Opini  

Perayaan Imlek Dalam Perspektif  Al-Qur’an


Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/dawuhgur/domains/dawuhguru.co.id/public_html/wp-content/themes/wpberita/template-parts/content-single.php on line 98

Oleh: Amirah Dzaky Ilma

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya Prodi Aqidah dan Filsafat Islam

Indonesia dikenal sebagai negara yang terdiri atas berbagai suku bangsa. Dari masing-masing suku bangsa tersebut memilliki identitas kebudayaan tersendiri. Dalam ilmu Antropologi, golongan suku bangsa dikenal dengan istilah golongan etnis dan bangsa yang terdiri dari berbagai golongan etnis disebut sebagai bangsa multi etnis. Salah satunya etnis Cina yang merupakan etnis terbesar di Indonesia. Hal ini tidak mengherankan mengingat bangsa Cina termasuk bangsa yang mobilitasnya tinggi. Dalam sejarah, etnis Cina juga terkenal sebagai bangsa yang sangat kuat dalam memegang tradisi dari leluhur dan cenderung bersifaf eksklusif. Seiring dengan adanya interaksi yang berkesinambungan antara etnis Cina dengan kaum pribumi, maka terciptalah suatu proses pembauran melalui agama termasuk agama Islam.

Dalam konteks kebudayaan, Islam bukanlah agama yang menutup diri dari hal keragaman. Hal tersebut telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an dengan menyertakan pula dorongan untuk saling berlomba dalam hal kebaikan. Islam juga bukanlah agama yang menentang atau meniadakan daya kreatifitas manusia dalam berbudaya selama tidak bertentangan dengan aturan-aturan Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an, yang salah satunya adalah perayaan Imlek. Hari raya Imlek bagi pemeluk agama Konghucu dipandang sebagai hari raya keagamaan untuk memperingati kelahiran nabi Konfusius atau sering disebut dengan Kung Sang Guru. Perayaan Imlek pada awalnya merupakan hari raya untuk memperingati pergantian musim (berakhirnya musim dingin dan permulaan musim semi) bagi petani di Cina. Jadi, perayaan Imlek pada awalnya tidak terkait dengan kepercayaan atau agama apapun. Tujuan dari tradisi tersebut merupakan wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak. Maka, kata Gong Xi Fa Chai yang biasa diartikan sebagai Selamat Tahun Baru pada awalnya bermakna semoga anda menjadi kaya.

Baca Juga  Kita Tidak Akan Pernah Mencintai Indonesia dengan Tulus

Kemeriahan perayaan Imlek umumnya diramaikan dengan aneka simbol kebudayaan yang berupa aneka kue yang rasanya manis dan lengket, seperti: kue keranjang, angpao, lampion, buah jeruk, dan segala pernik bermarna merah dan pastinya berkumpul dengan keluarga merupakan acara yang tidak dapat dipisahkan dari perayaan Imlek, perayaan ini juga tidak dapat dilepaskan dari atraksi Barongsai yang merupakan bentuk tradisi yang mengandung unsur keagamaan dan olah raga kung fu. Barongsai berkaitan dengan legenda singa berbadan naga, makhluk yang datang dan meminta tumbal pada setiap Imlek. Guna mengusirnya, maka diciptakan musik-musik yang terdiri dari tambur besar, gembrengan, dan canang logam untuk mengiringi Barongsai.

Imlek juga selalu dirayakan oleh warga Tionghoa, termasuk juga kalangan Muslim Tionghoa. Menurut catatan Ma Huan (seorang anggota muhibah pelayaran Laksamana Zheng He) Muslim Tionghoa diperkirakan telah menetap di Nusantara sekitar pertengahan abad XV). Hal ini mengisyaratkan bahwa seorang keturunan Cina yang telah beralih agama tidak harus kehilangan identitas etnisnya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang tokoh Muslim Cina sendiri, The Siauw Giap (1991: 75) ia mengatakan “Saya Muslim, orang Indonesia, dan keturunan Cina”. Hal ini menjadi begitu menarik ketika dikaitkan dengan perayaan Imlek oleh Muslim Tionghoa, mengingat adanya berbagai makna dari simbol-simbol yang digunakan dalam perayaan tersebut dipandang bertentangan dengan nilai Islam.

Penulis: Amirah Dzaky IlmaEditor: Tim Dawuh Guru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *