Menghilangkan Malas dengan Metode RPM (Repetitive Magic Power)

  • Bagikan
Menghilangkan Malas dengan Metode RPM - Dawuh Guru
Gambar: Kabar Damai

Oleh : Mohammad Ulil Rosyad

Malas merupakan sifat negatif bawaan oleh manusia yang harus dikondisikan. Kita semua sepakat bahwasanya manusia pemalas bersifat persuasif dapat menarik manusia disekitarnya untuk malas juga. Bahkan sebuah bangsa yang malas maka akanmenjadi bangsa yang terhambat dalam segala kemajuan. Rasulullah sendiri berdoa dari rasa malas;

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua..” (Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706).[1]

Oleh karenanya kita harus mengetahui dulu kenapa sifat malas muncul, dan apa penyebabnya, sehingga kalau kita sudah bisa mengetahui penyakit dalam diri, maka akan mudah dalam menyembuhkannya. Dalam beberapa kasus alasan utama munculnya sifat malas ialah kurang nya niat dan tujuan dalam melakukan sesuatu, ini merupakan masalah fundamental. Solusinya ialah dengan mencari goal dalam hidupnya. Terkadang ada niat nya yang kokoh namun berubah dan loyo ditengah jalan disebabkan beberapa faktor. Mereka tau bahwa ingin pergi dari Gresik ke Jakarta namun di tengah perjalanan memutuskan untuk tidur di stasiun hingga berlarut-larut. Lalu apa solusinya?

Dalam buku yang ditulis oleh Josep M Carver seorang pakar psikologi tentang manajemen ingatan emosional manusia, ia memaparkan bahwa menulis suatu target/tujuan dalam hidup kemudian menyimpannya dan membukannya lagi di lain hari selama 90-120 detik ketika berada dalam kondisi malas ialah cara terbaik untuk membangkitkan semangat dan menghancurkan rasa malas.[2] Baca kembali dengan perlahan sambil membayangkan betapa semangatnya ketika menulis target tersebut maka secara psikologis perlahan semangat tersebut akan tumbuh kembali.

Alasan munculnya sifat malas lainnya ialah melihat orang-orang malas disekitarnya hingga menyebabkan dirinya tertular. Hal ini lebih mudah diobati dengan cara melihat orang-orang giat lainnya, seketika semangat tersebut akan nyetrum ke-diri sendiri. Kalau di dunia maya dengan melihat profil dan karya-karya dari orang hebat dengan impact/dampak nya yang besar bagi masyarakat. Maka seketika semnagat untuk kembali aktif akan menggelora.[3]

Setelah mengetahui alasan dan solusi untuk mengatasi malas, maka langkah selanjutnya ialah dengan istiqomah mengontrol semangat tersebut untuk continue hingga akhir hayat. Oleh karenanya dibutuhkan manajemen waktu berupa jadwal kegiatan harian. Sebelum membuat jadwal ada baiknya meberikan suatu nilai apabila telah melaksanakannya dengan baik, berupa rewards atau minimal ucapan “alhamdulillah” dan bila terlewat ucapan “astagfirullah” dengan niat untuk memperbaiknya di hari esok. Metode ini di sebut RMP (Repetitive Magic Power)[4]

Jadwal kegiatan harian dapat dibuat sesuka hati dan sesuai dengan cita-cita /tujuan yang diinginkan. Menempatkan waktu unutk beribadah, membaca Al-Qur’an, waktu untuk belajar/bekerja, waktu untuk bersosial dengan teman, waktu untuk berkarnya dan waktu untuk istirahat/ refreshing. Serta memberikan alternatif bilamana ada aktivitas yang menyebabkan tabrakan dengan jadwal harian. Seperti contoh bilamana ada kegiatan lembur, rekreasi, menjaga orang tua ketika sakit, dan lain-lain. Maka dengan cara ini seseorang tidak akan menyesali aktivitas tersebut karena menabrak jadwal harian sebab telah memiliki alternatif jadwal.

Bilamana kegiatan ini berulan dan istiqomah maka akan ada perubahan dalam diri menjadi pribadi yang lebih bermanfaat setiap waktunya. Resep ini pula yang diterapkan oleh ulama-ulama terdahulu bahkan banyak dari mereka tidak menyisihkan waktu selain untuk belajar. Sedikit tidur dan memperbanyak belajar dan bermunajat di malam hari. Semoga kita dianugrahi cipratan kebiasan mereka dan berkah dari mereka. Amin.

(والله أعلمُ بالـصـواب)

[1] Ahmad al-Hasyimi Bik, Muhtar al-Ahadits an-Nabawiyah, 33

[2] Joseph M. Carver, Emotional Memory Management: Positive Control Over Your Memory, 4

[3] Shohibun Niam bin Maulana At-Tharobani, Zadah: bekal menggapai ilmu Manfaat dan Berkah. Kediri: Al-Aziziyah Press. 2015, hal. 102

[4] Ary Ginanjar Agustian, ESQ Way 165, ARGA: Jakarta, 206.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *