Menjadi Milenial Tanpa Mengurangi Rasa Penghambaan

Menjadi Milenial Tanpa Mengurangi Rasa Penghambaan - dawuh guru co id 2

Oleh: Irna Maifatur R

(Mahasiswi UIN Prof Dr KH Saifuddin Zuhri Purwokerto, santri di Pondok Pesantren Nurul Iman Pasir Wetan, Karanglewas, Banyumas)

Menjadi muslim di negara Islam terbesar di dunia menjadi privilege tersendiri bagi muslim di Indonesia. Yang mana untuk mencari saudara seiman sangat mudah dan tidak perlu mengeluarkan energi yang berlebihan. Masjid bertebaran di mana-mana dan kajian disuguhkan secara gamblang. Vibes-vibes islami pun tidak sulit ditemukan di Indonesia.

Dengan privilege itu, kondisi masyarakat yang ada pun seharusnya mencerminkan agama mayoritas tersebut. Sayangnya hal ini belum berlaku secara menyeluruh di Indonesia. Padahal dalam agama apapun memberi tuntunan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari baik hablun min allah maupun hablun min an-naas. Seluruh agama mengajarkan kasih dan sayang kepada sesama sebagai salah satu wujud penghambaan kepada Tuhannya.

Penghambaan tersebut menjadi level tertinggi dalam merayu Tuhan sebagai kekasih. Sebagai makluk, dengan Tuhan sudah selayaknya merayu bukan sebaliknya. Sebab Tuhan tidak membutuhkan makhluk-Nya namun sebaliknya. Sebagai agama mayoritas, Islam di Indonesia memiliki keragaman dalam merayu Tuhannya. Hingga Habib Husein Ja’far Al-Hadar yang subjek dakwahnya yaitu generasi milenial merangkumnya dalam sebuah buku yang diterbitkan di tahun 2022.

Dikemas dalam bentuk esai yang ringan dan tidak menuntut kebenaran, buku ini membawa pembaca untuk menyelami hal-hal yang memang sudah ada di kehidupan kita dengan sisi yang kadang terlewat oleh masyarakat awam. Gaya bahasa yang digunakan ramah milenial dan sangat mudah untuk dipahami. Hingga seolah kita tenggelam dalam ilusi yang diciptakan buku ini laiknya sedang nongkrong dengan Habib Ja’far. Buku ini tersusun dari 4 bab yang terdiri dari beberapa subbab sebagai berikut.

Beragama dengan cinta, hal yang sudah pasti digaungkan oleh seluruh agama untuk menyatukan umatnya disajikan di awal buku ini. Dengan cinta, praktiknya melalui rayuan, bukannya pendikte-an terhadap Tuhan. Hal ini dapat direpresentasikan pada ibadah yang tidak hanya sebatas ritual namun dilakukan secara batin. Seperti shalat tidak hanya gerakan-gerakan belaka, puasa tidak hanya menahan lapar dan haus saja, melainkan diresapi filosofi dan sebab-sebab diperintahkannya ibadah tersebut. Ibadah dilakukan dengan tulus layaknya kita merayu kekasih. Senyum juga menjadi representasi cinta. Islam mengajarkan kita untuk tersenyum kepada sesama. Bahkan senyum juga menjadi salah satu metode dakwah yang cukup manjur. Setelah kita melakukan ritual kita boleh berharap kepada Tuhan, namun harus diimbangi dengan rasa takut kepada Allah. Rasa takut menjadi penting karena ia dapat mengontrol nafsu. Sebab nafsu itu seperti anak kecil yang jika dibiarkan maka akan menjadi remaja yang suka menyusu dan jika disapih maka ia akan berhenti. Dan yang paling penting, rayulah Tuhan dengan setinggi-tingginya dan rendahkan diri serendah-rendahnya serta gunakan bahasa yang lembut karena Tuhan menyukai kelembutan. Setelahnya gandeng diri ini dengan kekasih-Nya, Nabi Muhammad SAW baik tingkahnya, rupa, maupun hatinya. Melalui shalawat yang disertakan di setiap awal dan akhir doa, akhlak nabi yang luar biasa mulia, serta kesunnahan lainnya yang ada pada jisim nabi.

Baca Juga  Membentengi Pemikiran Dari Virus Diabolis

Beragama dengan keberagaman. Dengan beragamnya kondisi sosial, ekonomi serta budaya yang ada di Indonesia, dakwah harus bisa merangkul semua kelas sosial masyarakat. Dakwah model ini cocok untuk generasi milenial yang sangat sensitive dengan perbedaan. Maka jalan terbaik yang digunakan yaitu dengan merangkul dan menyatukan mereka. Seperti yang dilakukan Nabi terhadap Salman dan Bilal, menyatukannya sekaligus dalam satu rengkuhan. Meskipun demikian, benci tidaklah dilarang di sini. Dengan syarat terpenuhinya syarat dan ketentuannya yang berlaku. Di antaranya ialah tidak merusak kebahagiaan orang lain. Dengan cara tidak merusak kebahagiaan orang lain juga termasuk membahagiakan orang lain. Jadi, menjadi muslim tidak harus memaksakan antar muslim satu dengan muslim lainnya memiliki pendapat dan amalan yang sama. Cukup dengan menghargai perbedaan yang kembali kepada keyakinan masing-masing. Tidak perlu sampai meributkan fikih yang dianut. Hal ini sama saja dengan menunaikan visi misi diciptakannya manusia di bumi yaitu mempersatukan atau mempersaudarakan.

Beragama dengan akhlak. Akhlak menjadi hal yang penting bagi umat manusia dengan siapapun itu. Hal ini pula yang ditekankan dalam agama. Berakhlak dengan baik, baik dalam mengajak atau menolak, bukan dengan mengejek. Dari sinilah muncullah turunan-turunan dari akhlak. Dalam beribadah tidak perlu lebay dan yang terpenting rendah hati. Lakukan yang sedang-sedang saja sebab Allah tidak suka yang berlebihan. Ibadah atau ritual itu penting tapi sosial juga perlu, jadi keduanya harus seimbang dan saleh keduanya. Hal ini disebabkan agama tidak hanya memerintahkan hablun min Allah tapi juga hablun min an-naas. Jadi stay calm dan jangan terlalu mementingkan ego sampai urat leher tegang. Dari hablun min an-naas, kita diperintahkan untuk mengajak saudara untuk melanggengkan kebajikan. Namun sebelum jauh ke sana, dakwah itu dimulai dari diri sendiri. apa yang ingin digemakan harus sudah tertanam matang dulu di diri kita. Sehingga dengan itu kita tidak memaksa saudara kita untuk melakukan ini itu namun bebas dengan ajakan yang kita berikan. Sebab Allah pula yang menyuruh kita untuk merdeka. Merdeka dari apapun dan hanya boleh menghamba pada Allah semata.

Baca Juga  Resensi Buku “Rahasia Waktu Fajar dan Subuh”

Beragama dengan tulus. Islam tidak pernah memaksa umatnya, semampunya saja. Seperti dalam shalat dilakukan dengan berdiri bagi yang mampu. Tidak ada paksaan. Seperti itulah Islam. Hukum yang ada menyesuaikan dengan kondisi setiap individu. Tulus, sesuai dengan kemampuan dan kekuatannya, yang penting konsisten. Islam sebagai agama samawi terakhir juga melatih konsisten serta disiplin waktu dengan shalat. Di mana dalam sehari dibagi menjadi 5 waktu tidak dijadikan dalam satu waktu. Salah satu alasannya yaitu untuk mendisiplinkan umatnya. Betapa Agungnya Allah sudah merancang sedemikian rupa sebelum manusia mampu berpikir sampai ke arah sana. Dalam Islam pula, Allah menunjukkan bahwa setiap diri kita itu orang besar tanpa memandang pangkat dan derajat di dunia. Besar di sini diartikan setiap individu akan dimintai pertanggung-jawaban terkait apapun yang dilakukannya selama hidup di dunia ini tanpa memandang statusnya di mata manusia.

Melalui cover yang mencitrakan santai, isi yang dikupas pun sama santainya. Tidak dengan misah misuh dan memaksa harus ini dan itu. Fleksibel. Dengan warna kertas yang kuning membantu mata tetap stabil dan tidak mudah lelah. Kertas yang ringan serta dimensi yang tidak terlalu besar memudahkan buku ini dibawa kemanapun tanpa menambah beban yang berarti. Asyiknya buku ini menuliskan kembali poin-poin utama tiap sub bab sehingga memudahkan pembaca ketika mengulang kembali buku ini. Di samping itu, ada beberapa kalimat dalam tiap sub babnya yang di-highlight yang sebagai pemantik ingatan-ingatan pembaca.

Itulah beberapa hal yang dapat diulas dari buku karya Habib Husein Ja’far Al-Hadar di tahun 2022 ini. Pastinya masih banyak hal yang bisa digali dari buku terbitan mizan ini untuk meng-up grade dalam merayu Tuhan. Hayuk, buang rasa penasaran kalian dengan membaca buku tersebut.

Baca Juga  Pendiri Pagar Nusa, Gus Maksum

Identitas Buku 

Judul Buku                  : Seni Merayu Tuhan

Penulis                        : Husein Ja’far Al-Hadar

Penerbit                       : Mizan

Cetakan                       : ketiga, April 2022

Tebal                           : 228

ISBN                           : 978 602 441 255 5

Peresensi                    : Irna Maifatur Rohmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *