Dawuh Gus Rifqil Muslim tentang Dakwah

Sumber : Google

“Dakwah itu ajakan, maka ajaklah dengan elegan dan ajaklah tanpa paksaan.”

Gus Rifqil Muslim Suyuthi

Dakwah adalah salah satu tugas mulia yang diemban oleh setiap Muslim. Dakwah berarti mengajak orang lain kepada jalan kebenaran dan cahaya Islam. Namun, cara mengajak ini haruslah dilakukan dengan elegan dan tanpa paksaan. Seperti dalam kutipan “Dakwah itu ajakan, maka ajaklah dengan elegan dan ajaklah tanpa paksaan,” kita diajak untuk memahami esensi dakwah yang sesungguhnya—mengajak dengan hikmah, kebaikan, dan tanpa kekerasan.

Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125). Ayat ini menekankan bahwa dakwah harus dilakukan dengan hikmah, yang berarti kebijaksanaan, dan pelajaran yang baik. Mengajak dengan hikmah berarti memahami situasi dan kondisi orang yang diajak, serta menggunakan cara-cara yang tepat untuk menyampaikan pesan.

Rasulullah SAW adalah contoh terbaik dalam berdakwah dengan elegan dan tanpa paksaan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” Hadits ini mengajarkan bahwa pahala dakwah tidak hanya didapatkan oleh orang yang mengajak, tetapi juga oleh orang yang mengikuti ajakan tersebut. Namun, agar ajakan tersebut efektif, harus dilakukan dengan cara yang baik dan bijaksana.

Dalam sejarah Islam, Rasulullah SAW selalu menggunakan pendekatan yang lembut dan penuh kasih sayang dalam berdakwah. Ketika beliau diutus kepada umat manusia, beliau tidak memaksa mereka untuk menerima Islam, tetapi mengajak dengan kelembutan hati dan keteladanan yang baik. Salah satu contoh yang terkenal adalah ketika Rasulullah SAW berdakwah kepada penduduk Taif. Meskipun beliau mendapatkan penolakan dan bahkan disakiti, beliau tetap bersabar dan mendoakan kebaikan bagi mereka.

Pendekatan ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan kebebasan berkeyakinan. Allah SWT berfirman, “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah: 256). Ayat ini menegaskan bahwa dalam Islam, tidak ada paksaan dalam beragama. Setiap individu diberi kebebasan untuk memilih jalannya sendiri, dan tugas dakwah adalah menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik dan bijaksana.

Salah satu tokoh Indonesia yang dikenal dengan pendekatan dakwah yang elegan adalah Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Beliau adalah seorang ulama, sastrawan, dan intelektual yang dihormati. Dalam berbagai kesempatan, Buya Hamka selalu menekankan pentingnya berdakwah dengan hikmah dan kelembutan. Beliau pernah berkata, “Keindahan Islam tidak hanya tampak dalam ibadah, tetapi juga dalam akhlak dan perilaku sehari-hari.” Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa cara terbaik untuk berdakwah adalah dengan menunjukkan akhlak yang baik dan menjadi teladan dalam setiap aspek kehidupan.

Pendekatan dakwah yang elegan dan tanpa paksaan juga relevan dalam konteks modern, di mana media sosial dan teknologi komunikasi menjadi sarana utama untuk menyebarkan pesan. Dalam menggunakan media sosial untuk dakwah, kita harus tetap mengedepankan etika dan akhlak yang baik. Menyebarkan pesan dengan cara yang sopan, menghormati perbedaan pendapat, dan menghindari konten yang provokatif atau merendahkan adalah kunci untuk berdakwah secara efektif di era digital.

Selain itu, penting untuk memahami bahwa dakwah bukan hanya tentang menyampaikan pesan agama, tetapi juga tentang membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya membangun ukhuwah atau persaudaraan dalam berdakwah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya (dalam kesulitan). Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.” Hadits ini mengajarkan kita untuk selalu mendukung dan membantu sesama Muslim, serta membangun hubungan yang harmonis dalam berdakwah.

Pendekatan yang elegan dalam dakwah juga berarti menghormati kebudayaan dan tradisi lokal. Di Indonesia, dengan keberagaman budaya dan suku bangsa, dakwah harus dilakukan dengan menghormati kearifan lokal dan adat istiadat yang ada. KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, adalah contoh tokoh yang berhasil menyebarkan dakwah Islam dengan cara yang elegan dan menghormati budaya lokal. Beliau tidak hanya fokus pada pengajaran agama, tetapi juga pada pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Pendekatan ini membuat dakwah Islam diterima dengan baik di berbagai kalangan.

Dalam berdakwah, penting untuk memiliki empati dan memahami kondisi serta kebutuhan orang yang diajak. Rasulullah SAW selalu berusaha memahami kondisi umatnya dan memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Contohnya, ketika ada seorang sahabat yang meminta nasihat, Rasulullah SAW memberikan nasihat yang berbeda sesuai dengan karakter dan kondisi masing-masing sahabat. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah harus disesuaikan dengan konteks dan kondisi orang yang diajak.

Di era globalisasi ini, dakwah juga harus mencerminkan nilai-nilai universal yang diajarkan oleh Islam, seperti keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan. Islam mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki hak dan martabat yang harus dihormati. Dalam berdakwah, kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai ini dan menghindari segala bentuk diskriminasi dan ketidakadilan.

Dalam Surah Al-Imran ayat 104, Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” Ayat ini menegaskan bahwa dakwah adalah tugas bersama dan harus dilakukan dengan cara yang baik dan bijaksana. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran harus dilakukan dengan penuh hikmah dan kesabaran.

Selain menggunakan pendekatan yang elegan, penting juga untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas dakwah. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung.” Hadits ini mengajarkan kita untuk selalu berusaha menjadi lebih baik dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam berdakwah.

Sebagai penutup, dakwah adalah tugas mulia yang harus dilakukan dengan penuh hikmah, kesabaran, dan kelembutan. Mengajak dengan elegan dan tanpa paksaan adalah kunci untuk menyampaikan pesan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, membawa rahmat bagi seluruh alam. Dengan mengikuti teladan Rasulullah SAW dan para ulama, serta menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, kita dapat menjalankan dakwah dengan cara yang efektif dan bermartabat. Semoga kita semua diberikan kekuatan dan kebijaksanaan untuk menyebarkan kebenaran Islam dengan cara yang baik dan bijaksana.

Rekomendasi