Opini  

Tradisi Talaman, Budaya Luhur Pesantren Nurul Islam Mojokerto


Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/dawuhgur/domains/dawuhguru.co.id/public_html/wp-content/themes/wpberita/template-parts/content-single.php on line 98

Oleh: Muhammad Fakhruddin Naufal

Pondok pesantren dewasa ini menjadi tempat yang begitu menarik minat dan perhatian masyarakat. Bukan hanya sebagai lahan maupun sarana menimba ilmu an sich, namun sebagai media yang adaptif-konstruktif dalam membentuk karakter maupun kepribadian seseorang. Tidak berlebihan jika banyak atensi yang diberikan sebagian besar orangtua dalam membentuk anaknya agar mempunyai kepribadian yang unggul dan berakhlakul karimah melalui eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan indegeous

Disamping itu, pondok pesantren sebagai sarana pendidikan juga tidak bisa lepas dengan relasi pendidikan formal yang mengajarkan keilmuan umum dengan berbagai macam skill maupun kompetensi. Titik tekan proses pembelajaran di pesantren adalah terdapat Transfer of Values (transfer nilai-nilai) yang tidak diperoleh di pondok pesantren yang diberikan oleh Ustadh dan Ustadahnya. Para santri beraktivitas sehari-hari dengan teratur, istiqomah menjalan ibadah mahdhah dengan penuh kebersahajaan serta menjunjung tinggi sifat egaliter dalam bergaul dengan tetap berprinsip untuk taat pada kiai. Tindak-tanduk mereka sebagai santri menjadi sebuah cerminan budaya luhur yang senantiasa dilestarikan dalam memberikan makna kehidupan yang berharga daripada sekedar belajar bidang keilmuan yang menekankan pada aspek kognitif.

Sejak zaman dahulu, pondok pesantren memang sarat dengan tradisi-tradisi yang masih melekat di kalangan para santri maupun kiainya. Ada begitu banyak tradisi yang merupakan ciri khas dari sebuah pondok pesantren, salah satunya seperti tradisi makan bersama, yang biasa dikenal di kalangan para santri Nurul Islam dengan sebutan makan talaman. Makan Talaman bisa dimaknai ketika terdapat dua atau lebih santri sedang makan bersama-sama dalam satu wadah yang lebar. Umumnya, wadah tersebut berbentuk persegi panjang seukuran kurang lebih selebar laptop 14 inch. Praktek Makan talaman dilakukan oleh para santri hampir di setiap waktu makan mereka tiba yaitu di pagi hari, siang, dan malam hari.

Baca Juga  Kesederhanaan dalam Karakter Ganjar Pranowo Warisan Ajaran Mbah KH. Hisyam Abdul Karim?

Di beberapa pesantren, misalnya di pesantren salaf terdapat budaya serupa yang disebut muluk (makan pakai tangan), makannya tetap dilakukan bersama-sama hanya saja tidak menggunakan sendok namun secara langsung dengan tangan masing-masing. Di daerah Pasuruan misalnya, daerah yang terkenal dengan pesantrennya yang sudah tua berumur, hal ini dikenal dengan sebutan mayoran.

Dahulu, makan bersama orang banyak hanya sekedar beralasakan daun pisang pun jadi. Ditata memanjang dengan tujuan agar cukup untuk makan banyak orang. Mirisnya, tradisi semacam itu saat ini sudah mulai jarang ditemukan. Selain karena tujuannya adalah untuk meminimalisir tenaga mencuci atau karena minimnya peralatan makan, juga bertujuan untuk mempererat ukhuwah sesama muslim. kondisi demikian diperkuat dengan kajian skripsi yang ditulis Siti Muthoharoh yang mengurai bahwa keadaan makan talaman seperti ini adalah awal mulanya dimulai dari makan bersama di atas nampan, biasanya mulai dilaksanakan pada bulan ramadhan, dari sejak berdirinya sebuah ponpes para santri sudah melaksanakan makan bersama di dalam pondok, karna ada kendala sumber air. Pada saat itulah air tawar susah, harga air bersih mahal, dan makan saat itu terbatas.

Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika tradisi Makan talaman menjadi cara paling efektif para santri untuk lebih mempererat  ukhwah maupun kebersamaan diantara mereka. tidak mengherankan jika terdapat adagium lama yang berbunyi perbedaan prinsip, pendapat dan pendapatan tidak akan mampu menggoyahkan rasa kekeluargaan antara mereka. Karena makan satu nampan dengan banyak tangan terlalu kokoh untuk sekedar menghadapi perbedaan prinsip dan pilihan. Nah seringkali ditengah-tengah proses makan bersama, terjadi percakapan ringan, senda gurau, dan saling bertukar pikiran. Lebih-lebih lagi terkadang dengan ketersediaan bahan pangan yang sederhana dan tidak banyak, memaksa mereka harus mau berbagi satu sama lain. Hal itu dapat juga diistilahkan “sama rasa, sama rata”. Satu makan maka semua juga harus makan. Demikian sebaliknya, satu tidak makan maka yang lain pun akan turut tidak makan. Hal seperti ini acapkali terjadi justru berasal dari lingkungan pesantren itu sendiri yang penghuninya tidak sedikit. Umumnya, dalam satu pesantren saja dapat terdiri dari ratusan atau bahkan ribuan santri yang mukim disana. Maka, mereka hidup tidak sendirian, teman mereka juga menjadi bagian dari dirinya.

Baca Juga  Belajar Berjuang Kekinian dari Falsafah Sumpah Pemuda

Makan talaman juga mendidik seorang anak untuk menjadi pribadi yang disiplin dan lebih menghargai pentingnya waktu. Dengan aktivitas mereka yang begitu padat dengan waktu yang relatif singkat antara kegiatan satu dengan kegiatan lainnya  membuat mereka harus memutar otak untuk bisa lebih tertib mengatur waktu. Sebab, dengan makan bersama-sama menggunakan talam akan bisa memangkas waktu menjadi lebih singkat dan efisien.

Dalam pandangan yang lain, makan talaman juga menerapkan replikas sholat berjamaah. Dalam literatur kitab kuning dijelaskan bahwa berjamaah merupakan salah satu aktifitas mulia yang dilakukan secara bersama. Kondisi demikian juga berlaku pada tradisi makan talaman yang sudah lama terimplementasikan di pesantren Nurul Islam. Melalui makan talaman, kita mendapatkan pelajaran yang begitu berharga yaitu membangun karakter kebersamaan maupun semangat egaliter dalam konteks sosial masyarakat, lebih-lebih dalam kehidupan di pondok pesantren. ‘Senasib sepenanggungan dan satu rasa satu makanan’ rasanya menjadi kata yang pas untuk mengungkapkan tradisi ini. Tradisi tersebut dapat menghindarkan santri dari sifat kikir dan bakhil serta tidak akan melunturkan rasa kekeluargaan antar mereka. Dalam lingkungan pesantren, tradisi makan talaman akan terus dipertahankan dan dilestarikan agar mempererat kerukunan antar mereka. Hal tersebut karena salah satu prinsip dalam pesantren adalah kesederhanaan dan sifat kekeluargaan tanpa batas.

Oleh karenanya, segala perilaku maupun bentuk aksentuasi santri di pesantren mempunyai landasan teoritis dan teologis yang kuat mengakar mengikuti tradisi kiai, ulama hingga sampai kepada Kanjeng Nabi Muhammad meliputi bagaimana memahami al qur’an dan as sunnah, etika amar ma’ruf nahi mungkar, cara bersosial masyarakat, membangun tali persaudaraan maupun dalam mensyiarkan islam Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah. Semuanya diatur secara rapi melalui Turats (kitab kuning) dengan diimbangi tirakat para ulama. Maka tidak mengherankan jika konsep pendidikan islam yang komprehensif  justru muncul dan ada di pondok pesantren. Pesantren tidak hanya sekedar lembaga yang menaungi keilmuan umum saja, namun mengajarkan tentang pentingnya karakter seorang yang berintegritas, berakhlak, dan berbudi pekerti yang luhur. Wallahu A’lam.

Baca Juga  Mengupas Teori Rhonda Byrne yang Serupa dengan Konsep Husnudzon

*Muhammad Fakhruddin Naufal, Santri Yayasan Pondok Pesantren Nurul Islam Pungging Mojokerto.

Penulis: Muhammad Fakhruddin NaufalEditor: Helmi Nabil

Respon (1)

  1. Menginspirasi sekali, semoga tradisi pesantren ini tidak punah karena adanya perkembangan zaman…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *