Oleh: Ummil Kamila Rochiem

Beredarnya video potongan di media sosial dengan thumbnail mencolok serta judul provokatif, berhasil memicu kebencian terhadap seorang ulama dalam hitungan jam. Ini bukan sekadar masalah perbedaan paham, tetapi gejala akut dari krisis literasi keagamaan di tengah banjirnya informasi. Nalar kritis ditaklukkan oleh emosi, dan tabayyun dikesampingkan atas dasar pembenaran dan sentimen terhadap oknum maupun golongan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Konten Keagamaan dalam Lingkaran Krisis Literasi

Hidup di era digital memudahkan kita dalam belajar agama sekaligus menyebarkannya. Kita tinggal di Indonesia, tapi bisa mengenal dan belajar dari para habaib dan ulama di berbagai provinsi bahkan dunia. Tanpa media sosial, bisa jadi saat ini kita belum mengenal para habaib dan ulama kecuali mendengar sebatas nama. Seperti dahulu ada sahabat Uwais Al-Qorni yang tidak pernah berjumpa secara langsung dengan Rasulullah Saw. meskipun sezaman.

Kemudahan dakwah digital tidak lepas dari tantangan, bahkan lebih kompleks. PR para pendakwah semakin besar, menyampaikan pesan nasihat saja tidak cukup. Umat saat ini mengalami banjir informasi, maka perlu mendapatkan edukasi dalam memilah informasi mana yang baik dan yang buruk. Tetapi, sebagaimana yang masyhur diketahui bahwa masyarakat kita termasuk rendah tingkat literasinya.

Krisis literasi menjadi senjata empuk bagi para pemecah belah umat. Mereka tidak perlu bersusah payah mengkaji kitab dan belajar kepada guru bersanad, mereka hanya butuh handal dalam retorika dan editing konten yang berpotensi viral. Saat ini banyak kita lihat video dengan thumbnail yang menyoroti oknum, serta judul yang clickbait untuk memancing rasa penasaran tanpa peduli apakah mengandung hoaks, fitnah, pencemaran nama baik, atau provokasi.

Kurangnya edukasi literasi akan membuat konten problematik lebih dipercaya karena belum bisa membedakan mana pendapat pribadi mana dalil. Naifnya, konten kreator sampai dianggap berilmu akan lihainya dalam beretorika hingga memiliki jutaan pengikut. Apalagi jika pengikutnya memiliki sentimen terhadap golongan atau oknum tertentu, maka mereka memilih konten untuk mencari pembenaran bukan kebenaran. Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan maraknya fanatisme, membid’ahkan, hingga mengkafir-kafirkan.

Satu hal yang penting. Kita tidak perlu berkecil hati apalagi sampai membenci saudara seiman. Kebencian akan menimbulkan perpecahan, padahal Rasulullah Saw. sangat ingin umatnya bersatu di surga kelak. Perlu diketahui bahwa konflik seperti ini pernah terjadi sejak zaman Rasulullah Saw. bahwa ada seorang muslim bernama Dzul Khumaisirah yang menegur keadilan Rasulullah Saw. sampai-sampai Sayyidina Umar ingin memenggal lehernya. Lalu, Rasulullah Saw. menanggapi:

“Biarkan dia. Sesungguhnya dia mempunyai pengikut, di mana shalat kalian akan tampak remeh jika dibandingkan shalat mereka, begitu pula puasa kalian dibandingkan puasa mereka. Mereka membaca Al-Qur’an tak melewati tenggorokan mereka (hingga masuk ke hatinya), Mereka melesat dari batas agama seperti melesatnya anak panah dari buruannya.”

Mewabahnya Fanatisme dan Polarisasi Umat

Siapa yang tidak tergugah emosinya ketika video dakwah ulama panutan kita atau guru kita, dipotong isinya menyoroti kalimat yang berpotensi kontroversi dan viral, kemudian dikomentari dan dicela habis-habisan. Tidak jarang mendapat tuduhan penyembah kubur, pendongeng, ahlul bid’ah, musyrik, bahkan kafir. Dari kondisi budaya fanatisme semakin mewabah, berdalih membela kebenaran, menimbulkan polarisasi antar umat Islam.

Sebelum menjustifikasi orang lain fanatik hendaknya kita muhasabah diri. Jangan-jangan kita standar ganda. Mari sejenak kita membaca hati, apa reaksi kita ketika ada perbedaan pendapat? Bagaimana jika ulama panutan kita mendapat kritik dan ternyata kritik itu benar? Bersediakah kita mengambil pendapat dari golongan lain yang sejalan dengan syariat? Berkenankah kita berdamai dengan golongan yang berseberangan?

Rasulullah Saw. telah mewanti-wanti kita sebagai umatnya dari bahaya fanatisme dalam hadits riwayat At-Tirmidzi.

ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇﻟَﻰ ﻋَﺼَﺒِﻴَّﺔٍ، ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﺗَﻞَ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﺼَﺒِﻴَّﺔٍ، ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ ﻣَﻦْ ﻣَﺎﺕَ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﺼَﺒِﻴَّﺔٍ

“Bukan dari golongan kami sesiapa yang mengajak kepada fanatisme, bukan golongan kami sesiapa yang berperang atas dasar fanatisme, dan bukan golongan kami sesiapa yang mati diatas fanatisme.”

Bayangkan, kita selama di dunia berdakwah menentang segala tuduhan yang dianggap keliru. Tetapi ternyata Allah Swt. membaca hati kita bahwa semua itu dilakukan atas dasar pembelaan terhadap golongan kita, bukan untuk menjaga persatuan umat Islam, bukan pula Allah Swt. dan Rasulullah Saw. Sehingga kelak Rasulullah Saw. tidak mengenal kita dan tidak memandang kita sebagai umatnya. Wal’iyyadzubillah.

Berkaitan dengan fanatisme, Habib Ali Al-Jufri menyampaikan pesan kepada kita semua dalam bukunya Kemanusiaan Sebelum Keberagaman. “Apapun ideologi kalian, tujuan, atau pemahaman yang kalian ikuti, ingatlah bahwa kelemahan kita berasal dari jiwa kita sendiri, melebihi kelemahan yang ada dalam ideologi, tujuan, dan pemahaman kita.”

Perbedaan merupakan sunnatullah. Kita perlu tenggang rasa menanggapinya dan tidak merasa paling benar. Dahulu para imam mazhab pun mengalami perbedaan pendapat, tetapi para imam saling menghargai bahkan memuji. Mereka sepakat untuk tidak sepakat, selesai. Sebagaimana disinggung oleh Ibn Hajar Al-Haitami: “Mazhabku benar dan mengandung kesalahan, mazhab selainku salah dan mengandung kebenaran.”

Fanatisme seringkali menghadirkan polarisasi umat. Bahkan mungkin, tanpa terasa dakwah yang kita sebar justru memperuncing masalah ini alih-alih menyatukan umat Islam. Menjawab polarisasi umat, Rasulullah Saw. telah memberikan contoh kepada kita melalui peristiwa hijrah ke Madinah. Hal pertama yang dilakukan Rasulullah Saw. saat itu menyatukan Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar. Sebab, pandangan Rasulullah Saw. selalu berorientasi pada persatuan dan selalu mencari celah persamaan di tengah perselisihan.

Sanad Keilmuan sebagai Fondasi Literasi Keagamaan

Memasuki era digital di mana informasi dan pengetahuan bebas tersebar membuat seseorang berpandangan bahwa sanad keilmuan bukan hal penting dalam belajar, khususnya ilmu agama. Sanad keilmuan dianggap konsep jadul, bahwa mengkaji agama cukup dari buku bahkan kitab secara otodidak. Mirisnya sanad keilmuan dianggap bagian dari trik marketing lembaga pendidikan Islam agar ilmu yang ditawarkan laku.

Sebenarnya, apa sanad keilmuan itu? Secara sederhana merangkum pendapat para ulama, sanad keilmuan merupakan rantai tersampainya ilmu dari seorang guru kepada murid yang terus tersambung hingga Rasulullah Saw. agar terhindar dari kesesatan dalam memahami ilmu agama dan menjaga keabsahan. Konsep belajar seperti ini merupakan ajaran langsung dari Allah, Rasulullah Saw. dan para salafus salih.

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.”

(QS, Al-Anbiya: 7)

Adapun sabda Rasulullah Saw. dalam riwayat Imam Muslim

الإسنادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الإسْنَاد لَقالَ مَن شَاءَ مَا شَاء

“Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad, pasti siapa pun bisa berkata dengan apa yang dia kehendaki.”

Adanya sanad keilmuan dalam Islam justru memperkaya konsep literasi modern. Dalam perspektif ilmu informasi, literasi mengajarkan seseorang akan pentingnya verifikasi sumber informasi. Seseorang dituntut kritis terhadap informasi dengan menganalisis keakuratan isi maupun sumber, sehingga lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi. Tanpa sanad keilmuan, maka ilmu agama yang disampaikan akan dianggap tidak kredibel jika diukur dengan konsep literasi informasi betapapun benar isinya.

Rasulullah Saw. sangat memikirkan umatnya, maka mari bersama kita jalin ukhuwah islamiyah di tengah perbedaan dengan tidak menyebar konten provokatif serta menahan diri dari kebencian. Saatnya, kita selektif dalam memilih pendakwah. Misal, belajar akidah kepada ulama yang ahli akidah dan bersanad. Mulai membiasakan diri untuk kritis kebenaran isi konten, apakah video yang dikritik konten kreator itu valid atau hanya kesalahpahaman? Itulah pentingnya tabayyun.

Wallahu a’lam bishowab.

 

 

Biodata Penulis

Ummil Kamila Rochiem. Merupakan seorang mahasiswi asal Malang jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam. Saat ini dia sedang mengabdi di sebuah pesantren tahfidzul Qur’an. Dia suka belajar dan sangat tertarik terhadap tasawwuf dan akidah. Sebagai mahasiswi perpustakaan, tentu sangat akrab dengan budaya literasi. Tidak heran bila membaca buku menjadi hobinya ditemani secangkir kopi hitam.