Oleh: Ali Mursyid Azisi

Thoha Muntaha Abdul Manan merupakan pengasuh BPUI (Balau Pendidikan Utama Islam) / PP. Minhajut Thullab, Glenmore, Banyuwangi. Salah satu putra almaghfurlah KH. Abdul Manan (Mbah Manan) pendiri PP. Minhajut Thullab Pusat di Muncar Banyuwangi, itu memiliki karakteristik tersendiri dalam menyampaikan ceramahnya. Mulai dari ketegasannya, bahkan humor-humornya yang terkadang diluar dugaan santri-santrinya bahkan masyarakat umum.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pada saat mengisi tausiyah di acara refleksi tahun baru di Kabupaten Banyuwangi pada 2020 lalu di Channel Youtube “Bil Hikmah” (31/12/2019), Kiai Thoha (Abah Thoha) menjelaskan kisah teroris yang mengenakan celana baja menjelang meledakkan bom yang ada di sekujur tubuhnya. Lantas yang terbesit dalam benak jama’ah yang mendengarkan termasuk saya sekali pun sebagai salah satu santrinya bertanya-tanya dan turut menalarkan otak untuk berfikir keras mengapa teroris itu mengenakan celana Baja.

Kiai Thoha menjelaskan:

“Mengapa teroris tersebut mengenakan baja?, ternyata setelah diperiksa, maaf, kemaluannya dilindungi dengan baja, teroris itu ditanya, “Loh kenapa daerah itu kok kamu lindungi dengan baja?, jawab sang teroris itu demikian, “Karena jika nanti bom ini meledak, hanya ini (kemaluan) yang utuh untuk melayani tujuh puluh dua bidadari di surga”. Tutur Kiai Thoha dengan ekspresi yang membuat audien tertawa ngakak.

Mendengar beliau menceritakan hal itu, audien pun tak kuasa menahan tawa, termasuk para Kiai yang tengah duduk bersanding di atas panggung. Abah Thoha pun lanjut menjelaskan bahwa tindakan demikian merupakan pemikiran/ideologi yang sesat-dangkal tentang bagaimana bisa mendapatkan bidadari dengan aksi kekerasan meledakkan bom, bahkan dengan jalan bunuh diri, sungguh tidak mungkin.

Sebagaimana kaum tekstualis yang supremasi (menganggap dirinya paling unggul dan benar) layaknya teroris yang diceritakan Kiai Thoha di atas merupakan hal tidak dibenarkan dalam Islam. Khaled Abou el-Fadl dalam karyanya yang bertajuk “The Place of Tolerance in Islam”, menyatakan bahwa kaum puritan yang juga teroris termasuk di dalamnya tidaklah segan menggunakan aksi kekerasan bahkan mengancam nyawa mereka yang tidak sependapat dengan pemikirannya, termasuk sesama muslim sekalipun.

Dengan menyandarkan pada teks Qur’an maupun ulama yang dianutnya, kelompok ekstrimis layaknya teroris semacam ini yang dalam dunia global akrab dikenal ISIS, jikalau di Indonesia beberapa waktu lalu ada Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Ali Kalora sempat menggemparkan dunia maya. Demikian pula tidak segan meski dengan aksi kekerasan, kelompok ekstremis (teroris) pun menggencarkannya yang menurutnya sebagai jihad di jalan Allah, karena beranggapan telah memanifestasikan hukum Allah di muka bumi, meski salah paham dalam menangkap teks Qur’an, karena menggunakan metode tekstualis.

Lanjut kiai Thoha Muntaha menjelaskan, bahwa untuk mendapatkan tujuh puluh dua bidadari di surga tidaklah perlu menempuh jalan bom bunuh diri dan menghakimi seseorang dengan kekerasan. Justru hanya dengan sholawat sebanyak mungkin kepada baginda Nabi Muhammad Saw, tujuh puluh dua bidadari itu pun akan mudah didapatkan. Tidak hanya itu, dengan sholawat tutur Kiai Thoha dapat menentramkan rumah tangga, memeprlancar rezeki, menghindarkan dari hal-hal buruk.

Demikian dikarenakan sholawat mengikat dan mencakup seluruh elemen kehidupan. Oleh karenanya siapa pun yang bersholawat kepada Nabi, maka hidupanya akan dijamin oleh Allah Swt, baik itu semasa di dunia mau pun kelak di akhirat. Itulah betapa penting dan agungnya mengamalkan sholawat dalam kehidupan. Tidak hanya manusia yang diperintahkan Allah Swt untuk bersholawat, akan tetapi seluruh alam semesta dan malaikat pun dianjurkan untuk bersholawat kepada baginda Muhammad Saw sebagai kekasih tercinta-Nya.

Sebagai penutup, ada salah satu Hadits tentang fadhilah bershalawat:

Perbanyaklah membaca shalawat untukku, karena shalawatmy padaku itu menyebabkan pengampunan dosa-dosamu, dan mintalah pada Allah untukku derajat wasilah, maka sesungguhnya wasilahku dihadapan Tuhan itu akan berupa syafa’at bagi kamu”. (HR. Ibn Asaakir). (Irsyadul ‘Ibad Ilasabilirrasyad (Petunjuk ke Jalan Lurus), Surabaya: Penerbit Darussagaf, PP Alawi, hlm 428).