Makam Kiai Song


Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/dawuhgur/domains/dawuhguru.co.id/public_html/wp-content/themes/wpberita/template-parts/content-single.php on line 98
Oleh: Dr. KH. Aguk Irawan MN
Cerita gowes tipis-tipis di sekitar makam Kiai Song (Mbah Kasongan) sekitar 3 km dari gubuk.
Nama Kiai Song (Kiai Abdulrouf) atau Mbah Kasongan disebut beberapa kali di naskah Babad Diponegoro bersama nama almaghfurlah Kiai Muhammad Salim bin Kiai Haji Nur Iman Mlangi karya Pangeran Diponegoro di Menado 1833, sebagai salah satu tokoh ulama tumenggung (komandan perang) yang memimpin Perang Jawa melawan Kompeni:
“Ing ngaprang sabilolah nulya pinaring nameku .. lawan binektanan iku, ngulama (tu)menggung kalih ika, Kyai Guru me-Mlangi, Muhammad Salim namanya, lan Ki Guru Song Kasongan, Ngabdul Rakup [Kiai Abdurrauf] ingkang nama, pandhita kang satunggal, Ngabdulatib namanipun ….”
KIAI SONG
Dari cerita rakyat disini, selain ia dipercaya sebagai pengikut setia Pangeran Diponegoro (termasuk yang memberi tahu daerah Guosari untuk sembunyi dan gerilya), ia juga dikenal mengajarkan banyak ilmu tarikat kepada murid dan pengikut seperjuangan Pangeran Diponegoro, tak terkecuali Kiai Mojo.
Selain itu, Kiai Song juga dipercaya sebagai leluhur dan cikal bakal desa Kasongan. Ia orang yang diangggap pertama kali mengajarkan dan menganjurkan pembuatan kerajinan gerabah kepada para penduduk sekitar, dan keahlian itu masih berlangsung hingga hari ini.
Hal tersebut bukan tanpa alasan, sebab
pasca-penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda, Kiai Song ini tetap melakukan perlawanan secara diam-diam. Diantaranya dengan cara mengajak warga sekitar agar tidak bertani atau bercocok tanam, tetapi beralih profesi menjadi pekundi atau pembuat peralatan dapur dari tanah liat. Kepada masyarakat, ia mengajarkan keahlian baru tersebut sebagai perajin gerabah.
Hal ini dilakukan, selain lahan pertanian di daerah kasongan kurang subur (area gunung sempuh), juga dikarenakan kompeni sering mengambil hasil panen para petani secara semena-mena, bahkan merampasnya. Dengan menjalankan strategi perjuangan nonfisik sebagai pekundi ini para kompuni kelabakan soal pangan…
Oh iya di dekat makam Mbah Kiai Song ini, menurut warga ada jg makam Nyai Sunan Kudus (Istri Sunan Kudus). Kapan-kapan kita akan ulas. Juga akan diulas tariqatnya Kiai Song yang terkenal dengn tariqat pemberontakan bersumber dari manuskrip. Insyaallah.
Wallahu’alam…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *