Pesantren Bukan Tempat Karantina

Gambar: Lantai Kayu Indonesia

Oleh: Mambaul Athiyah

Santri Lawas PP. Mambaul Maarif Denanyar dan PP. Maslakul Huda Lamongan. Pencinta tulisan dan sastra

“Awas. Nakal-nakal bakal tak pondokke.” Kurang lebih artinya kalau kamu nakal maka akan dimasukkan ke pondok pesantren. Pernah dengar ucapan seperti ini?

Sebagai seorang pendidik di pesantren, kami sebal mendengar kata-kata ini lazim diucapkan beberapa orang tua yang dengan tanpa disadari menempatkan pesantren sebagai sebuah tempat yang menyeramkan. Hih! Ngeri!

Seperti halnya dengan idiom, kalau berbuat jelek akan dimasukkan neraka. Yah, meskipun saat akhirnya ada beberapa pemahaman lanjutan bahwa di dalam pesantren akan diajarkan norma-norma kebaikan dan kesopanan tetapi hal ini tidak boleh serta merta membuat klausa di atas jadi bisa ditoleransi. Tunggu, dulu. Tidak bisa seperti itu.

Pendidikan karakter dan akhlak di dalam pesantren memang adalah tujuan utama didirikannya pondok pesantren di nusantara. Tentu saja, merujuk pada awal mula sejarah berdirinya pesantren yang dimulai sejak zaman para wali songo, pesantren dibentuk agar proses belajar mengajar, transformasi keilmuan antara para wali dengan murid-muridnya jauh lebih efektif dan mudah karena berada pada lingkungan yang sama. Hal ikhwal dari bangun tidur sampai tidur lagi akan lebih mudah diimplementasikan, memakai metode ambil dan tiru. Apa yang dilakukan para wali selama hal itu nampak maka boleh diaplikasikan sebagai sebuah norma dan adab atau budi pekerti yang luhur.

Kemudian, pembenaran sikap itu ditunjukkan dalam proses belajar mengajar Al qur’an yang berarti juga nanti akan ditunjang dengan ilmu pendukung lainnya untuk lebih menjelaskan keejawantahan bahwa isi Al-qur’an itu baik, mengajak yang baik-baik dan mengajarkan perkara thoyyibah. Menunjukkan perkara sayyiat (kejelekan) dan meluruskan perkara yang masih abu-abu dalam ayat-ayat mutasyabbihatnya.

Benar. Bahwa pola pendidikan para wali di pesantren mereka merunut penjelasan ahli agama dan para Kiai di pesantren tidak memakai metode sedikit-sedikit : Qola Muhammad atau langsung menyitir dalil tetapi jauh lebih humanis, mengolah adat istiadat yang ada untuk dibenahi dan diperhalus dengan sisipan ajaran agama Islam yang lebih humanis alih-alih mengatakannya yang luwes.

Itu, zaman para wali.

Bagaimana dengan zaman Kiai nusantara?

Masih sama. Semua derap langkah para pendiri dan pendidik do pesantren saling bersinergi tidak melulu mengajarkan qola Muhammad. Tetapi diberikan tingkat pendidikan sesuai jenjang. Yang belum bisa membaca huruf arab dan huruf pegon, tidak mengapa. Mereka tidak langsung belajar hadis yang berjilid-jilid tetapi belajar Imla’ dulu, atau cara menulis dan membaca tulisan arab pegon. Hal ini juga menjadi kelaziman dalam proses pendidikan di luar negeri. Belajar dulu bahasa yang akan dipakai selama setahun baru mengkaji inti materi.

Tentunya, pembelajaran Imla’ ini disinergikan juga dengan pembelajaran adab dahulu. Mereka tidak lantas mengkaji Bulughul Marom sebelum selesai mengkaji kitab washoya atau kitab-kitab lainnya yang lebih mudah dipahami. Begitulah pola pendidikan di pesantren. Selanjutnya jika sudah mumpuni baru mempelajari kitab-kitab lain yang lebih tinggi.

Apahal yang dapat dilihat dari sana?

Pesantren mewadahi perkembangan intelektual para santrinya setelah memperbaiki dan mengenalkan kaidah-kaidah adab terlebih dahulu. Hal ini, nampaknya yang kemudian dianggap sebagai dasar bahwa pesantren itu bagai tempat karantina anak-anak nakal. Big No!

Anak-anak santri dimanusiakan di dalam pesantren dengan diberikan kesempatan mengenyam ilmu pendidikan yang mumpuni. Bukan sekedar : Kamu melanggar maka dihukum. Ala-ala tempat karantina.

Sungguh sedih mendengar persepsi ini banyak berseliweran di dalam benak para orang tua yang akan memondokkan anak-anaknya. Karena nakal di rumah, karena malas jamaah di rumah, karena ini dan karena itu.

Pesantren tidak semata diisi anak-anak dengan trouble ala stigma orang tua masing-masing. Karena banyak santri-santri capable yang ditempa di pesantren. Bahkan, mereka yang dianggap ‘nakal’ oleh masyarakat atau orang tua santri sendiri seringkali tidak dianggap demikian oleh para Kiai, Bunyai dan pendidik mereka di pesantren. Para murobbi ruhina melakukan deal-deal batiniah lewat jalur langit dalam simpuh dan sujud malam mereka atau tirakat-tirakat mereka dengan niatan yang hanya Allah tempat berdialog meminta dikabulkannya.

Memang, agak kurang bisa dipercaya karena jalur langit bukan prosentase yamg nyata terpampang dalam grafik perkembangan kemajuan pesantren dalam hal mendidik santri tetapi pengalaman ini menjadi pengalaman non empiris yang bahkan kita hanya bisa termangu dan berkata wow, jauh setelah kita lulus dari pesantren.

Kita yang dulu merasa ndablek, tidak kompeten ternyata setelah lulus menjadi sosok-sosok yang bermanfaat di masyarakat. Itu, bukan hasil tempaan tempat karantina tetapi tempaan pesantren yang berkah dan barokahnya sepenuhnya menjadi misteri ilahi tetapi nyata adanya.

Satu hal yang pasti. Mereka yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren tidak pernah menjadi mantan santri. Mereka tetap menjadi santri sampai nanti, sampai kembali ke alam yang abadi. Mereka akan tetap disebut santri saat namanya disebut dalam cerita-cerita anak turunnya juga masyarakat.

Selamat hari santri. Kita tetap santrinya Kiai dan Bunyai sampai nanti.

Rekomendasi