong ora tau melu-melu.”
Misalnya tilik bayi. Bayi baru lahir, kita ikut bahagia. Tapi kebahagiaan itu harus diwujudkan dalam bentuk uang. Tidak boleh terlalu sedikit, karena nanti dikira pelit. Tidak boleh terlalu banyak, karena nanti jadi standar baru. Maka kita memilih nominal aman: cukup untuk menghormati, tidak cukup untuk menabung.
Lalu ada sambang omah anyar. Rumah orang lain baru jadi, kita ikut datang. Padahal rumah sendiri masih bocor, tembok belum diplester, dan pintu kamar mandi masih tirai. Tapi demi menjaga harmoni sosial, kita tetap hadir, membawa sesuatu, dan pulang membawa rasa syukur yang dipaksakan.
Belum lagi yasinan, tahlilan, selametan, hajatan, kondangan, dan acara-acara lain yang sebenarnya niatnya baik, tapi efek sampingnya keuangan. Di desa, hidup pelan-pelan itu bukan berarti pengeluaran ikut pelan. Justru rutin, konsisten, dan tidak bisa ditunda.
Ironisnya, semua ini sering dibungkus dengan kalimat mulia: nguri-uri tradisi. Padahal tradisi yang harus terus dikeluarkan tanpa pernah dihitung ulang, lama-lama bukan melestarikan budaya, tapi melestarikan kemiskinan yang rapi dan sopan.
Kita diajari hidup sederhana, tapi dituntut untuk selalu “pantes” di mata sosial. Kita diminta ikhlas, tapi ikhlas yang terlalu sering dipraktikkan tanpa jeda juga bisa membuat saldo menipis tanpa sempat bertanya: ini hidup pelan, atau hidup pasrah?
Maka jangan heran jika slow living di desa sering hanya terasa di unggahan Instagram. Di kehidupan nyata, yang pelan itu cuma langkah pulang setelah acara—karena sambil menghitung sisa uang di dompet.
Bukan berarti tradisi harus dihapus. Tidak juga. Tapi mungkin perlu diakui dengan jujur: hidup di desa itu bukan otomatis tenang. Ia hanya sunyi, tapi penuh tuntutan sosial yang halus, rapi, dan dibungkus senyum.
Dan barangkali, slow living yang paling realistis di desa adalah pelan-pelan menerima kenyataan bahwa hidup sederhana tidak selalu murah—kadang hanya lebih sering diminta ikhlas.
Oleh: Aulia Azhara

