Meng-Islam-kan Peran Kepemimpinan

Oleh: Muhammad Davan Fernanda

Dalam tatanan masyarakat, baik itu sebuah organisasi dalam lingkup yang kecil maupun yang lebih luas, seperti tatanan pemerintahan, membutuhkan sebuah peran kepemimpinan. Masyarakat yang terpelajar dan beradab membutuhkan kepemimpinan yang dibangun atas dasar-dasar konsensus nilai-nilai kearifan lokal, yang mengedepankan kebermanfaatan dan kemaslahatan. Kultur budaya dan kearifan lokal merupakan sebuah entitas yang berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. Kepemimpinan tidak akan terlepas dari nilai-nilai budaya dan kehidupan sosial masyarakat setempat, juga termasuk keyakinan yang dianut oleh masyarakat. Hal ini tentu tidak dapat dipertentangkan, atau bahkan menjadi lawan, akan tetapi perlu realisasi dari kedua hubungan ini atau bahkan diintegrasikan. Salah satu nilai dari kearifan lokal yaitu memiliki tingkat solidaritas yang tinggi terhadap lingkungan dan mengedepankan kepentingan komunal.

Teori solidaritas masyarakat ini sesuai dengan khasanah keilmuan Islam yang daingkat dan dipopulerkan oleh salah satu filsuf kepemimpinan Islam yakni Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun dikenal sebagai peletak dasar teori solidaritas atau yang dikenal dengan teori ‘Ashabiyat. Teori ini merupakan manifestasi dari nilai yang menganjurkan untuk saling melindungi dan mengembangkan potensi serta saling bantu dinatara sesama, teori ini dikenal dengan harmoni al-jasad al-wahid. Melalui teori harmoni al-jasad al-wahid dimisalkan kehidupan komunitas muslim itu dengan ka al-bunyan yasuddu ba’duha ba’dla bagaikan sebuah bangunan, yang antara elemen bangunan yang satu dengan yang lainnya saling mmembantu guna memperkokokh dan konsep ta’âwun al-ihsan itu didasarkan atas pemikiran ajaran Islam, yang di dalamnya terkandung norma akidah dan syariat.

Peran Islam dalam Kepemimpinan

Seorang Ulama Masyhur, Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwasanya agama Islam tidak akan bisa berdiri tegak dan abadi apabila tidak ditunjang oleh kekuasaan, sama halnya kekuasaan tidak bisa langgeng jika tidak ditunjang oleh agama. Praktim-praktik kepemimpinan ini memang sudah berlangsung sejak lama. Mulai dari zaman yunani kuno, zaman peradaban islam hingga di zaman digitalisasi seperti ini, peran kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap perubahan moral dan kemajuan bangsa.

Dalam Islam, kepemimpinan sering diartikan sebagai kata Imamah. Sedangkan kata yang terkait dengan kepemimpinan dan berkonotasi pemimpin dalam Islam itu terdapat delapan istilah, yaitu; Imam dalam Surat al-Baqarah 124. Khalifah pada al-Baqarah: 30. Malik, al-Fatihah : 4, Wali pada al-A’raf : 3. ‘Amir dan Ra’in, Sultan, Rais, dan Ulil ‘amri.

Menurut Quraish Shihab, imam dan khalifah dua istilah yang digunakan Alquran untuk menunjuk pemimpin. Kata imam diambil dari kata amma-ya’ummu, yang berarti menuju, dan meneladani. Kata khalifah berakar dari kata khalafa yang pada mulanya berarti “di belakang”. Kata khalifah sering diartikan “pengganti” karena yang menggantikan selalu berada di belakang, atau datang sesudah yang digantikannya.

Namun, kebanyakan umat muslim masih mengabaikan teori-teori kepemimpinan berdasarkan perspektif Islam yang sudah diajarkan dan diterapkan sebelumnya oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam dan empat pemimpin utama khulafaur-rasyidin yang memerintah negara selama 50 tahun (611–661). Di era tersebut, semua orang dilindungi, dilayani, dibimbing, diwakili, dan diilhami oleh para pemimpin mereka selama periode itu. Inilah konsep dan contoh terbaik kepemimpinan Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits yang harus diikuti khususnya oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia.

Inilah yang menjaidkan Islam adalah agama yang mengatur segala hal termasuk kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan mata pelajaran penting yang telah digunakan untuk menyebarkan ajaran atau dakwah Islam dan sebagai instrumen paling signifikan untuk mewujudkan masyarakat ideal yang didasarkan pada keadilan dan kasih sayang. Kedua unsur tersebut saling terkait dan menjadi acuan utama dalam kepemimpinan. Pemimpin harus menegakkan dan mempromosikan keadilan secara terus menerus.

Sehingga, dalam sebuah masyarakat realisasi serta integritas antara kepemimpinan dengan nilai-nilai kearifan lokal perlu dielaborasikan. Ini sebagai upaya untuk meningkatkan solidaritas kearifan lokal atas lingkungannya dapat beriringan mencapai tujuan bersama.

Karakter Pemimpin Islami

Pemimpin adalah suatu panggilan yang sangat mulia dan menjadi salah satu perintah Allah SWT untuk menjadikan dirinya sebagai khoirun nas yang menempatkan dirinya untuk memberikan kontribusi dan kebermanfaatan di masyarakat. Peran Khoirunnas Anfauhum Linnas (Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain) tentunya sangat mudah dilakukan ketika kita memiliki kuasa lebih sebagai pemimpin di masyarakat.

Allah SWT sudah memerintahkan manusia dan hamba-hambanya untuk menjadi pribadi yang bermanfaat. Dalam Surat Al-Imran ayat 110, dijelaskan bahwa Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nāsi ta`murụna bil-ma’rụfi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu`minụna billāh yang artinya kamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.

Karakter pemimpin yang mulai sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan juga para khalifah, mulai dari Abu Bakar hingga Ali bin Abi Thalib. Rasulullah SAW memberikan contoh bahwa solidaritas kelompok sebagai dasar kehidupan yang dilandasi oleh iman dan akhlak mulia dapat diterapkan dalam tatanan kerja sama kemanusiaan atau ta’âwun al-ihsan. Apabila teori tersebut dihubungkan dengan kegiatan kepemimpinan, maka akan dapat mendorong masyarakat untuk bersatu dan aktif partisipatif dalam proses pembangunan di semua sektor kehidupan.

Manusia memiliki karakter yang berbeda dengan motivasi masing-masing untuk menjadi pemimpin sesuai dengan perilaku dan keyakinan yang mendalam sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Motivasi seseorang untuk ambil bagian dalam suatu proses kepemipinan sangat beragam sebagaimana halnya motivasi seseorang untuk melaksanakan ibadah, seperti salat, puasa, dan sebagainya. Keragaman motivasi atau latar belakang niat seseorang dalam bertindak adalah suatu hal yang tidak terelakan dan secara hukum tidak dipersalahkan. Sejarah menjelaskan kepada kita, ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah bersama para pengikutnya, beliau mengatakan bahwa motivasi dan keikutsertaan para pengikutnya itu beragam, ada yang bermotivkan kekayaan, dan ada juga karena dorongan wanita yang ingin dinikahinya. Semuanya itu dibenarkan, hanya saja kualitas partisipasi yang terbaik dan tertinggi dalam pandangan agama Islam adalah karena Allah SWT.

Beberapa karakter yang harus dimiliki oleh sebuah kepemimpinan berlandaskan adalah: Pertama, Shiddiq (Jujur). Seorang pemimpin wajib berlaku jujur dalam melaksanakan tugasnya. Dalam segala hal yang ia lakukan, ia harus jujur tanpa harus mengubah fakta. Dalam Alquran, keharusan bersikap jujur dalam memimpin, sudah diterangkan dengan sangat jelas dan tegas yang antara lain kejujuran tersebut. Dalam ayat Al-Qur’an, Allah SWT berfiman: Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. (QS Al An’aam: 152).

Kedua, Amanah (dapat dipercaya). Setiap pemimpin harus bertanggung jawab atas usaha dan pekerjaan dan atau jabatan yang telah dipilihnya tersebut. Pemimpin merupakan suatu tugas mulia, lantaran tugasnya antara lain memenuhi kebutuhan seluruh anggota masyarakat akan barang dan atau jasa untuk kepentingan hidup dan kehidupannya.

Ketiga, Tidak berkhianat dan tidak menipu. Hal ini pernah diperingatkan oleh Rasulullah SAW utuk tidak tidak mengobral janji atau berpromosi secara berlebihan yang cenderung mengada-ngada, semata-mata agar terpilih, lantaran jika seorang pedagang berani bersumpah palsu, akibat yang akan menimpa dirinya hanyalah kerugian.

Keempat, Cerdas. Cerdas disini dapat diartikan menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Kepemimpinan adalah perdagangan dunia, sedangkan melaksanakan kewajiban Syariat Islam adalah perdagangan akhirat. Keuntungan akhirat pasti lebih utama ketimbang keuntungan dunia. Maka para pemimpin muslim sekali-kali tidak boleh terlalu menyibukkan dirinya semata-mata untuk mencari keuntungan materi dengan meninggalkan keuntungan akhirat. Lebih mengedapankan kemaslahatan umat daripada harus mengambil keuntungan ribadi.

Sehingga, sebagai pemimpin hendaknya kita selalu berupaya menyempurnakan keilmuan, berani mengambil risiko dan mampu mengambil ibrah dari keberhasilan serta kegagalan para pemimpin terdahulu. Jadilah pemimpin yang berangkat atas dasar keilmuan dan ketakwaan bukan atas dasar nafsu dan keserakahan.

Rekomendasi