Oleh: Ahmad Misbakhul Amin

Setiap agama memiliki ritual tertentu dalam mengekspresikan batin spiritual. Salat untuk umat muslim dan misa untuk umat Katolik misalnya. Tak jarang pula di beberapa elemen ditambahkan ritual lokal yang lahir dari akulturasi budaya setempat. Tak heran dalam kadar tertentu muncul wacana Islam Nusantara dan Islam Jawa. Celakanya tulisan ini tidak hendak berbincang tentang keduanya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Masyarakat Desa Boro, Kulon Progo dengan mayoritas penduduk beragama Katolik menenteng tas dan berbaju batik memarkir motor di Gereja Santa Theresia Liseux pagi itu. Tampaknya Misa akan segera dilaksanakan. Paroki juga terlihat berwibawa mengenakan jas hitam, tak kalah keren dengan sepatu pantofelnya.

Ajaibnya telinga saya yang sudah 24 tahun dijejali dengan ngaji dan azan justru dengan seksama mendengarkan nasehat Paroki dari atas mimbar. Berbagai rangkaian saya amati dan satu panorama menjadi tanda tanya besar bagi saya. Mengapa syair dan lagu dalam ritual misa itu dinyanyikan dengan diiringi musik terbang yang jelas-jelas identik dengan hadrah pesantren dan NU Lokal? Apa ini Jam’iyyah Katolik NU ? Atau identitas mimikri dalam rangka Kristenisasi ? ah, saya tanya saja ke salah seorang jemaat.

Salah seorang jemaat lansia menjadi obyek paling tepat untuk menjawab kegundahan saya. Ia menceritakan asal muasal mengapa terbang justru yang dipilih menjadi alat musik pengiring Misa. Menurutnya, dipilihnya alat musik ini bukan hanya sebab filosofis belaka, apalagi normatif. Ia tegaskan sejak awal, tidak ada upaya kristenisasi apalagi masuk dalam radar Katolik NU yang jelas-jelas hanya lahir dalam pikiran saya.

Usut punya usut ternyata memang terdapat dua poin indikator. Secara geografis desa ini dikelilingi oleh tiga desa yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Menurut jemaat setempat sudah menjadi kewajiban bagi masyarakat berketuhanan untuk menghormati kepercayaan dan keyakinan warga lain. Maka penggunaan terbang dalam misa ini diilhami oleh rasa penghormatan dan toleransi. Tidak ada penjelasan mendalam layaknya penelitian tentang ini, indikator pertama terjawab.

Kedua, akulturasi budaya. Sebagai daerah yang berdiri dan hidup di bawah naungan DI Yogyakarta, budaya musik juga masih kental dengan unsur keraton dalem. Penggunaan terbang sebagai alat musik pengiring memang tidak tunggal. Ketipung, gambang, dan gong memang terlihat pula dimainkan. Saya melihat memang furnitur gereja dan kostum yang dikenakan jemaat juga khas lokal Yogyakarta. Tentu tidak ada yang mengenakan kostum khas muslim seperti sarung BHS dan Wadimor khas santri pesantren. Simpelnya, penggunaan keduanya memang dalam rangka akulturasi budaya Jawa lokal sekaligus dalam rangka penghormatan bagi pemeluk agama Islam.

Fenomena ini menjadi pengalaman baru bagi saya ketika tengah melakukan pengabdian di daerah setempat. Saya simpulkan sederhana, terkadang unsur agama justru menjadi ruang eksotis yang tetap inklusif dan humoris terhadap nilai humanis dan budaya lokal. Jadi menggunakan tafsir tunggal terhadap satu panorama baru adalah kesalahan fatal. Baca tulisan ini dengan santai, resapi dan sesekali sambil nyeruput pahitnya kopi.

Tabik.