Opini  

Mau Mondok? Pahami Dulu Istilah- Istilah Unik di Pondok Pesantren Ini


Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/dawuhgur/domains/dawuhguru.co.id/public_html/wp-content/themes/wpberita/template-parts/content-single.php on line 98

Memasuki dunia pondok pesantren memang tidaklah mudah. Adaptasi dengan lingkungan, teman dan istilah-istilah uniknya pun menjadi warna warni yang harus dihadapi oleh santri baru. Berbagai istilah-istilah unik di pondok pesantren pun harus diketahui sejak dini. Mungkin istilah tersebut akan terasa lucu dan aneh, namun di berbagai pondok pesantren di Indonesia, terkhusunya di wilayah jawa memang sudah akrab dengan istilah tersebut. Alhasil istilahnya tidak hilang seiring berkembangnya zaman. Beberapa orang pasti penasaran dengan berbagai istilah yang beredar di pondok pesantren tersebut. Tak perlu khawatir karena informasi yang menarik di bawah ini akan membahas mengenai beberapa istilahnya:

1. Ngapling

Istilah ngapling bisa diartikan sebagai antri. Biasanya santri yang bilang ngapling artinya mengantri setelah orang tersebut. Ngapling bisa dipakai untuk banyak aktifitas, seperti mandi, ngaji , atau meminjam barang. Seperti yang diketahui bahwa di pesantren terdiri dari banyak santri sehingga serba antri.
Bagi santri baru biasanya akan kalah dengan senior ketika ngapling mandi sehingga harus berhati-hati. Alangkah lebih baik untuk menunggu di depan kamar mandi saja agar tidak ada satupun orang yang berbuat curang.

2. Ghosob

Inilah istilah-istilah unik di pondok pesantren yang sebaiknya tidak dilakukan karena termasuk kedalam perbuatan tercela. Ghosob artinya adalah meminjam barang seseorang tanpa meminta izin terlebih dahulu. Meskipun nantinya dikembalikan, namun tetap tidak boleh yaa.
Budaya ghosob di pondok pesantren memang sudah menjadi tradisi dan susah untuk dihilangkan. Barang yang paling sering dighosob adalah sandal karena letaknya yang berada di luar sehingga tidak terjaga dengan baik.

3. Ta’ziran

Hampir setiap santri pasti pernah mendapatkan ta’ziran di pondok pesantren. Sebenarnya apa arti ta’ziran itu sendiri? Ta’ziran yaitu semacam hukuman yang diberikan kepada santri apabila melanggar peraturan tertentu. Kategori hukumannya pun disesuaikan dengan pelanggarannya.
Biasanya ta’ziran dalam kategori yang berat yaitu ketika ketahuan pacaran dengan lawan jenis. Untuk kategori ringan adalah tidak jamaah, tidak mengaji, berkelahi, dan lainnya. Hukuman yang diberikan pun bisa berupa membersihkan kamar mandi, dicukur gundul bagi laki-laki, dan lainnya.

Baca Juga  Ketakutan Menuntut Ilmu dalam Islam

4. Sambangan

Sambangan pasti sangat dinanti-nanti oleh seorang santri. Dimana, orang tua datang ke pondok pesantren untuk menjenguk anaknya. Momen ini merupakan momen paling haru karena biasanya anak dan orang tua tidak bertemu dalam waktu lama.
Pelaksanaan sambangan biasanya diatur sendiri oleh pondok pesantren. Terkait waktu sambangannya biasanya 1 bulan sekali untuk pondok pesantren yang tidak terlalu besar. Perasaan sedih biasanya datang dari santri yang orang tuanya tidak bisa datang menjenguk.

5. IN

Saat ada sambangan, biasanya orang tua membawa oleh-oleh dari daerah masing-masing. Nah, oleh-oleh tersebutlah yang dinamakan IN atau singkatan dari Insyaallah Nikmat. Entah istilah ini datang dari mana namun memang sudah turun temurun.
Setiap santri pasti mengharapkan IN ini karena gratisan dan biasanya jumlahnya banyak sehingga bisa membuat kenyang. Santri yang baru pulang dari rumah juga biasanya ditagih IN oleh teman-temannya karena memang tradisinya seperti itu.
Membawa IN ini tidak harus dengan makanan yang mahal karena biasanya semua makanan akan habis ketika di pondok pesantren. Cukup dengan jumlahnya saja yang banyak untuk tipe makanannya yang standar saja.

6. Ro’an

Bersih-bersih yang dilakukan di pondok tentu saja berbeda namanya ketika berada di sekolah. Ro’an merupakan nama khas untuk membersihkan pondok secara berjamaah atau serentak. Semua santri wajib mengikuti ro’an sesuai dengan pembagian yang telah dibuat pengurus.
Hari yang biasanya dipilih untuk melakukan ro’an ini adalah minggu karena libur sekolah. Tujuannya adalah membersihkan semua area pondok pesantren agar lebih sedap di pandang. Jadi, meskipun di pondok pesantren harus tetap bersih yaa.
Kebersihan memang harus tetap terjaga agar tidak terkena penyakit kulit menular ataupun penyakit lainnya yang sering diderita oleh santri. Penggunaan handuk pun sebaiknya tidak bersama-sama demi menjaga kebersihan badan.

Baca Juga  Sejarah Masuknya Etnis Tionghoa Islam Di Surabaya

7. Nambal

Ketika mendengar kata nambal pasti yang terlintas di otak adalah nambal ban. Tentu saja bukan itu yang dimaksud. Nambal disini diartikan sebagai mengisi kitab yang kosong maknanya. Kegiatan nambal biasanya terjadi saat menjelang kepulangan dan ujian.
Kebiasaan santri ketika mengaji kitab kuning adalah tidur sehingga wajar saja jika kitabnya ada yang belum diberi makna. Alhasil, ketika diakhir menjelang kepulangan pun merasa kerepotan karena banyak yang harus ditambal.
Nantinya akan ada yang mengecek kitab tersebut sehingga terlihat sekali jika masih kosong. tentu, jika belum penuh, maka hukumannya tidak boleh pulang ataupun tidak boleh mengikuti ujian yang diselenggarakan pondok pesantren. Jadi, jangan sering-sering ngantuk ketika pelajaran.

8. Mayoran

Makan bersama di pondok pesantren merupakan kegiatan yang kerap kali terjadi. Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa makan bersama memang terasa lebih nikmat karena ada rasa kebersamaannya. Terlebih ada partner berebut makanan yang menjadikan kita semakin berselera untuk makan.
Mayoran merupakan istilah-istilah unik di pondok pesantren yang menandakan ada makan besar dari seseorang yang telah melakukan pencapaian tertentu. Misalnya sudah khatam Al-Qur’an, wisuda pondok, atau pencapaian penting lainnya.
Biasanya para santri akan berebut untuk makan di dalam beberapa nampan yang telah disediakan. Keseruan inilah yang tidak akan ditemukan pada tempat lain. Apabila di rumah pun, makan terasa hampa karena satu piring hanya untuk seorang diri.

9. Ndalem

Di dalam pondok pesantren terdapat rumah pak yai dan bu nyai yang biasa disebut ndalem. Tempat tersebut dianggap keramat dan tidak sembarang orang bisa keluar masuk. Biasanya santri yang mengabdikan dirinya di ndalem yang sering keluar masuk.
Santri yang kebetulan melewati ndalem ini akan menunduk sebagai bentuk rasa hormat kepada kyai beserta keluarganya. Apabila ada pihak ndalem yang keluar pun, santri akan menghentikan jalannya menunggu beliau lewat terlebih dahulu.

Baca Juga  Membeli Gelar Profesor Doktor: Analisis Kritis Postmodernisme pada Dunia Pendidikan

10. Boyong

Momen yang paling sedih bagi seorang santri adalah ketika harus boyong atau meninggalkan pondok tersebut untuk selama-lamanya. Segala kenangan yang telah terukir indah di dalam pondok pesantren pun akan terlintas kembali ketika sudah di rumah.
Sebelum boyong, seorang santri harus berpamitan terlebih dahulu dengan semua teman dan tak lupa sowan kepada pengasuh bersama kedua orang tua. Semua barang yang menjadi miliknya pun sebaiknya dibawa pulang agar tidak menjadi sampah di pondok pesantren tersebut.
Kesedihan seorang santri semakin terasa ketika sudah sampai di rumah. Banyak orang yang mengharapkan ilmu dari seorang santri tersebut untuk dibagikan kepada orang lain di sekitar rumah. Terkadang merasa belum siap untuk mengabdi di masyarakat namun kondisi mengatakan lain.
Istilah-istilah unik di pondok pesantren yang telah tersaji di atas memang patut dimengerti oleh santri baru. Meskipun terlihat aneh, namun istilah tersebut terkadang terlihat lucu dan menggelitik. Orang yang belum pernah mondok pun tidak akan paham dengan istilah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *