Opini  

Filsafat Sejarah ‘Cakra Manggilingan’


Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/dawuhgur/domains/dawuhguru.co.id/public_html/wp-content/themes/wpberita/template-parts/content-single.php on line 98

Oleh: Mohammad Fauzan Baihaqi

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya prodi Aqidah dan Filsafat Islam

Filsafat sejarah merupakan satu cabang dari ilmu filsafat yang menjadikan sejarah sebagai obyek kajiannya, fisafat sejarah membahas tentang esensi dari sejarah atau bagaimana proses sejarah berjalan. Dalam kebudayaan Jawa, ada satu konsep yang masuk dalam kategori filsafat sejarah, yakni Cakra Manggilingan yang makna sederhananya adalah segala sesuatu pasti berputar. Dalam cerita pewayangan, cakra dikenal sebagai senjata Sri Kresna berbentuk bundar, pipih, dan tajam. Senjata ini dinamakan senjata ‘kalacakra’. Esensi dari cakra manggilingan adalah pergerakan waktu, perubahan sejarah, perubahan zaman. Perubahan-perubahan yang terjadi selalu menjadi kodrat manusia, baik dari hari ke hari, bulan ke bulan maupun tahun ke tahun. Konsepsi waktu memegang peranan yang sangat penting bagi kehidupan.

Secara lebih luas, cakra manggilingan menyimpan filosofi atau keyakinan tentang berputarnya roda kehidupan baik mikro (manusia) maupun makro (alam semesta). Demikian pula dengan berputar dan terbatasnya periode zaman serta lamanya sebuah kekuasaan atau peradaban. Maka penting untuk memiliki pemahaman spiritual akan cakra manggilingan ini, karena dengan begitu kita bisa selalu siap akan keadaan, baik atau buruknya. Dengan memahami esensi cakra manggilingan, seseorang bisa mempersiapkan diri untuk tidak larut dalam kebahagiaan atau kesedihan yang sedang dihadapi

Ada beberapa pendapat tentang proses sirkulasi kehidupan manusia atau sejarah secara umum, paling tidak kita kenal ada tiga pendapat:

Pertama, mereka yang berpandangan bahwa sejarah atau waktu berjalan terus maju (liniar). Paham ini banyak dianut oleh kebanyakan filosof barat modern, seperti Francis Bacon, Auguste Comte, Hegel, Santo Augustinus, Karl Marx. Seperti pendapat Santo Agustinus yang mengatakan bahwa “Hakikat teori sejarah adalah suatu gerak yang tumbuh dan berkembang secara revolusi, karena menggambarkan peristiwa sejarah masa lampau secara kronologis”. Jadi, sejarah sebenarnya mempunyai suatu permulaan dan mempunyai akhir. Sejarah sebagai wujud kehendak Tuhan ialah bahwa manusia tidak bebas menentukan nasibnya sendiri. Ia menerima nasib dari Tuhan, apa yang diterima sebagai kehendak Tuhan. Tuhan sudah menentukan perjalanan hidup yang sudah ditentukan-Nya dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Baca Juga  Bahasa Gaul Meradang Pemuda Bangsa Terjerumus dalam Jurang Kelalaian

Hal ini juga senada dengan yang disampaikan oleh Karl Marx. Sejarah dalam pandangan Karl Marx bersifat progres atau linier. Disebutkan dalam manifesto komunis bahwa sejarah umat manusia dulu dan kini merupakan sejarah pertentangan kelas dimana motor perubahan dan perkembangan masyarakat adalah pertentangan kelas. Fase perkembangan sejarah masyarakat menurut Marx dimulai dari masyarakat komunal primitif, masyarakat feodal, masyarakat yang sistemnya kapitalisme, masyarakat sosialis dan terakhir adalah masyarakat komunis.

Kedua, mereka yang memiliki pandangan bahwa sejarah atau waktu tidak selamanya hanya berjalan maju, tapi juga mundur (regress). Ada beberapa tokoh filsafat sejarah yang memiliki atau mendukung bahwa sejarah juga bisa bersifat mundur, seperti: Bernard Shaw, Fritjof Capra, Sayyed Hussein Nasr. Sebagai gambaran tentang pandangan ini, maju dan modernnya zaman bukan hanya membawa kemajuan yang cepat dalam perkembangan keilmuan dan teknologinya saja, akan tetapi dari segi moral, religi, serta norma dalam menjaga dan menghormati alam semakin buruk dan bahkan mengalami kemunduran. Sehingga dalam paham ini, dari segi spiritual dan moral justru waktu dan sejarah manusia dalam titik ini mengalami regress.

Ketiga, adalah mereka yang berpandangan bahwa sejarah bersifat melingkar (spiral). Diantara tokoh yang mendukung teori ini adalah Ibn Khaldun. Ibn Khaldun memberikan gambaran tentang pandangannya terhadap perputaran sejarah atau waktu dengan mengemukakan permisalan bahwa sebuah negara setiap kali mencapai klimaks kejayaannya, seiring itu pula akan memasuki masa senja dan mulai mengalami keruntuhan untuk digantikan oleh negara baru. Kemudian negara baru itu tidaklah mulai dari nol, tetapi dengan mengambil sebagian dari peninggalan, warisan, dan tradisi negara yang lama. Negara baru itu melengkapinya, menciptakan kebudayaan yang lebih maju dan berbeda dari negara sebelumnya. Meskipun memang pada mulanya perbedaannya tidak begitu kontras, namun lama kelamaan akan terlihat perbedaannya.

Baca Juga  Seni Bersosial ala Ahnaf bin Qais

Gerak perkembangan menurut Khaldun berarti gerak ke depan dan tak terbatas, serta selalu bertujuan pada kerentanan dan kerusakan. Seperti sejarah yang tercatat bahwa Nusantara pada era Majapahit sampai Mataram kuno mampu menguasai berbagai wilayah di belahan dunia, kemudian pada saat ini banyak menguasai peradaban. Pandangan seperti yang dipahami oleh Ibn Khaldun yang menyatakan bahwa waktu itu berjalan melingkar, inilah yang kemudian oleh masyarakat Jawa diistilahkan dengan ‘Cakra Manggilingan’.

Cakra manggilingan merupakan perputaran atau siklus hidup bagi kehidupan, baik dalam skala mikro (jagad cilik) yaitu terkait nasib atau perputaran waktu yang dialami setiap individu, juga secara makro (jagad gedhe) yang terkait siklus alam, siklus kehidupan dalam arti luas. Secara falsafi, cakra manggilingan bisa diterjemahkan sebagai proses dinamika yang terus berjalan selalu berubah dan saling berganti-ganti, atau dalam masyarakat Jawa sering diistilahkan dengan “owah gingsir gilir gumanti, wolak walik e jaman”. Cakra manggilingan juga bisa dimaknai tentang bagaimana masyarakat Jawa melihat, membaca dan gerak zaman atau waktu (sejarah).

Dalam Serat Kalatida, Ronggowarsita memberikan gambaran perputaran makrokosmos kehidupan dengan tiga istilah, Kalatida, kalabendhu, kalasuba. Kalatida adalah zaman egoisme, artinya ketika manusia mengedepankan ego dan meninggalkan nilai-nilai kebenaran. Perasaan seperti ini, menurut Ronggowarsito justru sering dan mudah muncul pada saat manusia atau kelompok masyarakat sedang berada dipuncak kesuksesan, kekayaan kekuasaan dan proses hidup yang stabil. Ketika Kalatida semakin tidak terkendali, maka akan terjadi zaman Kalabendu. Adalah Ronggowarsito yang menggambarkan ini seperti zaman wolak-walik (bolak-balik) atau zaman edan. Akan tetapi, karena Ronggowarsito termasuk tokoh yang meyakini bahwa siklus zaman bersifat cakra manggilingan. Akan hadir zaman dimana siklus Kalabendu akan selesai dan berganti dengan zaman Kalasuba atau pencerahan (aufklarung). Zaman Kalasuba ini ditandai dengan lahirnya atau hadirnya tokoh luar biasa yang mampu memberikan pencerahan kepada manusia.

Baca Juga  Gus Muwafiq di Mata Ulama

Efek baik dari keyakinan bahwa zaman atau waktu memiliki siklus berputar atau cakra manggiligan adalah agar kita memiliki keyakinan bahwa akan ada masa cerah ketika kita mengalami masa-masa keterpurukan atau bahkan kegelapan. Asalkan kita tetap eling lan waspada. Dalam arti segala sikap dan tingkah laku kita tetap terkendali dan tidak gelap mata sehingga akan memperpanjang atau bahkan memperburuk keadaan yang sudah buruk. Sebaliknya ketika berjalan dalam cahaya kesuksesan, kekuasaan, kemewahan, maka harus tetap mengendalikan diri agar kemudian tidak lalai apalagi larut dalam sombong dan meremehkan keadaan orang lain. Karena pada waktu tertentu, kemudian kita pun akan tetap bertemu dengan kegelapan. Konsep cakra manggilingan adalah konsep hidup keseimbangan, saling menjaga dan tetap ingat, waspada sehingga tetap mampu mengendalikan diri dalam keadaan apapun. Tidak akan larut ketika dalam suasana sedih dan tidak jumawa ketika dalam keadaan bahagia, yang dalam masyarakat Jawa ada istilah “Menang ora umuk, kalah ora ngamuk” (ketika menang tidak sombong, ketika kalah tidak bertindak brutal).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *