Menjaga Warisan Aksara di Era Literasi Digital: Diaz Nawaksara, Insan Prestasi Pancasila BPIP 2024

Menjaga Warisan Aksara di Era Literasi Digital Diaz Nawaksara, Insan Prestasi Pancasila BPIP 2024

dawuhguru.co.id | Jakarta – Di era literasi digital yang serba cepat ini, menjaga warisan budaya bukanlah perkara mudah. Namun, Diaz Nawaksara, Insan Prestasi Pancasila BPIP 2024, telah menunjukkan bahwa dengan semangat dan inovasi, aksara tradisional Indonesia bisa tetap lestari dan dikenal luas oleh generasi muda.

Diaz, yang juga menjabat sebagai Dewan Penasihat Dawuh Guru dan Pengampu Ilmu Manuskrip – Aksara Kawi di Pesantren Kreatif Baitul Kilmah Yogyakarta, memiliki kecintaan mendalam terhadap sejarah dan budaya Indonesia. “Aksara tradisional adalah warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan identitas yang sangat kuat,” ujarnya. “Dengan melestarikan dan mengintegrasikan aksara-aksara ini ke dalam dunia digital, kita bisa mengenalkan dan menjaga nilai-nilai budaya kita agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.”

Dalam upaya melestarikan aksara tradisional, Diaz menggunakan berbagai platform digital untuk menyebarkan pengetahuan dan kecintaan terhadap aksara-aksara ini. Dia membuat konten-konten edukatif di media sosial, mengembangkan aplikasi, dan menciptakan font digital untuk memudahkan pengguna menulis dan membaca dalam aksara tradisional. “Tujuannya adalah agar aksara-aksara ini bisa lebih mudah diakses dan dipelajari oleh generasi muda yang tumbuh di era digital,” jelas Diaz.

Namun, perjalanan Diaz tidak tanpa tantangan. Kurangnya minat dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya aksara tradisional menjadi hambatan utama. Banyak yang menganggap aksara ini kuno dan tidak relevan lagi. Untuk mengatasi hal ini, Diaz menghadirkan aksara-aksara tradisional dalam format yang menarik dan relevan bagi generasi muda. “Saya berusaha untuk membuat konten yang menarik agar generasi muda bisa melihat nilai dan keindahan dari warisan budaya kita,” katanya.

Usaha Diaz tidak sia-sia. Respons positif datang dari berbagai kalangan, terutama generasi muda. Banyak yang tertarik dan ingin belajar lebih dalam tentang aksara tradisional setelah melihat konten-konten edukatif yang dia buat. Dukungan dari pemerintah dan komunitas budaya juga memberikan semangat lebih bagi Diaz untuk terus berinovasi.

Baca Juga  Dawuh Gus Iqdam tentang Menilai Keindahan Tak Terlihat dari Hati

“Harapan saya ke depan adalah agar aksara tradisional bisa kembali menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan generasi muda. Saya juga berharap agar upaya pelestarian ini bisa terus berkembang dan mendapatkan dukungan yang lebih luas,” harap Diaz.

Kisah Diaz Nawaksara adalah bukti bahwa dengan dedikasi dan kreativitas, warisan budaya bisa tetap hidup dan relevan di era modern. Semoga upaya Diaz bisa menginspirasi kita semua untuk terus menjaga dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia.

Penulis: Anas S MaloEditor: Niamul Qohar