Opini  

Pondok Pesantren Salaf


Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/dawuhgur/domains/dawuhguru.co.id/public_html/wp-content/themes/wpberita/template-parts/content-single.php on line 98

Oleh: Kiai Yuli Nur Kholid, Pengasuh PP. Dirasatul Qur’an, Kampar Riau

Pesantren Salafi, atau Pesantren Salafiyah adalah sebutan bagi pondok pesantren yang mengkaji kitab-kitab kuning (kitab kuno). Pesantren salaf identik dengan pesantren tradisional (klasik) yang berbeda dengan pesantren modern dalam hal metode pengajaran dan infrastrukturnya.

Pada dasarnya, pesantren salaf adalah bentuk asli dari lembaga pesantren itu sendiri. Sejak munculnya pesantren, format pendidikan pesantren adalah bersistem salaf. Kata salaf dibelakang kata ‘pesantren’ merupakan bahasa Arab yang berarti terdahulu, klasik, kuno, tradisional, atau bisa juga diartikan bahwa pesantren tersebut selalu menjunjung dan mengamalkan ajaran Al-Quran dan sunnah dari orang-orang salaf melalui kitab-kitab kuning.

Walau disebut kuno, ternyata seluruh mutakhorijin (lulusan) adalah santri yang memiliki kompetensi soft skill dan hard skill yang tangguh. Dimanapun mereka berada, seorang santri salaf selalu mampu menjadi penggerak umat dan pelita masyakarat. Disamping kemampuan intelektual keagamaannya yang mumpuni, seorang santri salaf juga memiliki keuletan dan terampil menciptakan karya-karya wirausaha. Hal ini tak lepas dari gemblengan kemandirian dari sosok sang Murobbi “Guru”. Gemblengan atau biasa disebut “tirakat” atau “riyadloh” merupakan bagian dari kurikulum pesantren salaf yang khas.

Jika kita menyimak cerita-cerita unik para santri yang sudah sepuh, proses tholabul ilmi mereka harus melalui tahapan “khidmah” atau mendharma bhakti kepada Sang Guru atau Kyainya. Pada proses ini santri diberi keleluasaan untuk mengembangkan seluruh potensi diri yang ada untuk memberikan pelayanan terbaik untuk kemanfaatan ilmunya, ada yang dengan cara menjadi serdadu perang, menjadi sopir “driver”, ada yang mengurusi koperasi, ada yang mengurusi pertanian, ada yang mengajar, ada yang memasak, ada yang mengurusi bidang IT, ada yang mengurusi ternak, ada yang mengurusi pembangunan, bahkan mengurusi makhluk halus dan seabrek aneka ragam pekerjaan yang sesuai dengan kondisi Pesantren dan kondisi santri itu sendiri.

Baca Juga  Betapapun ‘Pincangnya’ Ibadahmu, Berterima Kasihlah!

Selain itu yang lebih spesial lagi, dengan kebiasaan bahsu masail, santri juga terlatih untuk merdeka dalam pemikiran, santri dibimbing untuk lebih leluasa mengembangkan kemampuan berfikir ilmiahnya. Untuk menjawab suatu konteks permasalahan waqi’iyyah (yang lagi viral) untuk dicarikan pembahasannya secara hukum dari berbagai disiplin ilmu keislaman, bahkan tidak jarang santri berdebat dengan ustadznya jika argumentasi ilmiahnya kokoh dan kuat dalam istimbat (menggali dalil) nya. Uniknya setelah selesai semua perdebatan selesai pula pembahasannya tidak sampai ke ranah serangan personal. Santri pun berkumpul kembali bercanda ngopi-ngopi kembali seperti dalam kebiasaannya.

Apa yang baru dari paradigma baru pendidikan Merdeka Belajar, sebenarnya sudah ada di Pondok Pesantren Salaf sejak dahulu. Untuk itu banggalah wahai para mutakhorijin santri salaf yang sudah mengambil peran dan berkontribusi membangun Bangsa dengan pendekatan dan ajaran-ajaran keislaman dan budi pekerti luhur.

Dan Alhamdulillah al faqir telah melalui gemblengan Pesantren Salaf, di pesantren kecil di Yogyakarta dan Rembang. Santri sejak dulu telah MERDEKA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *