Dawuh Mbah Arwani Kudus

Dawuh Mbah Arwani Kudus

Kehidupan ini penuh dengan hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari para ulama besar, salah satunya adalah Mbah KH. Arwani Amin Al-Qudsi dari Kudus. Beliau telah meninggalkan warisan spiritual berupa Dawuh yang kaya akan nilai dan makna. Berikut adalah beberapa intisari dari Dawuh tersebut yang dapat dijadikan bimbingan dalam kehidupan sehari-hari:

Kesyukuran: “Jadi orang harus bisa bersyukur.” Kita diajarkan untuk selalu bersyukur dalam segala keadaan. Kesyukuran membuka pintu hati kita terhadap berbagai kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupan.

Belajar dengan Usaha:

“Kalau belajar jangan terlalu dipaksakan, yang penting berusaha.” Dalam menuntut ilmu, usaha dan ketekunan lebih penting daripada memaksakan diri. Proses belajar yang sehat adalah yang mengutamakan upaya dan ketekunan.

Penguasaan Materi:

“Jangan mengejar cepatnya, tapi kejarlah penguasaan.” Dalam belajar, fokus pada pemahaman mendalam lebih bermanfaat daripada hanya mengejar kecepatan tanpa menguasai materi.

Ketahanan Menghadapi Cobaan:

“Ingat, cobaan seseorang itu beda-beda.” Setiap orang memiliki cobaan dan ujian hidupnya sendiri. Penting untuk memahami dan menerima hal ini sebagai bagian dari proses kehidupan.

Doa untuk Guru:

“Setiap hari doakanlah guru/kyaimu.” Menghargai dan mendoakan guru merupakan tanda penghormatan dan terima kasih atas ilmu yang telah diberikan.

Ketahanan dalam Menghadapi Kesulitan:

“Jangan mudah mengeluh, semua mengalami cobaan.” Ketika menghadapi kesulitan, sikap sabar dan tidak mengeluh menjadi kunci.

Ziarah Makam:

“Makamku ziarahilah.” Ziarah makam para ulama merupakan bentuk penghormatan dan mengenang jasa-jasa mereka.

Kesopanan dalam Bergurau:

“Jangan kebanyakan bergurau.” Menjaga kesopanan dan keseimbangan dalam bergurau penting untuk menjaga harmoni sosial.

Konsistensi dalam Ibadah:

“Kalau beribadah istiqomahlah.” Konsistensi dan kekhusyukan dalam beribadah adalah kunci menuju keberhasilan spiritual.

Baca Juga  Dawuh Habib Jamal bin Thoha Baagil

Kehati-hatian dalam Beribadah:

“Shalatnya yang hati-hati.” Melakukan ibadah, khususnya shalat, dengan kehati-hatian dan khusyuk sangat dianjurkan.

Kehati-hatian dalam Berhajat:

“Kalau berhajat yang hati-hati.” Dalam setiap keinginan atau hajat, kita harus berhati-hati dan mempertimbangkan dengan bijak.

Kemurahan Hati kepada Orang Tua:

“Yang murah hati terhadap orangtua.” Menghormati dan berbakti kepada orang tua adalah salah satu bentuk kemurahan hati.

Kesabaran dan Kejelian:

“Jangan mudah tergesa-gesa.” Penting untuk bersabar dan berpikir dengan teliti dalam setiap tindakan.

Usaha dan Ketekunan:

“Siapa yang mau bergerak jangan takut tidak makan.” Usaha dan ketekunan akan membawa hasil, jangan takut untuk berusaha keras.

Pentingnya Tartil dalam Mengaji:

“Mulai sekarang setiap kali kamu mengaji supaya tartil.” Mengaji dengan tartil (membaca Al-Quran dengan perlahan dan tajwid yang baik) lebih utama daripada banyak tetapi tidak tartil.

Praktik Tartil dalam Mengaji:

“Mulai darisekarang dibiasakan yang tartil walau hanya dapat satu atau dua juz sehari.” Membiasakan diri mengaji dengan tartil, meskipun hanya sedikit, adalah lebih baik daripada banyak tetapi tidak tartil.

Kebiasaan dalam Mengaji dan Tartil:

“Jika terbiasa mengaji tartil, ingin mengaji cepat tentu bisa. Tapi sebaliknya jika terbiasa mengaji cepat, bahayanya jika disuruh mengaji tartil tentu tidak bisa jalan.” Pentingnya membangun kebiasaan mengaji dengan tartil.

Dawuh Mbah Arwani Kudus

Dawuh Mbah KH. Arwani Amin Al-Qudsi ini mengajarkan kita tentang pentingnya kesabaran, kehati-hatian, konsistensi, dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan. Pelajaran-pelajaran ini dapat menjadi panduan bagi kita untuk mengarungi kehidupan dengan lebih bijak dan penuh makna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *