Teori Tindakan Sosial Max Weber Dalam Mengkaji Tradisi Asyura Dan Shafar Masyarakat Lembung Timur


Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/dawuhgur/domains/dawuhguru.co.id/public_html/wp-content/themes/wpberita/template-parts/content-single.php on line 98

Oleh: Zahratun Naemah

Mahasiswa Magister UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Teori Tindakan Sosial Max Weber

Dalam kehidupan sosial pastinya manusia melakukan kegiatan interaksi dengan alam sekitarnya atau manusia berinteraksi dengan masyarakat lainnya. Dalam melakukan kegiatan interaksi pasti ada yang namanya tindakanatau perbuatan yang dilakukan oleh setiap individu atau masyarakat. Perbuatan tersebut diperoleh dari proses belajar secara formal seperti tindakan yang diajarkan di sekolah maupun proses belajar secara informal seperti tindakan yang diajarkan di lingkungan keluarga atau di lingkungan masyarakat. Manusia dalam menjalani kehidupannya selalu aktif dan tidak bisa diam. Manusia melakukan kegiatan sehari-hari mereka seperti halnya bekerja, belajar dan berhubungan dengan manusia lainnya.

Kegiatan tersebut tentunya dilakukan setiap individu dengan tujuan tertentu. Seperti halnya belajar untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat, bekerja untuk mendapatkan uang yang digunakan untuk kebutuhan ekonomi dan untuk kelangsungan hidupnya, berhubungan dengan manusia lain untuk saling tolong-menolong. Setiap perbuatan yang dilakukan untuk mendapatkan tujuan tertentu dinamakan tindakan social. Tindakan sosial sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Hal ini dikarenakan manusia memiliki dorongan untuk hidup bermasyarakat. Manusia mempunyai naluri untuk hidup bersama dengan manusia lain. Manusia juga dikatakan sebagai makhluk sosial yang artinya manusia tidak bisa hidup tanpa adanya bantuan manusia lainnya.

Max weber adalah salah satu ahli sosiologi dalam sejarah bangsa jerman. Menurut Max Weber objek kajian sosiologi adalah tindakan- tindakan social. Suatu tindakan disebut tindakan social jika tindakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain atau ditujukan pada orang lain. Membahas tentang suatu tindakan individu sepanjang tindakan itu mempunyaimakna atau arti subjektif bagidirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain maka termasuk dalamkategori tindakan social, tindakan sosialmerupakan tindakan yang nyata- nyata diarahkan kepada orang lain.

Tindakan social dapat berupa tindakan yang bersifat membatin atau bersifat subjektif yang mungkin terjadi karena pengaruh positif dari situasi tertentu atau merupakan tindakan perulangan dengan sengaja sebagai akibat dari pengaruh situasi yang serupa atau berupa persetujuan secara pasif dalam situasi tertentu. Menurutnya, semakin rasional tindakan sosial itu semakin mudah untuk dipahami, Weber secara khusus mengklasifikasikan tindakan sosial manusia kedalam empat tipe:[1]

  1. Tindakan Sosial Berorientasi Tujuan, Tindakan ini ditentukan oleh pengharapan-pengharapan mengenai prilaku objek-objek didalam lingkungan dan prilaku manusia lainnya. Pengharapan pengharapan itu digunakan sebagai kondisi-kondisi atau alat- alat untuk mencapai tujuan-tujuan aktor lewat upaya dan perhitungan yang
  2. Tindakan Sosial Berorientasi Nilai, adalah tindakan yang didasarkan atas nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat, tindakan ini dilakukan dengan memperhitungkan manfaatnya. Tindakan Sosial Berorientasi Nilai dipenuhi untuk mendapatkan kriteria baik dan benar dalam masyarakat dan kesesuaian tindakan dengan nilai-nilai dasar yang berlaku dalam lingkungan masyarakat.
  3. Tindakan Tradisional, Tindakan ini dilakukan atas dasar kebiasaan , adat istiadat yang turun temurun tanpa berhenti. Tindakan seperti ini biasa dilakukan pada masyarakat yang tradisi adatnya masih kental, sehingga dalam melakukan tindakan ini masyarakat tidak pernah mengkritisi dan memikirkan terlebih dahulu.
  4. Tindakan Afektif Tindakan Afektif adalah tindakan yang sebagian besar didasarkan atas perasaan (afeksi) maupun emosi tanpa pertimbangan dan perhitungan yang matang. Tindakan afektif dapat dikatakan berupa reaksi spontan yang terjadi karena perasaan makna perasaan disini dapat berupa rasa gembira, sedih, cinta, dan lain-lain yang muncul begitu saja sebagai ungkapan langsung terhadap keadaan tertentu.

Dari ke empat jenis tindakan sosial yang di utarakan Max Weber, yang ingin disampaikannya adalah bahwa tindakan sosial apapun wujudnya hanya dapat dimengerti menurut arti sabjektif dan pola-pola motivasional yang berkaitan dengan itu. Untuk mengetahui arti subjektif dan motivasi individu yang bertindak, yang diperlukan adalah kemampuan untuk berempati pada peranan orang lain. (Narwoko, dkk, 2004: 19)

Baca Juga  Al-Qusyairi: Presepsi Fana' dan Baqa'

 

Mengkaji Tradisi Asyura Masyarakat Lembung Timur Teori Max Weber

Tradisi Asyura merupakan kegiatan rutinitas tahunan yang dilakukan oleh masyarakat umat muslim Desa Lembung Timur, kata Ashura sendiri mempunyai arti kesepuluh. Secara terminologi, hari Ashura adalah hari ke10 pada bulan Muharram dalam kalender Islam. Dalam Islam hari Ashura dipandang sebagai hari yang mempunyai keutamaan karena pada hari tersebut Allah swt. telah menentukan banyak peristiwa yang terjadi dimuka bumi. Seperti: hijrahnya Nabi Muhammad dari mekkah ke madinah yang perjalanannya itu penuh dengan rintangan dan hambatan, bebasnya Nabi Nuh as. dan ummatnya dari banjir besar, Nabi Ibrahim as. selamat dari apinya Namrudz, kesembuhan Nabi Ya’kub as, dari kebutaan dan ia dibawa bertemu kembali dengan Nabi Yusuf as, pada hari Asyura, Nabi Musa as. selamat dari pasukan Fir’aun saat menyeberangi Laut Merah, serta beberapa peristiwa lainnya.

Beberapa peristiwa yang terjadi di hari Asyura tersebut menjadikan masyarakat muslim Desa Lembung Timur melaksanakan kegiatan dengan berbagai cara dan ritual keagamaan dan dengan tujuan antara lain agar mendapatkan keselamatan (Menolak Bala’), meneruskan warisan leluhur dan agar mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda karena pada bulan Asyura ulama’ terdahulu menyarankan untuk memperbanyak bersedekah dengan makanan paling istimewa, dan pada zaman dahulu makanan paling istimewa di Desa Lembung Timur Yaitu bubur, yang kita kenal dengan “ Tajhin Sorah” hingga akhirnya makanan ini dijadikan makanan utama dalam bulan Asyuro hingga melekat sampai sekarang, kemudian pada tanggal 10 Muharrom melaksanakan puasa dan juga melaksanakan kegiatan ngaji bersama di Surau terdekat.

Untuk mengkaji tindakan social masyarakat di Desa Lembung Timur dalam Tradisi Asyura dapat dikaji dari beberapa tipe tindakan sosial menurut Max Weber berikut ini, yaitu:

  1. Tindakan Sosial Berorientasi Tujuan, Tindakan ini ditentukan oleh pengharapan-pengharapan mengenai prilaku aktor didalam lingkungan dan prilaku manusia lainnya. Pengharapan pengharapan itu digunakan sebagai kondisi-kondisi atau alat-alat untuk pencapaian tujuan- tujuan sang aktor sendiri yang dikejar dan diperhitungkan secara rasional. Tindakan berorientasi tujuan dalam kajian ini adalah adanya tujuan tertentu yang diharapkan dan ingin dicapai oleh masyarakat ketika mengikuti acara Tradisi Asyura. Berdasarkan hasil informasi dari beberapa masyarakat Lembung Timur dalam melakukan tindakan ketika mengikuti acara Tradisi Asyura yang pertama ketika mengikuti Tradisi Asyura bertujuan untuk menjalin ikatan persaudaraan sesama umat muslim, untuk melindungi diri dan keluarga dari musibah dengan perantara bersedekah. Menurut Ach. Wazir Ws., et al. (1999: 29) partisipasi bisa diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam interaksi sosial dalam situasi tertentu. Dengan pengertian itu, seseorang bisa dikenal dalam kelompok, melalui berbagai proses berbagi dengan orang lain dalam hal nilai, Tradisi, perasaan, kesetiaan, kepatuhan dan tanggung jawab bersama. Terjaganya keberadaan Tradisi Asyura tidak terlepas dari partisifasi masyarakat. Partisifasi tersebut adalah adalah kunci dari kelestarian Tradisi Asyura. Masyarakat Desa Kampung Hilir masih mempertahankan Tradisi Asyura, karena Tradisi Asyura memiliki fungsi yang cukup penting dalam kehidupan sosial mereka. Berdasarkan teori fungsionalisme budaya yang dikemukakan oleh Malinowski dan Radcliffe Brown (Kaplan & Manners, 2002) bahwa suatu budaya bertahan karena ternyata memiliki fungsi-fungsi tertentu bagi masyarakat yang bersangkutan. Tradisi Asyura memang memiliki fungsi bagi kehidupan sosial masyarakat Desa Lembung Timur, fungsi-fungsi tersebut saling berkaitan sehingga menyebabkan keberadaan Tradisi Asyura tetap terjaga.
  2. Tindakan Sosial Berorientasi Nilai Pada tindakan ini, informan tidak tahu apakah nilai-nilai yang didapet benar atau salah ketika mereka mengaplikasikannya menjadi sebuah bentuk tindakan sosial ketika mengikuti acara tradisi Asyura, adapun tindakan sosial berorientsi nilai dari informan dalam penelitian ini adalah nilai social atau nilai kebersamaan dan nilai agama. Nilai budaya merupakan suatu idealisme bangsa, karena bermula dari nilai-nilai yang ada sejak zaman nenek moyang dahulu kala, merupakan cita-cita luhur penduduk dikepulauan Nusantara ini. Nilai-nilai budaya merupakan tingkat yang paling tinggi dan paling abstrak dari adat istiadat suatu bangsa. Adanya kepercayaan dan pertimbangan terhadap nilai tertentu yang akan diperoleh ketika masyarakat mengikuti Tradisi Asyura. Tradisi sebagai bentuk hasil cipta karya manusia seperti halnya Tradisi Asyura yang mengandung nilai-nilai positif yang dikenalkan oleh nenek moyang dimulai dari kebiasaan orang tua dan istiadat Tradisi Asyura yang membentuk suatu budaya sehingga mengikat antar sesama masyarakat. Setiap kebudayaan yang sukses lestari dan tidak termakan zaman maka tidak lepas dari peran orangorang yang memiliki katerkaitan dengan Tradisi tersebut untuk melestarikan Tradisi Asyura. Keyakinan seseorang yang kuat memegang suatu tata kelakuan akan mentransferkan nilai dan makna budaya tersebut sehingga penyampaian pesan budaya dari generasi ke generasi sampai saat ini masih terjaga. Tata kelakuan (mores) suatu kebiasaan yang diakukan dan diakui oleh masyarakat sebagai pengontrol serta pengawas setiap prilaku. Tradisi asyura ini juga bertahan dikarenakan adanya pengotrol setiap tindakan sehingga budaya itu masih dilakukan secara terus menerus sampai sekarang. Nilai mempunyai fungsi memberi petunjuk penting agar dapat memuaskan keinginan manusia dan memberi arah demi tercapainya tujuan sosial kemasyarakatan. Prilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dimilikinya. Bila nilai itu baik maka masyarakat dan individu akan mengulanginya, begitu juga sebaliknya bila buruk akan dihindari. Setiap individu dapat dapat mempunyai nilai yang berbeda demikian pula antar ras/suku bangsa atau kelompok masyarakat. (Noorkasiani, 40:2009) Nilai agama adalah salah satu dari macam-macam nilai yang mendasari perbuatan seseorang atas dasar pertimbangan kepercayaan bahwa sesuatu itu dipandang benar menurut ajaran agama. Agama dan beragama punya sejarah panjang sepanjang sejarah masyarakat dan manusia itu sendiri, manusia yang memiliki akal, nafsu, perasaan ruhani. Agama ditemukan hampir disetiap masyarakat bahkan setiap individu. Secara sosiologis, masyarakat dan manusia dalam menganut agama atau beragama punya ciri-ciri mempercayai sesuatu yang digunakan secara fanatik, mensakralkan sesuatu, percaya kepada yang gaib (supernatural). Ciri-ciri beragama atau menjadikan sesuatu sebagai agama ini ditemukan pada setiap masyarakat.Karena itu beragama adalah gejala universal, ditemukan dari awal masyarakat manusia ada sampai akhir zaman. (Bustanuddin Agus,2003:1). Tradisi Asyura lebih bersifat terbuka untuk keyakinan agama manapun, tidak hanya Islam. Sehingga hal ini mendorong Tradisi Asyura untuk berkembang hingga dapat dilakukan oleh semua golongan masyarakat. Aktivitas kerja sama yang bersifat saling tolong menolong itu merupakan perwujudan pandangan bahwa manusia tidak hidup sendiri, harus saling bergantung, dan karena itu harus pula memelihara hubungan baik dengan sesama dalam satu lingkungan sosial tertentu. Pandangan semacam itu menyebabkan terwujudnya aktivitas dalam pandangan lain, seperti dalam Tradisi Asyura. Nilai budaya merupakan konsep abstrak mengenai masalah besar dan bersifat umum yang sangat penting serta bernilai bagi kehidupan masyarakat. Nilai budaya itu menjadi acuan tingkah laku sebagian besar anggota masyarakat yang bersangkutan, berada dalam alam pikiran mereka dan sulit untuk diterangkan secara rasional. Nilai budaya bersifat langgeng, tidak mudah berubah ataupun tergantikan dengan nilai budaya yang lain. Anggota masyarakat memiliki nilai sebagai hasil proses belajar sejak masa kanak kanak hingga dewasa yang telah mendarah daging. Tiap bagian dari anggota masyarakat seperti suku-suku memiliki nilai budaya atau sistem nilai budaya yang menjadi pedoman tingkah laku dalam kehidupan masyarakat. Berbagai suku bangsa berbeda memiliki dan mengamalkan nilai nilai seperti tolong menolong atau gotong royong, musyawarah setia kawan, harga diri, tertib dan sebagainya, yang tercermin dalam berbagai lapangan hidup, unsur unsur kebudayaan atau pranata pranata seperti religi, organisasi sosial, kekerabatan, mata pencaharian, unsur teknologi, kesenian dan sebagainya. Aktivitas tertentu dalam rangka mata pencaharian dilatarbelakangi oleh nilai nilai seperti gotong royong.
  3. Tindakan Tradisional, Tindakan Tradisional adalah tindakan yang dilakukan atas dasar kebiasaan, adat istiadat yang turun temurun tanpa berhenti. Tindakan seperti ini biasa dilakukan pada masyarakat yang Tradisi adatnya masih kental, sehingga dalam melakukan tindakan ini masyarakat tidak pernah mengkritisi dan memikirkan terlebih dahulu. Dalam tindakan jenis ini, tindakan Tradisional yang dimaksudkan dalam kajian ini adalah tindakan yang dilakukan karena adanya kebiasaan-kebiasaan yang memang sudah ada sebelumnya. Seseorang memperhatikan prilaku atau kebudayaan tertentu karena kebudayaan yang diperoleh dariturun temurunatau orang tua tanpa refleksi yang sadar atau perencanaan. Dalam tindakan jenis ini, peneliti mendapat dua jenis tindakan tradisional. Pertama karena kebiasaan dalam masyarakat lokal yang terus diulang-ulang, dan yang ke dua karena kebiasaan dalam keluarga secara turun-menurun. Tradisi Asyura merupakan Tradisi tahunan yang dilakukan satu tahun sekali hari Tradisi tersebut dilakukan pada bulan muharan pada hari ke sepuluh dalam kalender islam. Setiap kebudayaan yang lestari dan tidak termakan zaman maka tidak lepas dari peran orang-orang yang memiliki keterkaitan dengan budaya tersebut, budaya yang berasal dari sejarah islam, maka masyarakat muslim Desa Lembung Timur memiliki peran yang kuat untuk melestarikannya, maka dari itu setiap individu masyarakat yang memiliki latar belakang asli masyarakat serasan, memiliki moral untuk melestarikan Tradisi sayura. Tindakan tradisional yang kedua adalah karena kebiasaan dalam keluarga secara turun temurun. Berikut adalah pernyataan informan mengenai kebiasaan dalam keluarga secara turun-temurun yang dilakukan oleh Desa Lembung Timur dalam Tradisi Asyura setiap merayakan hari Asyura masyarakat Desa Lembung Timur membuat bubur suro, ini merupakan suatu kebiasaan masyarakat di sini. Manusia hidup berdampingan dengan yang lainnya. Dan tindakan sosial tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat. Masyarakat yang masih memegang teguh kebiasaan-kebiasaan atau adat istiadat dari leluhurnya termasuk ke dalam kategori tindakan Tradisional. Seperti yang telah dijelaskan diatas , masyarakat masih melakukan Tradisi yang sudah ada sejak lama. Tradisi yang sampai sekarang masih ada dimana perubahan zaman telah terjadi tetapi tidak merusak Tradisi yang telah dilestarikan.
  4. Tindakan Afektif, Tindakan Afektif dalam tindakan ini adalah segala bentuk tindakan emosional yang mendorong masyarakat mengikuti tradisi Asyura, adapun tindakan yang mendorong masyarakat mengikuti Tradisi Asyura yang pertama karena adanya rasa cinta akan budaya ketika mengikuti Tradisi Asyura tidak ada paksaan dari orang lain. Dengan memiliki rasa cinta akan tradisi atau budaya lokal yang dimiliki menjadi identitas suatu daerah. Untuk itu, budaya lokal harus tetap dijaga serta diwarisi dengan baik agar budaya tetap kokoh. Munculnya kesadaran masyarakat terhadap upaya pelestarian Tradisi di Desa Lembung Timur ini memang perlu disyukuri, sebab bukan saja orang-orang tua yang melakukan kegiatan-kegiatan sebagai upaya pelestarian budaya di kalangan masyarakat tetapi bahkan di kalangan pemuda, mahasiswa, dan anak-anak mulai ditanamkan kecintaan terhadap budaya daerah yang pada akhirnya akan menimbulkan kesadaran terhadap upaya pelestarian kebudayaan daerah. Tindakan Afektif yang kedua karena tempat tinggal, alasan tempat tinggal menjadi faktor pendorong masyarakat Desa Lembung Timur dalam mengikuti tradisi Asyura, semakin lama kita tinggal dalam lingkungan tertentu, maka rasa memiliki terhadap lingkungan cenderung lebih terlihat dalam partisipasinya yang besar dalam setiap kegiatan lingkungan tersebut. Kegiatan Tradisi Asyura yang sudah menjadi adat istiadat masyarakat Desa Lembung Timur merupakan perwujudan dari usaha masyarakat untuk mempertahankan kebudayaan yang di yakini memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan bermasyarakat desa.
Baca Juga  Tafsir As Siroj: Al-Qur'an adalah Kitab Suci yang Mengajarkan Kedamaian, Bukan Kekerasan

 

[1] Wadiyo, Berkesenian Tindakan Sosial Menurut Marx Weber, (Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni UNNES, 2010 ), Hlm. 2-4.

Tinggalkan Balasan