Hadramaut dengan Khas Fikih Ibnu Hajar-nya

  • Bagikan
Hadramaut dengan Khas Fikih Ibnu Hajar-nya

Oleh: Ach. Faraj Fuady

(Mahasiswa smt. 5 Al Ahqqaf University Hadhramaut, Yaman. Faculty of Sharea and Law)

Selain dikenal dengan Bumi Wali, Hadramaut juga dikenal dengan para ahli fikihnya. Dalam fikihnya, Hadramaut mengikuti mazhab Syafii. Bertasawuf dengan mengikuti Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid Al-Baghdadi. Bertarekat dengan mengikuti Imam Muhajir Ahmad bin Isa, atau dikenal dengan sebutan “Thariqah Alawiyah”. Berakidah dengan mengikuti mazhab Imam Asy’ari dan Imam Al-Maturidi.

Perkembangan fikih Syafii di bumi Hadramaut mempunyai perkembangan yang sangat pesat. Hal ini dikarenakan banyak faktor yang melatarbelakanginya, di antaranya: Sabda Nabi Muhammad saw., “Al-Fiqhu Yamaan.”; dan banyaknya ulama Hadramaut yang mempunyai perhatian khusus kepada fikih Syafii, terutama fikih yang dikembangkan oleh Imam Ibnu Hajar, sampai-sampai mereka dijuluki dengan sebutan “Hajariyuun”.

Dalam dunia fikih, yang dimaksud dengan Imam Ibnu Hajar adalah Imam Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al-Haitami (wafat pada 974 H). Beliau adalah pengarang kitab “Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj”. Beliau juga hidup sezaman dengan Syamsuddin Muhammad Ar-Ramli atau biasa disebut dengan “Ramli Shoghir” (wafat pada 1004 H), sang pengarang kitab “Nihayatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj”. Kedua ulama tersebut mempunyai jasa besar dalam mazhab Syafii pada periode kelima, yaitu periode Pengokohan Mazhab.

Mereka berdua juga menyaring pendapat yang kuat antara Imam An-Nawawi dan Imam Ar-Rafi’i. Bila terjadi pertentangan pendapat antara Ibnu Hajar dengan Imam Ramli, ulama Hadramaut dan Hijaz mendahulukan pendapat Ibnu Hajar, sedangkan Mesir dan Syam mendahulukan Imam Ramli.

Alasan mengapa ulama Hadramaut mendahulukan pendapat Ibnu Hajar dalam kitabnya, Tuhfah misalnya daripada Imam Ramli dalam kitabnya, Nihayah; di antarnya adalah: Banyaknya keselarasan dengan teks-teks imam, ketangkasan mualif dalam menulis kitab Tuhfah-nya, dan banyaknya ulama ‘muhaqqiqin’ yang membaca kitab tersebut. Di sisi lain, karena kesukaan Ibnu Hajar kepada orang-orang sufi dan orang-orang zuhud. Beliau adalah ahli dalam ilmu hadis, dan pastinya juga mempunyai kecakapan dalam ilmu fikih.

Dalam memilah pendapat-pendapat muktamad yang beredar di kitab-kitab Ibnu Hajar, mereka mengurutkannya. Memilih kitab Tuhfah terlebih dahulu, lalu Fathul Jawad, Al-Imdad, Al-Minhajul Qowim, Fatawa Ibnu Hajar, dan Syarhu Al-Ubab. Atau lebih mudah dalam mengingatnya adalah dengan menghafal gubahan nazam Syaikh Ali bin Abdurrahim ba Katsir:

و شاع ترجيح مقال ابن حجر * في يمن وفي الحجاز فاشتهر

و فى اختلاف كتبه في الرجح * الأخذ بالتحفة ثم الفتح

فأصله لا شرحه العبابا * اذ رام فيه الجمع و الايعابا

Julukan “Hajariyun” disematkan kepada ulama Hadramaut dikarenakan mempunyai kedekatan yang amat dekat dengan Ibnu Hajar, dan mempunyai sumbangsih besar kepada kitab-kitabnya, terutama kitab Tuhfah Al-Muhtaj.

Di antara ulama Hadhramut yang mempunyai hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Ibnu Hajar:

  • Al-‘Alamah Al-Kabir As-Syekh Abdurrahman bin Umar al-Amudi (wafat 967 H). Pada waktu Syekh Abdurrahman berada di Makkah, ia selalu bersama dengan Ibnu Hajar, sehingga membuat Ibnu Hajar jatuh cinta kepada bumi Hadramaut. Dari kecintaan itulah, terwujud kitab “Al-Minhajul Qowim fi Syarhi Masail at-Ta’lim li Syaikh Abdullah bin Abdurrahman ba Fadhal”.
  • As-Syaikh Al-Imam Abdullah bin Umar Ba Mahramah (Syafii kecil Hadramaut, yang sudah kami paparkan di tulisan sebelumnya). Pada waktu Syekh ba Mahramah bertemu dengan Ibnu Hajar di Makkah, ia mengajak Ibnu Hajar untuk berdiskusi sebuah ilmu. Akan tetapi ajakan itu ditolak oleh Ibnu Hajar, karena Ibnu Hajar tau akan kecerdasan Syekh ba Mahramah. Dan masih banyak ulama yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Di samping mempunyai hubungan kekerabatan dengan Ibnu Hajar, juga banyak ulama Hadramaut yang meringkas dan mensyarahi kitab-kitab Ibnu Hajar, di antaranya:

  • Hasyiah Tuhfahtul Muhtaj dan Hasyiah Fathul Jawad, Syaikh Abdullah bin Said ba Qusyair (wafat pada 1076 H).
  • Ta’liqat Tuhfal Muhtaj, Sayid Muhammad Hamid As-Segaf (wafat pada 1338 H).
  • Mukhtasar Tuhfatul Muhtaj, Syekh Ali bin Umar bin Qhodi ba Katsir.
  • Fathul Ali bi Dzikri Khilaf baina Ibnu Hajar wa Ramli, Sayid Umar bin Hamid ba Faraj.
  • Mukhtar li Masail Tuhfatul Muhtaj, Dr. Musthafa Bin Hamid bin Hasan bin Smith (dosen Universitas Al-Ahgaff).

Di antara murid-murid Ibnu Hajar yang berasal dari Hadramaut:

  1. Sayid Syaikh bin Abdullah Al-Aydrus.
  2. Syaikh Abdurrahman Sirajuddin ba Jamal.
  3. Sayid Muhammad bin Hasan ba Alawi.
  4. Syaikh Ali Bazaid.
  5. Sayid Abu bakar Bin Abdullah bin Ali Aidi ba Alawi.
  6. Syaikh Said bin Ya’qub.

Sebagai penutup, ada salah satu Wasiat yang amat berharga dari Ibnu Hajar kepada Sayid Abu Bakar bin Abdullah bin Ali Aidi ba Alawi:

إن أصل كل عبادة و الأساس المبني عليه كل زيادة هو إخلاص الأعمال و الأفعال والأقوال.

“Sesungguhnya pokok segala ibadah dan dasar pondasi dari setiap tambahan (keutamaan) adalah ikhlas dalam beramal, berperilaku, dan berkata.”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *