Roan di Pondok Membangun Mental Rendah Hati

Roan di Pondok Membangun Mental Rendah Hati - dawuh guru
Gambar: Al Tsaqafah

Oleh: Fajrul Alam*

Menyandang nama besar sekaligus pengasuh sebuah pondok pesantren di Purwokerto-Banyumas, Abah Taufiqurrahman (sapaan khas dari santrinya kepada beliau) tidak lantas serta merta dalam kehidupan sehari-harinya serba meminta uluran tangan dari santri-santrinya. Entah untuk membawakan kayu bakar, memberi makan untuk ikan peliharaannya, dan membawa galon-galon santri yang kosong untuk diisi, dan lain sebagainya. Kegiatan semacam itu, beliau lakukan tak jarang dengan sendirinya. Terlebih ketika siang hari, waktu santri-santri sedang melangsungkan kuliahnya masing-masing.

Abah Taufiqurrahman merupakan sosok kyai yang berwibawa nyentrik sekaligus kharismatik. Bagaimana tidak, Sob? Tabiat kesederhanaan yang melekat dalam dirinya memancarkan kekaguman sekaligus menjadi suri teladan baik bagi kalangan santri-santrinya sendiri, maupun masyarakat sekitar. Bahkan ulama-ulama di Purwokerto, Banyumas sontak banyak yang menghormati dan ta’dzim kepada beliau. Mereka banyak meyakini atas kesederhanaan, kezuhudan, dan ketawadhuaan beliau yang istiqamah meski di era gempar dan masifnya gaya hidup modernitas baik di kalangan masyarakat awam maupun di lingkup ulama itu sendiri.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa mayoritas pengasuh pondok di Purwokerto yang bermitra dengan Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto merupakan pengasuh yang sekaligus berprofesi menjadi dosen atau tenaga pendidik di kampus tersebut. Namun hal ini tidak berlaku bagi Pondok Pesantren Darul Abror Purwokerto yang didirikan dan diasuh langsung oleh Abah Taufiqurrahman. Dengan kata lain, beliau termasuk kategori ulama salaf tulen. Beliaulah sosok yang murni mendedikasikan waktu dan hidupnya, sepenuhnya untuk santri-santrinya. Rutinitas aktivitas beliau, banyak dihabiskan tak lain untuk segenap santrinya. Istiqamah mengajar dan beribadah.

Kerendahan hati dan kesederhanaan yang berkarakter, mengakar kuat, dan berprinsip dalam pribadi beliau tidak serta merta muncul dan terlahir begitu saja. Itu juga berkat latihan, belajar, dan khidmat beliau ketika dulu waktu di pondok. Pernah suatu ketika di saat ngaji bersama, selepas salat maghrib, Abah Taufiqurrahman sempat menyampaikan yang kurang lebih dalam bahasa Indonesia demikian, “Seperti halnya bekerja bakti (roan). Semua itu untuk melawan nafsu (ego), biar tidak malu alias rendah hati. Di pondok, dulu saya juga terbiasa memikul pasir, membawa batu bata dan lain sebagainya. Saya tidak malu.”

Dari pesan atau cerita singkat yang disampaikan oleh beliau, dapat kita ketahui bahwa roan – atau yang dalam bahasa indonesia lebih di kenal dengan kerja gotong-royong atau kerja bakti – menjadi salah satu pondasi dalam membangun mental rendah hati. Di sisi lain, santri sejak dini, sejak dari pesantren, sudah dibekali akan nilai-nilai pengabdian. Lagi-lagi melalui roan, santri diajari untuk mengabdikan dirinya kepada pondok pesantren sebelum nantinya memikul peran yang sangat urgent dalam beragama, bersosial, bermasyarakat dan lebih jauh lagi dalam bernegara. Yang ada intinya tak lain adalah mendedikasikan dirinya untuk selain dirinya. Baik orang lain, lembaga, instistusi, maupun negara.

Baca Juga  Seni Tidak Harus Dalam Lukisan

Waktu pertama kali saya masuk ke Pondok Pesantren Darul Abror Purwokerto juga tercengang seraya terkagetkan. Bagaimana tidak? Jujur waktu itu saya belum tahu paras dan perangai pengasuh PP. Darul Abror Purwokerto. Ternyata, orang yang sedang membawa kayu bakar untuk kebutuhan dapurnya adalah tokoh nomer satu di pondok, alias pengasuh. Beliau mengajarkan langsung kepada para santrinya tidak hanya bil lisan (perkataan) akan tetapi juga bil hal (tingkah laku). Sebagaimana ada pepatah arab menyebutkan, “Lisanu al-hal afsohu min lisani al-maqol” yang terjemahan bebasnya kurang lebih demikian, “Perbuatan/tingkah laku lebih fasih daripada sebatas penjelasan/perkataan”. Jadi, pesan atau ajaran yang disampaikan melalui tingkah laku praktik secara langsung akan lebih tersampaikan dan mengena dibanding pesan yang hanya dituturkan dengan sebatas ucapan dan teori.

Dengan demikian, sejatinya Abah Taufiqurrahman, pengasuh PP. Darul Abror Purwokerto Jawa Tengah sedang mengajarkan kepada segenap santrinya untuk menjalankan laku hidup yang sederhana, rendah hati, tidak gengsi, dan berani bertindak. Meskipun bagi beliau, untuk hidup mewah cukup mudah dan gampang.

*Fajrul Alam, lahir di Kebumen. Suka kopi dan gorengan. Masuk sebagai Tim Asesor puisi di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban. Menulis puisi, esai, dan resensi. Karya-karyanya pernah masuk di beberapa buku antologi puisi, majalah, koran, dan media online.  Semoga senantiasa diberikan umur dan ilmu yang bermanfaat, dimudahkan dalam menulis serta diberkati gairah berkarya yang menggelora.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *