Ilmu Mantiq: Mengetahui Perbedaan antara Manusia dengan Makhluk Infrahuman

Ilmu Mantiq Mengetahui Perbedaan antara Manusia dengan Makhluk Infrahuman - dawuh guru
Gambar: BBC

Oleh: Siti Khumairoh

Dalam perjalanan Panjang kehidupan, manusia telah dianugerahi sebuah karunia unik yang membedakannya dari makhluk lain di alam semesta ini, yaitu kemampuan berpikir. Namun, ketika manusia berpikir sering kali dipengaruhi oleh berbagai emosi dan sudut pandang pribadi yang menyebabkan ketidak jernihan dalam berpikir secara logis. Dengan ilmu mantiq manusia akan dibantu untuk mendapatkan sebuah formula, bagaimana cara berpikir dengan benar, sehingga seseorang tersebut akan selamat dari penalaran yang salah.

Apa ilmu mantiq itu?

Mantiq merupakan bahasa arab yang berasal dari kata nathaqa yang artinya berpikir. Nathiqun, orang yang berpikir, manthuqun, yang dipikirkan, manthiqun alat berpikir.

Namun, mantiq juga disebut sebagai logika, berasal dari bahasa Yunani dari kata logike yang mana berhubungan dengan kata benda logos dengai arti pikiran atau kata sebagai pernyataan dari pikiran tersebut. Jadi, pada intinya ilmu mantiq atau logika adalah cabang ilmu yang mempelajari cara berpikir yang benar. Ilmu maniq membantu membangun dasar pemikiran yang jelas dan kritis, serta memastikan bahwa argumen yang diajukan sesuai dengan prinsip-prinsip logika untuk mencapai kesimpulan yang sah dan bermanfaat.

Definisi manusia dan makhluk infrahuman

Dalam ilmu mantiq atau logika, istilah manusia dan infrahuman (makhluk yang belum pada Tingkat pemahaman manusia) digunakan untuk merinci kategori atau elemen dalam suatu pernyataan atau argumen. Definisi “manusia” dalam ilmu mantiq atau logika lebih cenderung berkaitan dengan aspek konseptual atau filosofis daripada aspek biologis atau fisik. Dalam konteks ini, manusia didefinisikan sebagai makhluk rasional yang mampu berpikir, menggunakan akal dan menyusun argumen. Pada kesimpulannya, definisi menekankan kemampuan manusia berpartisipasi dalam proses berpikir logis, merumuskan premis dan mencapai kesimpulan berdasarkan aturan-aturan logika.

Baca Juga  Kunci Sukses dalam Rumah Tangga Menurut K.H. Mahrus Aly Lirboyo: Menghormati Istri sebagai Fondasi Utama

Pada perspektif logika, manusia dianggap memiliki kemampuan unik untuk memahami, menganalisis dan meperoses informasi secara rasional. Hal ini, mencermikan peran penting akal budi dalam memberntuk argumen yang benar. Dalam konteks argumen pernyataan yang berkaitan tindakan, sifat atau karakteristik manusia mungkin diperinci atu di analisis.  Pemahaman manusia dalam ilmu mantiq sering kali lebih bersifat abstrak dan terfokus pada aspek intelektual daripada aspek fisik atau biologis.

Sedangkan, istilah “infrahuman” dalam ilmu mantiq tidak memiliki definisi khusus. Kata infrahuman mengacu pada konsep yang di bawah manusia, sesuatu yang bukan manusia secara keseluruhan. Dengan demikian, kita dapat mengambil pengertian bahwa makhluk infrahuman adalah makhluk atau segala sesuatu di alam yang berada di bawah derajat manusia, baik itu berupa makhluk hidup ataupun makhluk tak hidup (barang-barang infrahuman).

Perbedaan antara manusia dengan makhluk infrahuman

Pada dasarnya manusia menjalani kehidupan di dunia ini tidaklah sendirian. Manusia saling berdampingan dengan banyak entitas lainnya. Namun, manusia menjadi makhluk hidup dengan kemampuan yang tidak dimiliki makhluk lainnya, seperti halnya makhluk infrahuman. Banyak pakar yang mengartikan makhluk infrahuman sebagai makhluk hidup yang belum sampai pada tingkat pemahaman layaknya manusia. Dalam konteks ini sama halnya makhluk infrahuman diartikan seperti dengan binatang.

Perbedaan-perbedaan manusia dengan makhluk infrahuman diantaranya adalah:

Pertama, manusia merupakan animal rationale, Dimana manusia berbeda dari pada makhluk ciptaan lainnya atau makhluk infrahuman karena hanya manusialah yang memiliki akal budi, pengetahuan dan ciri atau kekhasan tersendiri. Sebagai makhluk rasional, manusia senantiasa berpikir, berefleksi dan menyadari eksistensi dirinya di tengah keberadaannya bersama yang lain. Atau dengan kata lain, manusia mempunyai kemampuan mencerna pengalaman, merenung, merefleksi, menalar dan meneliti dalam upaya memahami lingkungannya.

Baca Juga  Bacaan Imalah dalam Qira’ah Sab’ah

Kedua, manusia memiliki kebebasan, kedaulatan dan sikap otonom yang menyebabkan manusia sanggup menghasilkan sesuatu yang baru, manusia bebas untuk memilih, melakukan dan menentukan pilihan terhadap apapun terkait dirinya. Berbeda dengan makhluk infrahuman yang serba tergantung dan terikat, tidak berdiri sendiri dan tidak memiliki kedaulatan. Makhluk infrahuman terdeterminasi oleh kondisi internalnya seperti naluri dan kondisi eksternalnya seperti lingkungan. Semakin rendah kedudukannya, maka semakin terikat juga gerak-geriknya pada barang-barang sekitarnya dan semakin terbatas ke-otomiannya. Otonomi inilah yang memungkinkan manusia mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Dan yang ketiga, makhluk infrahuman tidak mampu mengadakan koreksi dalam perbuatannya. Lain halnya dengan manusia yang selalu dapat mengadakan kombinasi-kombinasi baru yang dapat mengubah perbuatannya dan mampu menyempurnakan aksinya. Manusia tidak pernah meminta pertanggung jawaban dari seekor hewan mengenai perbuatannya. Begitu pun dengan hewan, tidak mempunyai moral atau tanggung jawab karena tidak mengerti atau memaklumi perbuatannya sendiri.

Dalam hal ini, Muthahhari berpendapat dengan menyebutkan perbedaan manusia dengan makhluk lainnya seperti halnya binatang, yaitu: Pertama, kesadaran Binatang akan lingkungannya sepenuhnya diperoleh melalui indra-indra luarnya, dan sebab itu bersifat luaran (eksternal) dan dangkal, tidak menjangkau esensi dan seluk beluk objek kesadaran.

Kedua, bersifat individual dan khusus, tanpa kemampuan menggeneralisasikannya. Ketiga, bersifat local dan terbatas pada lingkungannya saja. Dan yang ke-empat, bersifat langsung atau segera, terbatas pada masa kini, tercerai dari masa lalu dan masa depan.

Pada intinya dalam ilmu mantiq, perbedaan antara manusia dan makhluk infrahuman terletak pada kemampuan rasionalitas dan akal budi yang dimiliki manusia. Manusia dianggap sebagai makhluk yang memiliki akal budi dan kemampuan berpikir rasional, sedangkan makhluk infrahuman dianggap tidak memiliki kemampuan tersebut secara sepenuhnya. Rasionalitas manusia dapat memungkinkan mereka untuk menggunakan logika dan berpikir secara lebih kompleks dalam menentukan tindakan dan pengambilan keputusan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *