Oleh: Aulia Azhara
Ada orang-orang yang justru tampak paling bercahaya ketika dunia mencoba memadamkannya. Bukan karena ia melawan, melainkan karena ia memilih diam dengan kesadaran, dan membalas dengan kebaikan yang tak biasa. Salah satu di antara mereka adalah Sayyid Ali Zainal Abidin, cucu dari cucu Rasulullah ﷺ, seorang hamba yang hidupnya dipenuhi sujud dan air mata, tetapi juga dipenuhi kelapangan hati yang nyaris tak masuk akal bagi kebanyakan kita.
Dalam Kitab al-Tibr al-Masbūk fī Naṣīḥah al-Mulūk, Imam al-Ghazali meriwayatkan sebuah kisah yang sederhana, namun menyimpan kedalaman akhlak yang luar biasa. Kisah ini juga dilansir oleh NU Online, dan sejak lama menjadi cermin bagi siapa pun yang ingin belajar tentang kerendahan hati dan cara menyikapi hinaan.
خرج زين العابدين علي بن الحسين رضي الله عنه إلي المسجد فسبّه رجل فقصده غلمانه ليضربوه ويؤذوه, فناهم زين العابدين وقال: كفوا أيديكم عنه! ثم التفت إلي ذلك الرجل وقال: يا هذا أنا اكثر مما تقول وما لا تعرفه مني أكثر مما قد عرفته, فإن كان لك حاجة في ذكره ذكرته لك. فخجل الرجل واستحي فخلع عليه زين العابدين قميصه وأمر له بألف درهم, فمضي الرجل وهو يقول: أشهد أن هذا الشاب ولد رسول الله صلي الله عليه وسلم.
Sayyidina Ali Zainal Abidin keluar menuju masjid. Di tengah langkahnya, seorang lelaki mencaci dan menghinanya. Para pengikutnya segera bereaksi; mereka hendak memukul dan menyakiti orang itu. Namun Ali Zainal Abidin menghentikan mereka. Dengan suara yang tenang ia berkata, “Tahanlah tangan kalian darinya.”
Lalu ia mendekati orang yang mencacinya itu dan berkata, “Wahai tuan, aku memiliki keburukan lebih banyak dari yang engkau katakan. Apa yang tidak engkau ketahui tentang diriku jauh lebih banyak daripada yang telah engkau ketahui. Jika engkau ingin aku menyebutkannya, akan kusebutkan semuanya.”
Mendengar itu, orang tersebut terdiam. Malu. Kepalanya tertunduk. Dalam keadaan itulah Ali Zainal Abidin memberikan pakaiannya dan memerintahkan agar orang itu diberi seribu dirham. Orang itu pun pergi sambil berkata, “Aku bersaksi bahwa pemuda ini benar-benar keturunan Rasulullah ﷺ.”
Kisah ini tidak sekadar mengajarkan kesabaran. Ia mengajarkan cara memandang diri sendiri. Ali Zainal Abidin tidak merasa terhina oleh cacian, karena ia hidup dalam kesadaran akan dosa-dosanya. Bagi orang yang selalu ingat akan dosanya, hinaan tidak lagi memiliki daya untuk melukai. Sebab di dalam hatinya telah tertanam pengakuan: aku memang lebih buruk dari itu.
Cacian, dalam pandangan beliau, bukan ancaman martabat, melainkan cambuk pengingat. Sebuah sentakan lembut dari Allah agar hati tidak tertidur dalam rasa suci palsu. Karena sering kali, yang membuat manusia jatuh bukanlah hinaan, melainkan pujian—pujian yang membuat lupa diri, lupa dosa, dan lupa bahwa ia hanyalah hamba yang penuh cela.
Ali Zainal Abidin bahkan menawarkan kepada pencacinya untuk menyebutkan seluruh keburukan yang ada pada dirinya. Seolah ia ingin berkata: engkau belum mengenalku sepenuhnya, dan aku lebih tahu betapa rusaknya diriku di hadapan Allah. Maka, bagaimana mungkin ia marah hanya karena satu dua kata?
Dalam diamnya, beliau sedang mengajarkan satu pelajaran besar: orang yang sibuk memperbaiki dirinya tidak punya waktu untuk membalas hinaan orang lain.
Lebih dari itu, beliau membalas cacian dengan kebaikan. Ia melarang kekerasan. Ia mendekati dengan keramahan. Ia memberi dengan kelapangan. Akhlak inilah yang akhirnya menundukkan hati si pencaci. Tanpa ceramah. Tanpa ancaman. Tanpa kemenangan semu.
Di titik inilah, kita memahami bahwa keturunan Nabi tidak hanya dikenali dari nasab, tetapi dari akhlak. Dari cara marah yang ditahan. Dari cara ego yang dikalahkan. Dari cara hati yang selalu merasa kurang di hadapan Allah.
Imam Abu ‘Utsman al-Hirri pernah berkata:
أصل التواضع ثلاثة: أن يذكر العبد جهله ويعترف في الحال بتقصيره ولا ينظر إلي تقصير غيره
“Akar tawadhu’ ada tiga: mengingat kebodohan diri, mengakui kekurangan dalam setiap keadaan, dan tidak memperhatikan kekurangan orang lain.”
Ali Zainal Abidin telah mempraktikkan ketiganya dalam satu peristiwa. Ia ingat kebodohannya, mengakui kekurangannya, dan tidak sibuk menilai keburukan orang yang menghinanya.
Maka, barangkali yang perlu kita tanyakan bukanlah mengapa aku dihina, melainkan sudah sejauh mana aku mengenal dosaku sendiri. Karena bisa jadi, hinaan yang datang adalah bentuk kasih sayang Allah yang ingin menyelamatkan kita dari kesombongan yang tak kita sadari.
Maka, barangkali yang perlu kita tanyakan bukanlah mengapa aku dihina, melainkan sudah sejauh mana aku mengenal dosaku sendiri. Sebab orang yang benar-benar mengenal dirinya, tidak mudah terkejut oleh cacian. Ia tahu bahwa apa yang tampak di permukaan hanyalah sebagian kecil dari keburukan yang ia simpan rapat-rapat di hadapan Allah. Karena bisa jadi, hinaan yang datang adalah bentuk kasih sayang Allah yang paling halus—datang bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menyelamatkan hati dari kesombongan yang tak kita sadari tumbuh pelan-pelan.
Sering kali, kita merasa tersinggung bukan karena hinaan itu tidak benar, melainkan karena ia menyentuh ego yang selama ini kita rawat diam-diam. Kita ingin tampak baik, ingin dianggap suci, ingin dikenang sebagai orang yang benar. Padahal di hadapan Allah, yang paling dekat justru mereka yang paling jujur mengakui keburukannya. Ali Zainal Abidin mengajarkan bahwa kehormatan sejati tidak lahir dari pembelaan diri, melainkan dari keberanian untuk merendahkan diri—bukan di hadapan manusia, tetapi di hadapan kebenaran tentang siapa diri kita sebenarnya.
Dengan cara itu, hinaan kehilangan kuasanya. Ia tidak lagi menjadi luka, tetapi menjadi pengingat. Tidak lagi menjadi racun, tetapi menjadi obat yang pahit namun menyembuhkan. Dan di sanalah akhlak tumbuh: ketika hati lebih sibuk memperbaiki diri daripada sibuk meluruskan penilaian orang lain.
Dan dari Sayyid Ali Zainal Abidin, kita belajar: tidak semua luka harus dibalas, dan tidak semua hinaan harus dijawab, sebagian cukup dipeluk dengan kesadaran, lalu dilepaskan dengan kebaikan.

