Maksiat Dapat Mengurangi Kecerdasan

  • Bagikan
Maksiat Dapat Mengurangi Kecerdasan - dawuh guru
Gambar: Pulang

Oleh: Mohammad Ulil Rosyad

Kecerdasan dan daya ingat yang dimiliki manusia tidak konstan (tetap). Ternyata keduanya dapat berubah-ubah karena suatu sebab. Bisa menguat dan melemah. Para ahli berbondong-bondong meneliti faktor penyebabnya. Apa saja pemicunya?

Ulama-ulama kita telah menemukan berbagai resep untuk meningkatkan kecerdasan otak manusia. Resep tersebut telah mereka uji pada diri mereka dan pada murid-muridnya. Sepanjang sejarahnya resep tersebut terbukti melahirkan manusia-manusia yang nggul dan kreatif. Sehingga islam dapat berbangga pada dunia dengan menunjukkan lebih dari +6 juta karya dari peradabannya.[1]

Dalam tulisan Shohibun Niam mengatakan bahwa kinerja otak manusia sangat terpengaruh oleh keadaan psikologis atau kejiwaan. Kejiwaan yang stabil akan mendukung otak untuk bekerja dengan maksimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengalami depresi, kinerja otaknya menurun. Kecermatan dan daya ingatnya melemah. Bahkan bisa linglung.[2]

Salah satu kondisi emosional yang dapat mengganggu kinerja otak ialah perasaan bersalah. Dimana perasaan ini muncul setiap manusia melakukan suatu kesalahan. Meskipun secara tampak luarnya tidak merasakan melakukan tindak kesalahan, namun alam bawah sadarnya menyadari hal tersebut. Hal demikian membuat seorang manusia merasa pantas dihukum oleh Tuhan. Jiwa yang tertekan, hati yang bergejolak, fikiran yang kacau dan diliputi rasa bersalah. Akibatnya otak mereka merespon banyak hal negatif dan tidak bisa bekerja maksimal. Nabi Muhammad Saw. Bersabda:

البرُّ ما اطمأنتْ إليهِ النفسُ ، واطمأنَ إليهِ القلبُ ، والإثمُ ما حاكَ في النفسِ وترددَ في الصدرِ 

Kebaikan adalah sesuatu yang membuat hati menjadi tenang. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengusik dalam hati serta bergejolak dalam dada.”

Kala Imam Syafi’I di Baghdad menggubah sebuah sya’ir yang sering kita lantunkan dalam pujian-pujian sebelum sholat:

فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي
وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ

“Aku mengeluh pada Imam Waqi’ akan lemahnya hafalanku. Maka beliau menyuruhku untuk meninggalkan maksiat”

“dan beliau memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan pada ahli maksiat”[3]

Imam Syafi’i mengeluhkan kepada Imam Waqi’ bin al Jarrah –guru dalam bidang hadis– tentang penurunan kecerdasannya dalam menghafal ilmu. Lantas sang guru menasehatinya agar meninggalkan maksiat.

Sebagaimana kita ketahui seorang Imam syafi’i saja, terkenal dengan kealimannya dan mejadi imam madzhab merasa bahwa adanya penurunan dalam kecerdasannya, apalagi orang biasa seperti kita. Maka meninggalkan maksiat juga berarti meninggalkan hal-hal yang dilarang yang dapat mengganggu psikis otak manusia. Layaknya sebuah peraturan sekolah yang dilanggar oleh siswa, selain mendapatkan skors ia juga mendapatkan serangan mental yang dapat membuatnya kepikiran. Hal ini bila dilakukan berkali-kali maka menjadikannya depsresi dan mudah kemasukkan hal-hal negatif dan menyebabkan kurang optimalnya kinerja otak. Maka tak heran banyak dari ulama kita bilamana melakukan maksiat ia langsung menangis tersedu-sedu dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.

Masih segar ingatan kita tentang kisah sahabat nabi yang bernama Tsa’labah bin Abdurrahman ketika melakukan maksiat dengan tanpa sengaja melihat perempuan yang sedang mandi. Seketika ia menangis sejadi-jadinya dan menyesali perbuatnnya dengan menjauh dari Rasulullah bersembunyi dan terus menerus beristigfar dan bertaubat kepada Allah. Hingga pada suatu hari ia ditemukan oleh Sayyidina Umar dan dibawaknnya kepada Rasullulah dalam keadaan sakit hingga mati dalam keadaan syahid. Bahkan diriwayatkan jasadnya di keliling oleh banyak sekali malaikat yang ingin mengantarkananya ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Lalu apabila kita telah mengetahui bahanya maksiat secara psikologis maupu teologis apa yang harus dilakukan oleh seorang muslim untuk terhindar dari maksiat teesebut?. Berikut tips ulama dalam menjauhi maksiat.

[1] Departemen Agama, Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan di Pondok Pesantren, Depag. 2003, hal. 3

[2] Shohibun Niam bin Maulana At-Tharobani, Zadah: bekal menggapai ilmu Manfaat dan Berkah. Kediri: Al-Aziziyah Press. 2015, hal. 32

[3] Syekh al Zarnuji, Ta’limul Muta’alim, (Maktabah Syirkah al Nur Asia), 41

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *