Satu Abad NU, Momentum Perkuat Kemandirian Ekonomi

Oleh: Hermansyah Kahir

Penulis Buku Menjadi Santri 4.0

Dalam konteks sejarah, NU merupakan organisasi keagamaan terbesar di republik ini yang sedari awal mengusung nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Paham inilah yang kemudian menjadi rujukan warga NU dalam segala aspek kehidupan, baik di bidang keagamaan, sosial, politik maupun ekonomi.

Memasuki usia satu abad, kini NU terus berkibar menjadi organisasi yang dihargai dan diterima banyak kalangan. Ini menjadi bukti bahwa NU merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam dinamika sejarah perkembangan bangsa ini.

Seperti kita ketahui bahwa samangat lahirnya NU dibangun dengan tiga pilar utama, yaitu Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathan, dan Nahdlatut Tujjar. Tashwirul Afkar merepresentasikan kecendekiaan dan keagamaan, Nahdlatul Wathan merepresentasikan semangat kebangsaan, dan Nahdlatut Tujjar merepresentasikan kemandirian ekonomi.

Dari ketiga pilar utama tersebut, sepertinya Nahdlatut Tujjar sebagai pilar pemberdayaan ekonomi belum diimplementasikan secara maksimal. Hal ini dapat dilihat dari kondisis mayoritas penduduk Indonesia yang masih hidup dalam lingkaran kemiskinan di mana mayoritas dari mereka adalah warga NU yang berada di pedesaan. Maka dalam kondisi masyarakat seperti ini, pengembangan ekonomi sudah semestinya menjadi prioritas kepengurusan NU saat ini.

Respons NU

Sebagai organisasi terbesar, NU memiliki potensi luar biasa dalam memajukan ekonomi umat. Sudah saatnya NU memprioritaskan kemandirian ekonomi warganya. Oleh karena itu, perayaan satu abad NU pada 16 Rajab 1444 H yang bertepatan dengan 7 Februari 2023 mendatang harus menjadi momentum bagi kebangkitan ekonomi. NU diharapkan dapat menjadi oase atas berbagai permasalahan keumatan, terutama yang berkaitan dengan persoalan ekonomi umat.

Andi Irawan (2016) menegaskan, keberhasilan NU dalam dimensi keagamaan selama ini tidak sebanding dengan keberhasilannya dalam program pemberdayaan ekonomi. Walaupun secara keorganisasian, NU dilengkapi dengan lembaga-lembaga yang memiliki arah pengembangan ekonomi, tapi kenyataan di lapangan program pemberdayaan ekonomi masyarakat kurang mendapatkan perhatian yang serius jika dibandingkan dengan program-program keagamaan.

Maka dari itu, memberikan perhatian lebih terhadap aspek kemandirian ekonomi bukan berarti mengesampingkan aspek lain. NU harus mempertahankan pencapaian-pencapaian di satu abad pertama khususnya pencapaian di bidang keagamaan dan politik.

Kemandirian ekonomi sangat penting diwujudkan agar eksistensi NU lebih kokoh menyongsong abad kedua nanti. Di sisi lain, penguatan kemandirian ekonomi NU perlu segera diwujudkan mengingat kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan masih menjadi tantangan Indonesia di masa mendatang. Persoalan itu harus menjadi perhatian kita semua karena dampaknya dapat merimbas ke bidang-bidang lain.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan jumlah orang miskin di Indonesia tembus 27,54 juta pada Maret 2021. Jumlah itu membuat tingkat kemiskinan mencapai 10,14 persen dari total populasi nasional. Itu artinya, populasi penduduk miskin meningkat 0,36 persen dari sebelumnya 26,42 juta pada Maret 2020.

Oleh karena itu, NU di bawah pimpinan KH. Yahya Cholil Staquf harus mampu merespons persoalan sosial-ekonomi dengan cara memperkuat kemandirian ekonomi. Di usianya yang sudah memasuki satu abad seharusnya menjadi momentum bagi NU untuk mewujudkan kemandirian ekonomi umat—terutama bagi warga NU di pelosok desa yang selama ini hidup dalam lingkaran kemiskinan.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan NU adalah meningkatkan pembangunan koperasi warga NU. Pemberdayaan ekonomi melalui koperasi sebenarnya mulai menjamur di tengah-tengah masyarakat. Setidaknya sudah 5.000 koperasi lebih yang dikembangkan oleh NU. Berbagai usaha warga NU juga mulai dikenal masyarakat luas, baik sarung, kopiah maupun pembuatan batik. Para pelaku UMKM ini juga harus mendapatkan pendidikan dan pelatihan tentang pemasaran online agar pasar mereka lebih luas.

Pesantren-pesantren di bawah naungan NU jumlahnya sangat banyak. Dalam website resmi Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU), saat ini ada sekitar 26.000 lebih pondok pesantren. Tentu saja, ini merupakan potensi yang perlu dikelola dengan baik. Apalagi saat ini sudah banyak pesantren yang memiliki usaha sendiri seperti koperasi, minimarket, toko bangunan, rumah makan, SPBU, dan lain-lain. Masyarakat sekitar pesantren, para alumni, para santri, dan wali santri merupakan pasar potensial bagi pondok pesantren. Di sinilah pentingnya peran NU untuk mendorong penguatan peran pesantren dalam pemberdayaan ekonomi.

Akhirnya, semoga di usianya yang telah mencapai satu abad ini, Nahdlatul Ulama (NU) terus berjaya untuk kemajuan Islam dan Indonesia serta mampu merespons segala persoalan umat khususnya yang berkaitan dengan persoalan ekonomi umat.

Rekomendasi