Opini  

Norman Finkelstein: Seorang Sejarawan Yahudi dan Anak Korban Holocaust yang Mendukung Perjuangan Hamas

Norman Finkelstein Seorang Sejarawan Yahudi dan Anak Korban Holocaust yang Mendukung Perjuangan Hamas - dawuh guru
Gambar: AA Com

Oleh: Mohammad Ulil Rosyad – Mahasiswa S2 Universitas PTIQ Jakarta

Pada 7 Oktober, Hamas diklaim sebagai teroris dunia setelah menyerang wilayah Israel. Hamas melancarkan serangan tak terduga yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Israel, memasuki negara itu melalui udara, darat, dan laut. Situasi di wilayah tersebut dalam keadaan siaga karena kekhawatiran akan konflik yang lebih luas lagi. Menimbulkan ribuan korban, terlebih pada sisi Palestina. Sorotan dunia mengutuk tindakan Hamas dan mengecap seluruh wilayah Jalur Gaza harus di bersihkan dari sarang teroris. Dukunan serangan Israel di Jalur Gaza disupport oleh banyak kalangan benua Eropa dan Amerika; politisi, CEO, artis, hingga content creator berduyun-duyun menyuarakan aksi bela Israel ini.

Namun penulis menemukan seorang sejarawan terkenal dari pihak Yahudi yang berani menyuarakan dukungannya atas tindakan yang dilakukan Hamas terhadap pemerintah Israel, hal ini terungkap dalam wawancaranya dengan Piers Morgan – seorang presenter & pewawancara terkenal dari Amerika– di saluran YouTube-nya “Piers Morgan Uncesored” pada tanggal 24 November 2023 lalu. Ia adalah Norman Finkelstein anak korban Holocaust (Genosida umat Yahudi oleh Nazi Jerman).

Norman Gary Finkelstein lahir pada tanggal 8 Desember 1953. Dia adalah seorang ilmuwan dan aktivis politik Amerika. Bidang penelitian utamanya adalah politik Holocaust dan konflik Israel-Palestina. Dia mulai dukungannya dengan mengatakan bahwa “tindakan yang diambil oleh Hamas adalah heroik” dalam posting akun media sosialnya. Tentu saja, ini menarik banyak kritik dari pendukung Israel, bahkan agamanya sendiri.

Namun, dalam wawancaranya di kanal YouTube Piers Morgan, ia mengungkapkan fakta sejarah bahwa Hamas adalah bentuk aksi pertahanan nasional di mana selama beberapa dekade Palestina diisolasi oleh pemerintah Israel. Dia berkata, “Saya melihat sendiri bahwa banyak pemuda dan anak-anak hidup (layaknya) di kamp konsentrasi (Gaza) dan masa depan mereka hancur. Apakah dunia menutup mata terhadap serangan 7 Oktober yang dianggap sebagai tindakan terorisme ketika melihat ini?”.

Baca Juga  Islam Jawa Dengan Konsep Kulturalnya

Piers Morgan sebagai pewawancara menanyaakan beberapa pertanyaan yang menyudutkan Prof. Norman, sebab ia salah satu pendukung serangan Israel. “Bagaimana tanggapan orang tua mu bila tau bahwa kau mendukung ini (Serangan Hamas)?” tanyanya kepada Prof. “Kau harus tau Piers, ketika terjadi bom di Berlin (Jerman) aku pernah bertanya pada ibuku apa yang akan ia lakukan dengan keajadian tersebut? Ia mengatakan bahwa ia akan tetap menyelamatkan siapapun yang masih hidup. Melihat apa yang telah kulakukan dalam membela Palestina disebabkan kekejaman Israel selama ini, aku yakin dia akan bangga padaku.” Tegas Prof Nourman menjawab.

Dia juga menutup wawancaranya dengan mengungkapkan tanggapannya terhadap apa yang telah dia teliti selama beberapa dekade mengenai konflik Israel-Palestina “Menanggapi apa yang dilakukan pemerintah Israel terhadap Palestina, adalah tepat bagi orang-orang Palestina untuk membenci Israel dan melakukan tindakan ini”.

Walhasil wawancara ini menuai kritikan terhadap Norman Freinklestain, termasuk kritik dari pendukung Israel, bahkan agamanya sendiri menyatakan bahwa dia adalah seorang psikopat karena dia mendukung Terorisme dan pembunuhan. Sebagaimana yang di sampaikan Douglas Murray seorang kritikus Inggris. Sementara itu, mereka lupa apa yang dilakukan pemerintah Israel terhadap Palestina selama bertahun-tahun.

Sebagai kesimpulan, Norman Freinklestain, yang merupakan putra dari korban Holocaust, menunjukkan kepeduliannya terhadap perjuangan Palestina dengan melaporkan apa yang telah dilakukan pemerintah Israel terhadap Palestina selama bertahun-tahun, sehingga pantas bagi pejuang Hamas untuk melakukan agresi pada 7 Oktober. Meskipun dia dikritik oleh agamanya sendiri, dia berdiri dalam pendapatnya. Ini membuat kita menyadari bahwa apa pun agamanya, kemanusiaan berada di atas segalanya.

Tinggalkan Balasan