Islamisasi, Asimilasi Seni Budaya Wayang Nusantara

Oleh: Muhammad Alwi Annazar

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya Prodi Aqidah dan Filsafat Islam

Sebelum kedatangan Islam, sebagian besar masyarakat Indonesia pada waktu itu merupakan para penganut animism dan dinamisme. Pada saat itu mayoritas memiliki kepercayaan terhadap benda-benda yang memiliki “daya sakti” dan kepercayaan akan adanya arwah. Kepercayaan animism dan dinamisme ini merupakan salah satu ajaran Kapitayan. Pada saat itu terdapat banyak terdapat kerajaan bercorak Hindu Buddha seperti contohnya kerajaan Mojopahit dan kerajaan Sriwijaya. Dan setelah peradaban Hindu Buddha mulai runtuh. Maka mulailah ekspansi peradaban Islam di nusantara melalui beragam cara mulai dari pendidikan, budaya, perkawinan, perdagangan, hingga melalui politik.

Islam hadir sebagai agama yang dapat menyatu dengan budaya setempat. Keberadaan agama Islam sontak menarik perhatian masyarakat pada saat itu yang mayoritasnya masih memercayai agama Hindu Buddha. Akumulasi kebudayaan yang menyatu dengan berbagai kultur ini yang menyebabkan Islam sebagai agama multicultural. Kemampuan Islam untuk menyatukan budaya menciptakan proses asimilasi antara budaya setempat dengan ajaran agama Islam. Hal tersebut yang menjadikan Islam dapat diterima secara terbuka oleh masyarakat pada saat itu.

Proses asimilasi tersebut dapat dibuktikan melalui usaha mengislamkan anasir Hindu. Yakni dengan mengubah sekaligus menyesuaikan hikayat pewayangan Ramayana dan Mahabarata yang saat itu menjadi kegemaran masyarakat saat itu dengan ajaran Islam. Anasir Hindu yang dianggap penting untuk diislamkan adalah pakem cerita pewayangan yang didasarkan pada cerita Ramayana dan Mahabarata. Selama proses asimilasi tersebut terjadi “dewanisasi” menuju “humanisasi” dengan tujuan tumbuhnya tauhid. Usaha untuk mengislamkanpakem cerita pewayangan tersebut dibuatlah cerita yang disesuaikan dengan nilai-nilai yang islami. Cerita pewayangan ini digunakan sebagai media dakwah oleh para penyebar Islam termasuk di tanah Jawa. Di Jawa para penyebar Islam dikenal sebagai Walisongo mereka merupakan sosok yan sangat dihormati sehingga mendapat gelar sebagai Sunan yang memiliki arti “terhormat”.

Dalam misi penyebaran Islam di tanah Jawa para Wali-wali tersebut menggunakan metode budaya termasuk pewayangan salah satunya yang digunakan oleh Sunan Kalijaga. Seni pewayangan yang berawal mula dari tradisi keagamaan Hindu mulai dikemas dan diislamkan sesuai ajaran Islam, Wayang tersebut dipakai oleh Sunan Kalijaga untuk berdakwah dalam proses berdakwahnya tersebut cerita wayang tersebut memuat ajaran Islam yaitu tentang Keikhlasan, kemanusiaan, tentang buruknya berkhianat.

Dalam pertunjukan wayang tidak hanya menceritakan Ramayana, dan Mahabarata saja akan tetapi kehadiran Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong selalu dinanti-nanti para penonton. Keempatnya merupakan karakter khas dalam wayang Jawa (Punakawan). Dalam wayang golek terdapat peran Semar, Cepot, Dawala, serta Gareng. Punakawan merupakan karakter yang khas dalam wayang Indonesia. Kehadiran karakter lokal itu melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para kesatria, penghibur, kritik sosial, badut, bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Pendekatan ajaran Islam dalam kesenian wayang juga tampak dari nama-nama tokoh punakawan. Barangkali tak banyak orang yang tahu kalau nama-nama tokoh pewayangan, seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong sebenarnya berasal dari Bahasa Arab.

Ada yang menyebutkan jika nama Punakawan berasal dari Bahasa Arab Hal itu dibuktikan dengan nama Semar yang berasal dari kata Sammir yang memiliki Arti paku (pengokoh), lalu Gareng yang berasal dari Naala Qariin  lalu masuk dalam pelafalan orang Jawa menjadi Gareng yang memiliki arti memperoleh bsnysk teman, selanjutnya terdapat Tokoh pewayangan tengah Petruk berasal dari kata Fat-ruk kulla maa siwallaahi (tinggalkan semua apa pun yang selain Allah). sendiri memiliki nama lain yaitu  Kanthong Bolong  yang memiliki makna saku berlubang hal itu ditujukan untuk manusia seharusnya menyerahkan segalanya kepada Allah SWT, karena manusia sesungguhnya tidak memiliki apa-apa selain Tuhan. Lalu yang terakhir yaitu Bagong dari kata Bagho memiliki arti kejelekan, kebathilan, dan keangkaramurkaan tokoh ini sebagai penyeimbang dari ketiga Tokoh tersebut. Yang mana jika Punakawan ini disusun secara berurutan maka secara harfiah bermakna “Berangkatkan menuju kebaikan Berangkatkan menuju kebaikan, maka kamu akan meninggalkan kejelekan. Selain Punakawan, istilah-istilah lain dalam pewayangan juga banyak berasal dari istilah Arab.

Dengan kenyataan historis yang menyimpang dari keberadaan pakem pewayangan yang menyimpang dari naskah induknya yang asli semakin membuktikan usaha-usaha para penyebar Islam itutelah melakukan perombakan setting budaya dan tradisi keagamaan yang ada di tengah masyarakat, terlebih tidak hanya melalui penyesuaian pakem pewayangan, juga terdapat legenda-legenda yang diangkat lalu disesuaikan dengan akidah-akidah dan nilai keislaman, dari bukti pakem Ramayana, Mahabarata, dan cerita Punakawan begitu cepat menarik perhatian Masyarakat sehingga masyarakat terpesona dengan permainan wayang yang menggunakan pakem cerita yang sudah di asimilasi dan di islamkan.

 

Sumber Tulisan:

Agus Sunyoto, 2016, Atlas Walisongo, (Pustaka IIMaN, Tangerang Selatan).

Ahmad Mukhlisin, Muhammad Jamil, Aprezo Pardodi Maba, Asimilasi, Islam Dengan Budaya Lokal di Nusantara, January 1970, Nurani Jurnal Kajian Syari ah dan Masyarakat, IAIMNU Metro Lampung.

Nurul Hak, Rekonstruksi Historiografi Islamisasi dan Penggalian Nilai-nilai ajaran Sunan Kalijaga. (Analisis Jurnal Studi Keislaman, Vol 16, No 1, Juni 2016) IAIN Raden Intan Lampung.

Rekomendasi