Menemuman Keikhlasan Dalam Diri

Oleh: Ahmad K. Nizam

Ikhlas ditinjau dari sisi lughawy berasal dari khalusa yaitu kata kerja intransitif yang artinya bersih dan murni atau juga bisa diartikan tidak terkena campuran. Selanjutnya setelah mengalami penambahan huruf menjadi akhlasa maka kata itu berubah menjadi transitif yang berarti membersihkan atau memurnikan. Menurut Imam AL-Ghazali iklhlas memiliki antonim isyrak (menyekutukan).

Dalam melakukan segala amal manusia, tidak bisa lepas dari dua hal di atas yang saling berlawanan meskipun tidak secara total, mungkin saja sekian persen ikhlas dan sekian persen yang lain tidak. Keduanya sama-sama merujuk pada motif dari dilaksanakan suatu amal.

Pada dasarnya ikhlas merupakan urusan hati yang bersifat rahasia (mina al-asrar), hanya Allah Swt yang mengetahuinya. Namun demikian, setidaknya secara lahiriyah ikhlas ini dapat diketahui dari keadaan seseorang ketika sendirian dan ketika berada di tengah manusia lain. Dalam amal ibadahnya, ia tetap stabil dalam pujian dan cacian manusia, ia lupa melihat amal-amalnya, dan ia juga lupa mencari balasan di akhirat.

Lebih jauh mengenai makna terminologinya, terdapat banyak sekali pendapat yang diajukan untuk mendefinisikaan hakikat ikhlas tersebut. Salah seorang ulama dalam penjelasannya mengatakan ikhlas dalam beramal, berarti tidak adanya kehendak atau keinginan mendapatkan imbalan dari amal perbuatanya baik di dunia maupun di akhirat. (Kifayatu Al-Atqiya’ wa minhaju Al-Asfiya’,h. 32)

Keikhlasan semacam itulah yang harus selalu diupayakan agar menjadi watak yang menjiwai dan menyertai segala bentuk tindakan dan amal ibadah kita setiap waktu. Sebab hal itu merupakan kunci diterima atau tidaknya amal disisi Allah Swt. Bilamana orang itu sama dalam kondisi yang mengitarinya itu, maka hal itu cukup dijadikaan tanda bahwa dia ikhlas atau mukhlis (Ar-Risalah Al-Qusyairiyah,h.208).

Oleh karena itu harus dihindari pelaksanaan ibadah yang dimanipulasi untuk tujuan sesaat yang bersifat duniawiyah semisal untuk mendapatkan kedudukan, kakayaan, pujian masyarakat dan lain sebagainya. Karena itu semua, tidaak lain adalah pengaruh hawa nafsu yang merupakan ajakan setan yang harus dengan sekuat tenaga kita jahui.

Dalam hal ini Sayid Abi Bakar Al-Makky dalam kitabnya kifayatu Al-Atqiya’ wa minhaju Al-Asfiya’ menerangkan ikhlas itu memiliki tingkatan-tingkatan yang berbeda sehingga mukhlis pun dengan sendirinya bertingkat.

Pertama, ikhlas itu tidak adanya keinginan dari ketaatan seseorang hamba kepada Allah Swt. Kecuali mendekatkan diri kepada-nya/taqarrub. Ini merupakan tingkatan mukhlis paling tinggi. Beramal dengan harapan mendapat pahala, ini merupakan tingkatan mukhlis yang kedua.

Kemudian yang ketiga adalah beramal dengan harapan Allah Swt, akan memberikan kekayaan di dunia, seperti memperbanyak bacaan Surat Al-Waqi’ah, pelaku dari amal seperti ini termasuk tingkatan mukhlis yang paling terendah.

Tetapi juga ada pendapat lain yang menyebutkan ketidakmurniaan ikhlas, apabila motif mencari ridho Allah Swt, presentasenya lebih dominan, maka amal itu tetap mendapatkan pahala, bila tidak, tidak.

Bagaimana seandainya amaliyah kita belum seluruhnya ikhlas? Diterima atau tidak? . Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa syarat diterimanya amal adalah ikhlas atau bersih dari tujuan-tujuan duniawi. Maka menurut pendapat ini amal kita sama sekali tidak mendapatkan pahala.

Dengan kata kalin, kita hanya seorang hamba, Allah Swt. Memerintahkan kita begini, sebagai hamba kewajiban kita adalah menjalankanya dengan sebaik-baiknya, adapun nanti Allah Swt. Memberikan pahala atau imbalan yang lain itu adalah urusan-Nya. Bukankah Allah Maha Adil dan selalu memenuhi janji-Nya.Wallahua’lam.

Bio singkat,

Ahmad khoirun nizam, alumni santri pondok pesantren raudlatul muta’allimin kendal jawa tengah.

Rekomendasi